Oleh: Eci Aulia
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Menjadi ibu adalah fitrah yang patut disyukuri oleh setiap perempuan. Dari rahimnya lahir generasi penerus, pencetak peradaban. Inilah anugerah sekaligus amanah yang harus dipikul oleh seorang ibu. Terlebih saat menghadapi tantangan perubahan zaman. Ibu dituntut untuk menjadi arsitek handal dalam mendidik dan membangun karakter generasi.
Generasi hari ini hidup di era digitalisasi. Segala hal bisa diakses dengan cepat dan mudah karena kecanggihan teknologi. Namun, di balik kecanggihan itu ada generasi yang sedang tumbuh dalam asuhan platform media sosial. Tanpa disadari, arus digitalisasi telah meninabobokan generasi dan mengambil peran sebagai ibu pengganti yang memenuhi segala keinginan mereka.
Hagemoni Kapitalis Mencengkram Generasi di Ruang Digital
Apakah ibu menyadari hal ini? Sejatinya ruang digital hari ini berorientasi pada materi dan keuntungan (profit) semata. Sementara hagemoninya mendesign pola pikir generasi agar sejalan dengan kehendak ideologi kapitalisme. Ya, hagemoni kapitalisme dengan nilai-nilai sekularnya mencengkram erat pemikiran generasi melalui algoritma yang mereka ciptakan.
Sebut saja, game online, pinjol, judol, pornografi, perundungan, pergaulan bebas, kekerasan seksual, gaya hidup hedonis, fomo, hiburan menyesatkan yang viral dan segala hal yang berbau negatif dipertontonkan di panggung digital. Tak jarang banyak generasi yang awalnya melihat konten kebaikan tiba-tiba terdistraksi oleh konten negatif yang visualisasinya lebih memanjakan mata.
Mereka menikmati tanpa menyadari bahwa ada kerusakan dan kebatilan yang sedang mengintai. Padahal, kekuatan algoritma sedang menggiring mereka ke arah yang keliru hingga mereka menjadikan ruang digital sebagai standar dalam perbuatan.
Semisal kasus yang baru-baru ini sempat membuat geger. Siswa SMP berusia 13 tahun di Batam mengirim pesan ancaman bom di grup sekolah. Hal ini sontak mengejutkan publik terlebih bagi si penerima ancaman. Dari hasil penyelidikan diduga si anak hanya iseng karena terpengaruh permainan game online seperti Roblox. Ditambah lagi ia pernah menjadi korban bullying. (detikSumut, 10-11-2025)
Jika ditelisik konten negatif yang terus diberi ruang berkelindan dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh sistem kapitalisme. Ini tidak lain bertujuan untuk menjauhkan generasi dari agamanya.
Dari sinilah ibu dituntut untuk memaksimalkan peran strategisnya. Pasalnya, menghadapi hagemoni kapitalis tidak cukup hanya dengan menjadi ibu biologis yang cekatan urusan rumah tangga dan cerdas ilmu akademik. Akan tetapi, ibu harus memiliki pemahaman Islam ideologis, yakni menjadikan Islam sebagai akidah yang memancarkan peraturan hidup yang menyeluruh. Dengan kata lain, Islam bukan hanya sekadar agama ruhiyah, tapi juga siyasiyah (politis).
Bagaimana Menjadi Ibu Ideologis?
Peran strategis dan politis ibu adalah mencetak generasi tangguh bermental pemimpin peradaban. Maka yang mesti ibu lakukan untuk menjadi ibu generasi ideologis adalah membina diri dengan pemahaman Islam secara kafah. Agar ibu mendapatkan pemikiran yang utuh tentang Islam. Ibu tidak hanya dikuatkan akidahnya, tapi juga pemikirannya yang selalu mengaitkan fakta dengan sudut pandang syariat Islam.
Ibu yang pemikirannya dibina secara kafah akan menjadi arsitek generasi unggul. Ibu tangguh itu lahir dari pembinaan Islam ideologis. Nah, ibu ideologis itu memiliki pola pikir sebagai berikut:
1. Ibu Ideologis paham bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt. yang mesti ia jaga dan didik menjadi manusia beriman dan berkepribadian Islam. Ibu sebagai madrasatul ula akan menanamkan akidah yang kokoh pada anaknya, sehingga anak tidak mudah terbawa arus deras digitalisasi.
2. Memiliki rasa kasih sayang yang benar. Mendidik anak untuk ikut berjuang menegakkan agama Allah adalah puncak kasih sayang orang tua yang sesungguhnya.
3. Memahami anak adalah aset perjuangan dan masa depan umat. Bagi ibu ideologis anaknya bukan hanya miliknya, tapi juga milik umat yang akan memberi manfaat.
4. Memiliki kesadaran politik Islam. Islam tegak dan tersebar luas ke penjuru dunia merupakan hasil dari kebijakan politik Islam yang diterapkan Rasulullah Saw. saat di Madinah. Ibu Ideologis mesti memahami bahwa politik dalam Islam adalah mengurusi urusan umat dengan penerapan syariat Islam.
5. Memiliki ilmu dan wawasan luas tentang konsep pendidikan anak. Jika pemikiran ibu sudah kafah, maka ia akan memahami bahwa segala konsep yang berkaitan dengan pendidikan anak harus berakar dari akidah Islam.
Selain itu, optimalisasi peran ibu dalam mempersiapkan generasi unggul juga butuh lingkungan yang kondusif. Sayangnya, kondisi itu tidak ditemukan dalam sistem kehidupan hari ini.
Lingkungan kondusif akan tercipta jika ruang-ruang yang mengisi pemikiran generasi berada dalam pengaturan syariat Islam. Sementara, syariat Islam hanya dapat diterapkan dalam segala aspek jika sistem kehidupan yang menaungi umat tegak dalam bingkai institusi yang sahih, yakni khilafah.
Duhai ibu! Sistem kehidupan hari ini sedang menyetir pemikiran generasi ke arah sekularisme dan menggeser potensi mereka kepada arah yang dinginkan para kapitalis. Untuk itu, mari kita selamatkan generasi ini dengan berupaya menjadi ibu ideologis yang senantiasa berjuang dalam penegakan syariat Islam secara kafah.
Wallahu 'alam bissawwab.


0Komentar