GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Pemuda Adaptif di Era Society 5.0: Antara Tuntutan Zaman dan Arah Politik Peradaban

Pemuda Adaptif di Era Society 5.0: Antara Tuntutan Zaman dan Arah Politik Peradaban

Oleh: Iin Mutmainah
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)

Ajakan Raja Ariza kepada lulusan IAI Miftahul Ulum agar adaptif menghadapi era Society 5.0 patut diapresiasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan digitalisasi kehidupan, pemuda memang dituntut untuk mampu menyesuaikan diri agar tidak tertinggal zaman (deltakepri, 16-12-2025).

Namun pertanyaan mendasarnya adalah: adaptif seperti apa dan untuk kepentingan siapa? Sebab, menjadikan pemuda sebagai agen perubahan yang menjunjung nilai etika, keilmuan, dan keagamaan tidak cukup hanya dengan prestasi akademik atau kemampuan teknis. Tanpa landasan iman yang kokoh, kecanggihan justru berpotensi melahirkan kerusakan yang lebih sistematis.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak generasi muda yang unggul secara intelektual, tetapi rapuh secara moral. Teknologi yang seharusnya memudahkan kehidupan justru sering menjadi pintu masuk dekadensi akhlak, eksploitasi manusia, dan krisis makna hidup. Ini menunjukkan bahwa persoalan pemuda bukan semata persoalan individu, melainkan persoalan sistem pendidikan dan arah kehidupan yang dibangun negara.

Sistem pendidikan Islam sejatinya menawarkan fondasi yang kuat. Ia tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga menanamkan keimanan, membentuk akhlak, dan mengarahkan tujuan hidup pada pengabdian kepada Allah. Perpaduan iman yang kokoh dan prestasi akademik yang mumpuni inilah yang menjadikan pemuda benar-benar siap menghadapi era Society 5.0, bukan sekadar bertahan di dalamnya.

Namun harus disadari, persoalan adaptasi pemuda tidak bisa dilepaskan dari dimensi politik dan ideologi negara. Pemuda dibentuk oleh kebijakan pendidikan, arah pembangunan, serta visi hidup yang diadopsi penguasa. Ketika negara berdiri di atas ideologi sekularisme, agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan dan dipersempit menjadi urusan pribadi semata.

Akibatnya, pemuda diarahkan untuk menjadi tenaga kerja adaptif bagi kebutuhan industri dan pasar global, bukan sebagai pemimpin umat yang membawa misi perubahan peradaban. Inilah wajah politik pendidikan hari ini: mencetak manusia produktif untuk menopang sistem kapitalisme, bukan manusia beriman yang berani mengoreksi dan mengubah sistem yang rusak.

Islam memandang pemuda secara berbeda. Dalam Islam, pemuda bukan sekadar bonus demografi atau aset ekonomi, tetapi kekuatan politik dan peradaban. Sejarah Islam mencatat bagaimana pemuda menjadi pengemban risalah, penjaga akidah, dan motor perubahan masyarakat. Peran strategis ini hanya mungkin lahir jika negara menjadikan Islam sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Islam sejatinya bukan agama yang anti-perkembangan zaman. Justru syariat Islam yang diterapkan secara menyeluruh selalu relevan dan adaptif, karena ia bersumber dari Zat Yang Maha Mengetahui hakikat manusia dan masa depan peradaban. Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga pengelolaan ruang digital.

Dengan sistem Islam yang memiliki infrastruktur teknologi sendiri, ruang digital tidak dibiarkan liar mengikuti logika pasar dan kebebasan semu. Ia diatur dengan aturan syariat yang menjaga akidah, akhlak, dan kemaslahatan manusia. Inovasi tetap tumbuh, tetapi berada dalam koridor ketaatan dan tanggung jawab peradaban.

Karena itu, berbicara tentang pemuda adaptif sejatinya adalah berbicara tentang keberanian mengubah arah politik dan sistem kehidupan. Selama aturan hidup masih bersumber dari akal manusia dan kepentingan kapital, pemuda akan terus dipaksa beradaptasi dengan kerusakan. Islam hadir bukan untuk sekadar beradaptasi, tetapi memimpin peradaban dengan syariat sebagai solusi menyeluruh.

Pemuda yang dibutuhkan di era Society 5.0 bukan hanya yang canggih secara teknologi, tetapi kokoh secara iman, jernih visi hidupnya, dan berani menjadi agen perubahan ideologis.
Adaptif tanpa iman akan rapuh. Iman tanpa ilmu akan lemah. Dan Islam hadir untuk menyatukan keduanya dalam bingkai peradaban yang mulia.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin