GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Antara Koneksi dan Tekanan Psikologis: Mengulik Kesehatan Mental Pemuda di Era Digital

Antara Koneksi dan Tekanan Psikologis: Mengulik Kesehatan Mental Pemuda di Era Digital

Oleh: Hesti Nur Laili, S.Psi
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)

Era digital menjanjikan konektivitas tanpa batas bagi pemuda. Media sosial, gawai pintar, dan arus informasi yang cepat membuat generasi muda seolah selalu terhubung, kapanpun dan dimanapun. Namun, di balik koneksi tersebut, kini kian marak tekanan psikologis yang menjangkiti kaum pemuda. Berbagai penelitian dan laporan menunjukkan bahwa pemuda hari ini menghadapi lonjakan masalah kesehatan mental, mulai dari kecemasan, depresi, gangguan citra diri, hingga kecanduan digital.

Aisyah Djamil, S. Psi Psikolog Klinik Bunda Thamrin Banda Aceh mengungkapkan bahwa kecanduan gadget pada remaja saat ini menjadi sebuah tantangan besar bagi para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Bahkan tidak sedikit di antara anak-anak yang kecanduan tersebut mengalami banyak masalah psikologis. (rri.co.id, 26 April 2025).

Paparan media sosial yang intens membuat pemuda terus membandingkan diri dengan standar hidup yang tidak realistis. Linimasa dipenuhi citra kesuksesan, tubuh ideal, dan kebahagiaan instan, yang pada akhirnya memicu rasa tidak cukup, rendah diri, serta perasaan takut tertinggal (fear of missing out). Kondisi ini diperparah oleh budaya validasi digital, di mana harga diri sering diukur melalui jumlah likes, views, dan komentar.

Selain itu, fenomena cyberbullying menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental pemuda. Perundungan tidak lagi terbatas di ruang fisik, melainkan berlangsung tanpa henti di ruang digital. Komentar kasar, ujaran kebencian, hingga penghinaan meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Banyak kasus menunjukkan bahwa tekanan ini berujung pada stres berat, isolasi sosial, bahkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Para ahli kesehatan mental juga menyoroti bahwa persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari desain platform digital itu sendiri. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan atensi selama mungkin, mendorong konsumsi konten berlebihan, dan memperkuat emosi pengguna secara ekstrem. Psikolog menilai bahwa paparan terus-menerus terhadap konten yang memicu emosi, baik dalam bentuk kemarahan, ketakutan, maupun kecemburuan, akan membebani kondisi psikologis pemuda yang masih dalam fase pencarian jati diri.

Selain itu, mereka juga menegaskan bahwa solusi tidak cukup hanya dengan imbauan “bijak bermedia sosial”, tetapi harus ada perubahan sistemik. Karena mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, akar utama dalam masalah makin maraknya gangguan kesehatan mental yang menjangkiti kaum pemuda di era digitalisasi ini adalah sistem sekuler-kapitalisme.

Masalah kesehatan mental pemuda di era digital tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan produk dari sistem sekuler-kapitalisme yang mendominasi kehidupan modern. Sistem ini memisahkan nilai moral dan spiritual dari pengaturan kehidupan, sekaligus menjadikan keuntungan sebagai orientasi utama. Dalam konteks digital, manusia dipandang menjadi data, pasar, maupun komoditas.

Platform digital beroperasi dalam logika kapitalisme, dengan cara semakin lama pengguna bertahan, maka semakin besar keuntungan iklan yang dihasilkan. Akibatnya, algoritma tidak dirancang untuk menjaga kesehatan mental, melainkan untuk memaksimalkan keterikatan. Konten yang memicu kecemasan, sensasi, dan emosi ekstrem justru diprioritaskan karena dinilai lebih “menguntungkan”. Hingga akhirnya para pemuda terjebak dalam siklus konsumsi digital yang melelahkan secara psikologis.

Sistem sekuler juga gagal memberikan makna hidup yang utuh. Kesuksesan diukur secara material dan simbolik seperti: popularitas, kekayaan, dan pengakuan sosial. Pemuda didorong untuk terus “menjadi sesuatu” menurut standar pasar, bukan menurut nilai kebenaran dan kemanusiaan. Maka, ketika standar ini tidak tercapai, hal yang muncul pada diri pemuda adalah frustrasi, kecemasan, dan kehampaan batin.

Lebih jauh, sistem ini cenderung mengindividualisasi masalah. Gangguan mental diperlakukan sebagai kegagalan personal, bukan sebagai akibat lingkungan yang rusak. Inilah ironi besar sekuler-kapitalisme. Sistem ini menciptakan krisis, lalu menjual solusi tambal sulam tanpa menyentuh akar persoalan. Maka, bisa dikatakan bahwa persoalan utama masalah kesehatan mental pemuda adalah sistem sekuler-kapitalisme yang rusak dan merusak.

Berbeda dengan sistem Islam, di dalam sistem Islam, Islam menawarkan solusi mendasar terhadap krisis kesehatan mental pemuda karena bertumpu pada pandangan hidup yang utuh. Dalam Islam, manusia tidak diposisikan sebagai komoditas, melainkan sebagai hamba Allah yang dimuliakan. Tujuan hidup tidak ditentukan oleh popularitas atau materi, tetapi oleh ketaatan dan kebermanfaatan.

Islam menata kehidupan dengan keseimbangan antara aspek spiritual, moral, dan sosial. Ketenteraman jiwa menjadi buah dari hubungan yang benar dengan Allah, diri sendiri, dan masyarakat. Nilai ini menjadi benteng penting di tengah gempuran tekanan digital. Seorang pemuda yang memahami tujuan hidupnya tidak mudah terombang-ambing oleh standar semu dunia maya.

Dalam sistem Islam, negara juga memiliki peran penting. Negara wajib mengatur teknologi dan media agar tidak merusak akal dan jiwa masyarakat. Konten berbahaya, eksploitasi digital, serta praktik bisnis yang merusak kesehatan mental benar-benar dilarang. Segala akses informasi benar-benar disaring dan dijaga ketat sebelum kemudian diizinkan disebarkan ke masyarakat. Pendidikan pun diarahkan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk kepribadian Islam yang kokoh.

Pemuda dalam Islam diposisikan sebagai agen perubahan. Mereka didorong untuk berilmu, berakhlak, dan berani menyuarakan kebenaran. Di era digital, peran ini berarti menggunakan teknologi sebagai sarana dakwah, edukasi, dan perbaikan sosial, bukan sebagai alat pelarian atau validasi diri. Dengan sistem Islam, pemuda tidak hanya diselamatkan dari krisis mental, tetapi juga diarahkan menjadi generasi yang kuat secara jiwa, jernih secara akal, dan teguh dalam membawa perubahan.

Melihat kedua perbedaan yang sangat signifikan ini, maka sudah seharusnya umat, khususnya pemuda itu sadar bahwa kita semua butuh perubahan sistemik untuk menyelamatkan negeri dan generasi. Berubah dari sistem rusak sekuler-kapitalisme menjadi sistem Islam yang sesuai dengan fitrah, menenangkan hati dan memiliki segala solusi yang memuaskan akal.***
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin