Oleh: Siti Sri Fitriani
(Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok)
Sudan, negeri Muslim terbesar ketiga di benua Afrika kembali menjadi ladang darah dan air mata. Dalam beberapa bulan terakhir, konflik bersenjata antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) kembali pecah dan menelan ribuan korban jiwa. Ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi, sementara laporan pembunuhan massal dan pemerkosaan terus bermunculan dari berbagai wilayah seperti Darfur dan El-Fasher.
Negeri ini sejatinya bukan negara miskin. Sudan memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa — produsen emas terbesar di dunia Arab, dan lahan subur yang luas, piramida lebih banyak daripada Mesir, dan Sungai Nil yang lebih panjang mengalir melintasinya. Namun, di balik potensi besar itu, rakyat Sudan justru hidup dalam krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Konflik Sudan bukan sekadar perang etnis antara kelompok militer. Di baliknya, tersimpan tarik-menarik kepentingan geopolitik global, terutama antara Amerika Serikat dan Inggris beserta sekutu-sekutunya, termasuk Zionis Israel dan Uni Emirat Arab (UEA).
Kedua kekuatan Barat ini berlomba memperebutkan pengaruh politik di Sudan karena posisinya yang sangat strategis yakni berada di antara Laut Merah dan Sungai Nil, dekat dengan kawasan Timur Tengah, serta menjadi jalur penting bagi perdagangan dan sumber energi dunia. Sudan juga merupakan salah satu titik kunci dalam “Proyek Timur Tengah Baru” (New Middle East Project) yang diinisiasi Amerika Serikat untuk menata ulang kawasan sesuai kepentingan Barat.
Tak heran, setiap upaya rekonsiliasi di Sudan selalu diwarnai intervensi asing. Lembaga-lembaga internasional dan aturan global yang seolah “netral” sesungguhnya berfungsi menjaga dominasi dan hegemoni negara-negara adidaya atas negeri-negeri Muslim yang kaya sumber daya.
Dengan kata lain, konflik Sudan bukan semata persoalan internal, tapi bagian dari permainan besar perebutan SDA dan pengaruh politik global. Sementara itu, rakyat Sudan hanya menjadi korban dari proyek kolonialisme gaya baru yang terus berulang.
Sudan sejatinya bisa menjadi negara maju dan mandiri jika kekayaan alamnya dikelola untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Namun realitasnya, hasil tambang emas, minyak, dan sumber air yang melimpah justru menjadi ajang eksploitasi asing.
Sistem kapitalisme global yang diterapkan di Sudan membuat negeri ini hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi industri negara-negara Barat. Hasil kekayaannya tak pernah dinikmati oleh rakyat, melainkan mengalir ke perusahaan multinasional dan elite politik korup yang berafiliasi dengan kepentingan asing. Akibatnya, Sudan tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan, konflik, dan ketergantungan.
Sudah saatnya umat Islam tidak memandang konflik Sudan sebagai peristiwa regional semata. Umat harus naik level berpikirnya, memahami bahwa seluruh krisis yang melanda negeri-negeri Muslim — dari Palestina, Suriah, hingga Sudan — adalah manifestasi perang peradaban antara Islam dan ideologi non-Islam.
Barat dengan ideologi kapitalisme-sekulernya terus berusaha menancapkan pengaruh dan menghalangi kebangkitan Islam. Mereka paham, jika negeri-negeri Muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam yang kuat, dominasi mereka akan runtuh. Karena itu, konflik dan perpecahan terus dipelihara agar dunia Islam tetap lemah dan terpecah.
Krisis Sudan menjadi cermin bahwa sistem politik dan ekonomi sekuler hanya melahirkan kehancuran dan penderitaan. Satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan akar persoalan ini adalah sistem Islam, yang diterapkan secara menyeluruh dalam naungan Khilafah.
Khilafah akan mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan asing. Menegakkan keadilan dan melindungi rakyat dari penjajahan modern. Menyatukan negeri-negeri Muslim dalam satu kepemimpinan yang kuat sehingga tidak mudah dipecah oleh kekuatan Barat. Menjadi penjaga kedaulatan dan kehormatan umat, sekaligus mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.
Kesadaran ini harus menjadi dorongan iman bagi umat Islam untuk bersatu dan berjuang menegakkan sistem Islam yang akan mengakhiri dominasi Barat di negeri-negeri Muslim.
Sudan adalah potret nyata bagaimana negeri kaya bisa miskin, negeri beriman bisa terjajah, ketika sistem sekuler dan kapitalisme global dibiarkan mengatur kehidupan. Selama umat Islam masih terpecah dan bergantung pada sistem buatan manusia, tragedi seperti di Sudan akan terus berulang di berbagai penjuru dunia Islam.
Kini saatnya umat Islam bangkit dengan kesadaran ideologis bahwa hanya dengan kembali kepada Islam secara kaffah, persatuan, kemuliaan, dan kemerdekaan sejati dapat diwujudkan.[]


0Komentar