GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Antara Potensi Besar dan Arah yang Dihilangkan

Antara Potensi Besar dan Arah yang Dihilangkan

Oleh: Iin Mutmainah
(Sahabat Komunitas Muslimah Batam)

Gen Z adalah generasi yang lahir di tengah layar. Jari mereka lebih cepat dari pena, pikiran mereka lebih terbuka dari generasi sebelumnya, dan akses informasi ada di genggaman sejak usia belia. Namun pertanyaannya bukan: seberapa canggih mereka? Melainkan: ke mana kecanggihan itu diarahkan?

Digitalisasi sejatinya adalah alat. Ia bisa menjadi tangga menuju peradaban mulia, atau justru jurang yang menenggelamkan potensi pemuda. Di sisi lain, banyak yang menuduh Gen Z lemah, mudah terdistraksi, dan terlalu larut dalam dunia maya. Padahal masalah utamanya bukan pada mental pemuda, melainkan pada sistem yang gagal memberi arah hidup.

Fitur dasar pemuda adalah: eksplorasi, keberanian berpikir, idealisme, dan semangat perubahan. Namun hari ini, digitalisasi tidak diarahkan untuk membangkitkan semua itu. Ia justru dijadikan alat hiburan tanpa visi, pelarian dari realitas, dan pengalih dari persoalan umat. Hingga akhirnya, pemuda kini menjadi sibuk mengejar viral, namun lupa memperjuangkan hal yang vital.

Digitalisasi tanpa ideologi hanya akan melahirkan kekosongan makna. Dan hal inilah yang terjadi di generasi Gen Z hari ini. Teknologi yang dilepas tanpa nilai akan membentuk pemuda yang aktif tapi hampa, sibuk tapi bingung tujuan, dan cerdas secara teknis namun miskin visi hidup.

Mereka tahu tren global, namun bisa sama sekali tidak paham arah hidup. Mereka mahir membuat konten, tetapi tidak tahu untuk apa hidup ini diperjuangkan. Inilah buah dari digitalisasi yang dipisahkan dari akidah.

Berbeda dengan Islam. Sistem Islam tidak pernah memusuhi kemajuan. Justru sebaliknya, yang Islam lawan adalah kemajuan yang mencabut manusia dari fitrahnya. Sehingga, pemuda di dalam sistem ini dibentuk bukan sekadar tenaga kerja masa depan, melainkan penerus dan penjaga peradaban.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah adalah: Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Artinya, pemuda memiliki posisi strategis, bukan pelengkap.

Maka digitalisasi semestinya: menjadi sarana dakwah, alat perjuangan pemikiran, menjadi media membela kebenaran, serta jalan mengikatkan pemuda pada masjid, umat, dan misi hidupnya.

Oleh karenanya, jika hari ini pemuda menjadi tersesat di dunia digital, itu karena tidak ada peta jalan ideologis yang menuntun mereka. Karena pada dasarnya, pemuda tidak butuh sekadar motivasi. Mereka butuh makna hidup. Mereka tidak kekurangan akses, melainkan mereka kekurangan visi peradaban.

Dan di sinilah Islam hadir menjadi pelengkap, bukan hanya sebagai ritual, akan tetapi sebagai sistem kehidupan yang mengarahkan ilmu, teknologi, dan digitalisasi untuk kemuliaan manusia.

Kesimpulannya, Gen Z bukan generasi rusak. Mereka adalah generasi besar yang sedang diparkir di jalan yang salah. Jika digitalisasi disinari akidah, maka layar-layar itu akan melahirkan pejuang, bukan pelarian. Sehingga pemuda Islam akan kembali pada fitrahnya, yakni: berpikir, bergerak, dan berjuang untuk kebenaran. Wallahualam.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin