GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Batam Darurat Sampah, Bukti Gagalnya Paradigma Pembangunan Sekuler

Batam Darurat Sampah, Bukti Gagalnya Paradigma Pembangunan Sekuler

Oleh: Eny Muazizah
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)

Darurat sampah yang terus menghantui Kota Batam bukanlah fenomena baru. Namun ketika Wali Kota Batam secara terbuka mengakui bahwa persoalan sampah adalah “pekerjaan rumah yang belum terselesaikan." Pernyataan itu sejatinya menjadi alarm keras bahwa kota dengan citra modern, industri, dan pariwisata ini sedang menghadapi krisis yang jauh lebih substansial. Ini bukan sekadar soal teknis kebersihan kota—melainkan bukti kegagalan paradigma pembangunan sekuler yang dijadikan dasar dalam mengelola ruang hidup masyarakat.

Krisis sampah yang tak kunjung tuntas menunjukkan bahwa pembangunan yang bertumpu pada orientasi pertumbuhan ekonomi dan investasi, tanpa pijakan nilai kemaslahatan, justru menghasilkan kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan rendahnya kualitas hidup warga. Batam kini menjadi contoh nyata bagaimana model pembangunan sekuler gagal menjamin keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia.

Sampah Batam: Krisis Sistemik yang Membuka Borok Pembangunan Sekuler

Setiap tahun, volume sampah Batam meningkat mengikuti pola nasional yang mencapai 3–5 persen. Namun peningkatan ini tidak diimbangi dengan kapasitas pengelolaan yang memadai. Atas nama modernisasi, kota diperluas, industri digerakkan, kawasan dibangun—namun tata kelola lingkungan dibiarkan tertatih.

Setidaknya ada tiga akar masalah besar yang mempertegas kegagalan paradigma pembangunan sekuler:

1. Kesadaran masyarakat rendah akibat lemahnya sistem nilai

Model pembangunan sekuler otomatis memarginalkan nilai spiritual sebagai pilar perubahan perilaku. Akibatnya, kesadaran menjaga lingkungan bergantung semata pada regulasi administratif yang lemah. Masyarakat tidak menjadikan kebersihan sebagai amanah, tetapi sekadar urusan pemerintah.

Padahal Rasulullah saw. telah menegaskan:
“Kebersihan itu bagian dari iman.” (HR. Muslim)

Namun, tanpa sistem yang menumbuhkan iman publik, kesadaran ini tidak pernah mengakar.

2. Infrastruktur dan fasilitas pemerintah tertinggal jauh dari tuntutan kota modern

Armada pengangkut sampah yang sering rusak, jumlah kendaraan yang terbatas, minimnya teknologi pengolahan, hingga kurangnya fasilitas daur ulang adalah bukti bahwa pembangunan kota lebih fokus pada sektor yang menguntungkan investor, bukan kebutuhan vital publik.

Yang paling ironis, petugas kebersihan—pahlawan kebersihan kota—masih jauh dari kata sejahtera, meski mereka memikul pekerjaan paling berat dalam rantai pengelolaan sampah. Paradigma sekuler yang memuja efisiensi anggaran tetapi menekan kesejahteraan pekerja membuat profesi vital ini tidak dihargai secara layak.

3. Ketiadaan sanksi tegas bagi perusak lingkungan

Pembangunan sekuler yang mengutamakan kebebasan individu dan kepentingan ekonomi sering mengabaikan prinsip ketegasan hukum. Akibatnya, perilaku membuang sampah sembarangan, penggunaan plastik berlebihan, hingga pencemaran lingkungan terus terjadi—tanpa efek jera.

Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan keras:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Larangan ini bukan hanya pesan moral, tetapi prinsip hukum. Namun dalam paradigma sekuler, kebijakan lingkungan sering tidak memiliki "taring".

Paradigma Pembangunan Sekuler: Akar Rusaknya Tata Kelola Lingkungan

Gagalnya pengelolaan sampah Batam menunjukkan cacat mendasar dalam paradigma sekuler: pembangunan dipahami sebagai pertumbuhan fisik dan ekonomi, bukan pembangunan manusia dan lingkungan. Keberlanjutan ekologis dianggap isu sampingan. Kemaslahatan publik dipandang sebagai tanggung jawab minimal, bukan tujuan utama.

Dalam logika sekuler:

Investasi lebih penting daripada kesehatan lingkungan, kemudahan usaha lebih prioritas daripada kebersihan kota, efisiensi anggaran lebih utama daripada kesejahteraan petugas kebersihan, pembangunan fisik mengalahkan penguatan moral masyarakat.

Maka tak heran jika problem sampah menjadi kronis dan tak pernah selesai.

Islam Menawarkan Paradigma Alternatif yang Lebih Kokoh

Islam menghadirkan paradigma pembangunan yang bukan hanya teknis, tetapi spiritual-ideologis.

Tiga prinsip utamanya adalah:

1. Kemaslahatan umat sebagai tujuan pembangunan, bukan sekadar keuntungan ekonomi.
2. Negara sebagai pelaksana amanah, bukan sekadar pengelola anggaran.
3. Manusia sebagai khalifah, bertanggung jawab menjaga bumi, bukan mengeksploitasinya.

Nabi saw. bersabda:
“Dunia ini hijau dan indah, dan Allah telah menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.” (HR. Muslim)

Artinya, merusak lingkungan—termasuk melalui tata kelola sampah yang buruk—adalah bentuk pelanggaran amanah.

Solusi: Perubahan Sistemik, Bukan Sekadar Penambahan Armada

1. Transformasi mindset melalui edukasi berbasis nilai Islam. Kesadaran lingkungan harus ditanamkan sebagai bagian dari iman, bukan sekadar imbauan administratif.

2. Penegakan hukum yang tegas terhadap pencemaran. Tidak cukup dengan himbauan; diperlukan sanksi yang konsisten dan mengikat.

3. Negara wajib memfasilitasi infrastruktur modern. Armada sampah, teknologi daur ulang, dan pengolahan terpadu harus menjadi prioritas strategis.

4. Reformasi tata kelola lahan dan ruang kota. Agar masyarakat dapat berperan dalam pemilahan dan pengolahan sampah tingkat rumah tangga.

5. Kesejahteraan petugas kebersihan sebagai prioritas. Islam mewajibkan upah yang adil dan pekerjaan yang manusiawi. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan prinsip keadilan sosial.

6. Paradigma pembangunan harus kembali berorientasi pada kemaslahatan, bukan profit. Tanpa perubahan paradigma, krisis sampah akan terus berulang—meski fasilitas diperbaiki.

Penutup: Batam Butuh Transformasi Paradigma, Bukan Sekadar Program Tambal Sulam

Darurat sampah Batam tidak akan terselesaikan selama pembangunan tetap berlandaskan paradigma sekuler yang memisahkan urusan dunia dari nilai-nilai ketakwaan dan amanah. Islam menawarkan paradigma yang lebih kokoh, menyatukan pembangunan fisik, kemaslahatan publik, dan keberlanjutan lingkungan.

Saatnya Batam beranjak dari retorika menuju transformasi.
Karena kebersihan kota bukan hanya persoalan estetika—ia adalah indikator peradaban dan cermin amanah penguasa.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin