Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd.
(Komunitas Muslimah Peduli Umat, Kepulauan Riau)
Hujan, yang semestinya menjadi rahmat dan keberkahan, justru membawa bencana dan duka yang mendalam untuk saudara kita di Sumatra, khususnya tiga provinsi yang terdampak yakni Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Memang benar, musibah dan bencana merupakan bagian dari ketetapan Allah Swt. yang harus kita imani.
Berat memang. Siapa yang tidak sedih ketika harus kehilangan, baik harta, anggota keluarga hingga nyawa yang jumlahnya mencapai 1.006 (13/12).
Namun, tidak ada sikap yang paling layak selain bersabar dan ikhlas dalam menerima segala bentuk ujian dan cobaan yang telah Allah takdirkan.
Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa setiap yang Allah takdirkan adalah yang terbaik untuknya. Sebagai wujud rasa kasih dan sayang Allah untuk hamba-Nya.
Sebagaimana hadits Rasulullah saw. yang artinya, "Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan mengujinya dengan musibah". (HR. Bukhari 5645).
Harus diakui bahwa ini merupakan curah hujan terbesar dalam beberapa puluh tahun terakhir.
Akan tetapi, gelondongan kayu membuka mata, bahwasanya ada tindakan manusia yang merusak keseimbangan alam akibat penambangan secara liar di daerah hulu.
Disadari atau tidak, kondisi ini tidak lepas dari paradigma kapitalisme demokrasi yang senantiasa memberikan ruang kepada oligarki untuk menguasai sumber daya alam yang ada melalui legislasi dari para penguasa negeri.
Sebenarnya jika bicara masalah panduan teori sudah cukup lengkap. Bagaimana seharusnya mengelola sumber daya alam tanpa merusak keseimbangan.
Namun teori tersebut saat ini tidak lagi menjadi pertimbangan, karena yang berkuasa adalah kekuatan modal atau uang, yang kemudian menerobos sekian banyak rambu-rambu atau aturan.
Sudah menjadi tabiat oligarki, akan mengoptimalkan seluruh daya untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga teori terkait reklamasi atau eksploitasi dengan hati-hati tidak berlaku dalam paradigma sekuler kapitalisme demokrasi ini.
Di sini lah pangkal dari segala kerusakan, menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada pihak swasta.
Sangat berbeda dengan sudut pandang Islam. Kehadiran pemilik modal atau pengusaha tetap diperbolehkan dalam ranah fardiyah (kepemilikan individu), bukan dalam sektor kepemilikan umum seperti barang tambang batu bara dan yang lainnya.
Karena sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum adalah tetap milik umat yang harus dikelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyatnya.
Sayangnya, saat ini, Islam asebagai akidah yang memancarkan segenap aturan itu tidak diterapkan dalam lingkup kekuasaan sehingga wajar kerusakan demi kerusakan terus terjadi, sehingga bencana dan musibah pun datang tanpa permisi melanda rakyat kecil.
Oleh karena itu, perlunya menyadarkan umat untuk kembali kepada syari'at Islam untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a'lam.
Artikel ini telah ditayangkan di:
https://www.radarindonesianews.com/bencana-melanda-sumatra-jejak-kerakusan-segelintir-manusia/


0Komentar