GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Lelah Berujung Duka: Krisis Kemanusiaan di Balik Wafatnya Seorang Ojol

Lelah Berujung Duka: Krisis Kemanusiaan di Balik Wafatnya Seorang Ojol

Oleh: Eny Muazizah
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)

Kabar wafatnya Solihun, seorang pengemudi ojek online yang ditemukan tergeletak di teras sebuah warung setelah bekerja seharian tanpa henti, kembali menggugah kesadaran kita tentang rapuhnya kehidupan kelas pekerja di kota-kota besar. Berita semacam ini bukan fenomena tunggal; ia adalah representasi dari problem struktural yang jauh lebih dalam—problem yang terus berulang namun belum ditangani secara serius.

Di balik tragedi tersebut, kita melihat bagaimana tuntutan ekonomi yang semakin berat memaksa banyak individu bekerja melampaui batas manusiawi. Sektor informal, termasuk ojek online, beroperasi dalam struktur pasar yang sangat kompetitif.

Penghasilan yang tidak menentu, insentif yang bergantung pada algoritma, serta tekanan untuk selalu “online” demi mengejar target, menjadikan tubuh mereka korban pertama dalam mata rantai kerja yang kasar dan sering kali tidak berperikemanusiaan.

Demokrasi dan Jurang Ketidakpastian Ekonomi

Dalam narasi besar demokrasi liberal, setiap individu dianggap bebas membentuk kehidupannya sendiri. Namun kebebasan ini sering kali diterjemahkan sebagai kewajiban untuk bertahan hidup secara individual. Mereka yang berada di kelas pekerja rentan akhirnya harus menanggung seluruh risiko hidup secara pribadi—tanpa jaminan keberlangsungan ekonomi, tanpa keamanan sosial memadai, dan tanpa perlindungan yang menyeluruh.

Di titik inilah kita diingatkan bahwa nyawa manusia begitu mudah hilang ketika sistem sosial membiarkan beban ekonomi dipikul sendiri oleh individu, seakan hidup adalah perlombaan tanpa jeda.

Tragedi Solihun menegaskan bahwa krisis ini bukan hanya soal kemiskinan, tetapi juga tentang struktur sosial yang gagal memastikan bahwa manusia dapat bekerja tanpa mempertaruhkan keselamatannya.

Masyarakat yang Tidak Boleh Individualis

Dalam perspektif keadaban sosial, masyarakat seharusnya tidak membiarkan anggotanya jatuh dalam kelelahan ekstrem hanya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Model kehidupan sosial yang menekankan kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama terbukti lebih mampu melindungi individu, terutama mereka yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Dalam tradisi sosial Islam, misalnya, ada prinsip bahwa kemaslahatan masyarakat tidak boleh menelantarkan satu pun anggotanya. Sistem ini mendorong keterlibatan kolektif untuk memastikan bahwa siapa pun—baik Muslim maupun non-Muslim—tidak kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar.

Negara dipandang bertanggung jawab menjamin sandang, pangan, papan, kesehatan, dan keamanan ekonomi warganya, sementara masyarakat berperan aktif mencegah kesenjangan sosial semakin melebar.

Pada tataran ini, pekerja seperti pengemudi ojek online tidak dibiarkan menggantungkan hidup pada mekanisme pasar semata. Mereka mendapatkan ruang hidup yang lebih manusiawi, bukan hanya sebagai pekerja, tetapi sebagai manusia yang martabatnya dijamin oleh sistem sosial.

Menjadikan Tragedi sebagai Cermin

Wafatnya seorang pekerja karena kelelahan bukan sekadar berita duka. Ia adalah cermin yang mengajak kita bertanya: Apakah struktur sosial kita sudah cukup melindungi manusia yang menjadi pilar ekonomi sehari-hari? Apakah kita akan terus membiarkan pekerja informal berjuang sendirian dalam hidup yang semakin mahal?

Solihun bukan sekadar angka statistik, ia adalah wajah nyata dari ribuan pekerja lain yang berada pada kondisi serupa.

Tragedi ini seharusnya memantik kesadaran bersama bahwa kehidupan yang layak adalah hak setiap individu. Negara, masyarakat, dan sistem ekonomi harus bergerak ke arah yang lebih manusiawi—yang tidak hanya menghargai produktivitas, tetapi juga keselamatan dan martabat manusia.

Jika kita tidak belajar dari kisah seperti ini, maka kita sedang membiarkan tragedi serupa menunggu untuk terulang kembali.

Wallahu 'alam bissawwab
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin