Oleh: Zul'Aiza
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Derasnya arus informasi digital hari ini menjadi tantangan serius bagi generasi muda. Tingginya screen time, jebakan algoritma media sosial, serta banjir konten yang mengarahkan cara berpikir, berpotensi melalaikan mereka dari peran nyata dalam kehidupan.
Semisal sikap kritis kaum muda terhadap kezaliman penguasa merupakan indikasi baik, tapi tanpa arah yang benar ia justru rawan diseret pada solusi parsial dan pragmatis.
Generasi muda sejatinya adalah pasar potensial industri digital. Akibatnya, konten yang mereka konsumsi terus-menerus menumpuk menjadi “tabungan informasi” yang membentuk cara pandang hidup. Di sinilah ide-ide sekuler dan liberal begitu deras menggerus kesadaran, sehingga diperlukan benteng kokoh.
Benteng pertama dan utama adalah cara pandang sahih yang bersumber dari Sang Khalik, bukan dari ideologi buatan manusia. Kerinduan pada perubahan harus dibarengi arah ideologis yang benar agar tidak melahirkan aktivisme prematur yang mudah tergoda jabatan dan kompromi.
Sebagai makhluk Allah, generasi muda memiliki potensi akal, naluri, dan kebutuhan jasmani yang harus diarahkan. Mereka membutuhkan lingkungan kondusif yang sarat suasana keimanan, dibangun melalui kolaborasi sistemis seluruh elemen umat: keluarga, masyarakat, partai politik ideologis, dan negara.
Dalam hal ini, partai politik Islam ideologis berperan sebagai tulang punggung pembinaan umat—melakukan muhasabah lil hukam, memberi ruang suara kritis kaum muda, serta mencerdaskan dan meningkatkan taraf berpikir umat.
Sinergi inilah yang akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga bertakwa, tangguh, dan konsisten memperjuangkan perubahan hakiki.
Wallahu'alam bissawab


0Komentar