GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Ketika Kekuasaan Bertabrakan dengan Keadilan

Ketika Kekuasaan Bertabrakan dengan Keadilan

Oleh: Hana' T.Z
(Penulis dan Aktivis Dakwah Kepulauan Riau) 

Salah satu peristiwa yang memicu perhatian dunia adalah tewasnya seorang warga sipil di Amerika Serikat dalam sebuah operasi ICE (Immigration and Customs Enforcement). Berdasarkan keterangan para saksi di lokasi, korban tidak membawa senjata dan tidak melakukan perlawanan saat tindakan tersebut terjadi. Fakta ini penting ditegaskan untuk menghindari kesalahpahaman, karena korban merupakan warga sipil yang tidak sedang menimbulkan ancaman langsung. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuasaan negara, jika tidak dikendalikan oleh keadilan, dapat berubah menjadi tindakan yang melukai nilai kemanusiaan.

Protes yang muncul setelah kejadian tersebut merupakan bentuk reaksi masyarakat terhadap tindakan aparat negara yang dinilai melampaui batas. Aksi ini tidak hanya menuntut proses hukum yang adil, tetapi juga menolak praktik kekuasaan yang dijalankan tanpa empati. 

Dalam Islam, Rasulullah ﷺ menekankan bahwa pemimpin adalah pihak yang bertanggung jawab untuk melayani dan melindungi rakyatnya. Ketika aparat justru menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat, maka amanah kepemimpinan tersebut patut dievaluasi secara terbuka.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Amerika Serikat juga melancarkan serangan militer terhadap ISIS di Suriah (ANTARA News, 10 Januati 2026) sebagai balasan atas tewasnya tentara Amerika dalam serangan sebelumnya. Secara resmi, tindakan ini diklaim sebagai upaya perlindungan keamanan nasional. Namun, kesaksian warga sipil di Suriah menunjukkan bahwa serangan tersebut berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata. Ledakan terjadi di sekitar wilayah permukiman, memaksa warga mengungsi dan hidup dalam ketakutan.

Hal ini jelas bertentangan dengan aturan dalam Syariat Islam. Mereka yang tidak ikut berperang, seperti perempuan, anak-anak, dan warga sipil, tidak boleh dijadikan sasaran. Ketika dampak serangan militer justru dirasakan oleh pihak-pihak yang tidak terlibat, maka prinsip keadilan dalam konflik bersenjata menjadi kabur dan menimbulkan penderitaan yang tidak dapat dibenarkan.

Selain itu, situasi di Venezuela turut memperlihatkan persoalan serupa. Penetapan keadaan darurat nasional untuk melindungi dana minyak, disertai peringatan agar warga asing meninggalkan negara tersebut, menunjukkan bahwa krisis politik dan ekonomi telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Kesaksian warga Venezuela menggambarkan kondisi hidup yang semakin sulit, mulai dari kelangkaan kebutuhan pokok hingga ketidakpastian masa depan.

Jika seluruh peristiwa ini dilihat secara utuh, dapat disimpulkan bahwa kekuatan tanpa keadilan tidak akan membawa keberkahan. Islam tidak menilai kemuliaan dari besarnya kekuasaan atau kemampuan militer, melainkan dari keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang dalam setiap keputusan. Pada akhirnya, setiap kekuasaan akan dihisab, dan setiap ketidakadilan akan meninggalkan kesaksian, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, dunia saat ini sangat membutuhkan sosok pemimpin yang bertanggung jawab, berani bersikap adil, serta mampu menegakkan nilai-nilai Syariat Islam dalam setiap aturan dan kebijakan yang dibuat.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin