Part 1
(Pov: Silent Treatment, Fenomena massif berujung perceraian)
Oleh: Umi Syahidah
Perempuan itu mengulum senyum getir
Menatap foto lamanya 29 tahun yang lalu
Hatinya berbisik lembut
Duhai diriku, alangkah cantik dan bersinarnya dirimu dulu,
sangat berbeda denganku sekarang.
Ada nyeri di dada
Tapi ia sendiri tak tau dari sebab yang mana
Ia mengingat kembali keputusan berani yang ia ambil dulu
Mengakhiri masa lajang dengan pria gagah nan rupawan
Berharap merenda bahagia
Di atas pondasi cinta
Lalu hari berganti hari
Bulan berganti tahun
Pria gagah nan rupawan itu berubah sedikit demi sedikit namun pasti
Sebagaimana perubahan pada dirinya kini
Cinta yang dulu mereka rangkai begitu hangat dan indah
Berganti hari hari beku yang kian resah
Kehangatan dan keindahan itu sirna
Ditelan fakta semua akan memudar pada waktunya
Kemana perginya cinta mereka?
Aah, hatinya di persimpangan jalan
Antara menyudahinya atau bertahan
Sedangkan hari hari terasa menyesakkan
Ketika rumah tak lagi jadi tempat yang nyaman
Ia dan pasangan saling diam
Menambah salah faham yang tak berkesudahan
Sementara hati mereka saling terluka kian dalam
Ia mengingat ayah ibunya di kampung halaman
Ia ingat anak-anaknya butuh kasih ayahnya tersayang
Ia juga tidak lupa buruknya pandangan orang ketika rumahtangga karam
Lalu ia memejamkan mata
Sambil berkata pelan
Tuhan, maafkan...
Ternyata rumah tangga tidak cukup di bangun dengan cinta
Ia butuh pondasi agama dan sikap penghormatan terhadap pasangan
Agar bahagia yang ingin direnda, bukan sekedar didunia
Tetapi abadi hingga ke Jannah-Nya
Tuhan, pemilik keabadian
Kuatkan diri ini bertahan
Bukan karena anak
Bukan karena ayah ibu
Bukan karena takut pandangan orang
Tetapi bertahan karena kasih sayang Allah
Artikel ini telah ditayangkan di:
https://www.tanahribathmedia.com/2025/12/air-mata-rumat-tanggapart-1.html


0Komentar