GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Lonjakan Kasus HIV di Batam: Ketika Pencegahan Sebatas Penyuluhan

Lonjakan Kasus HIV di Batam: Ketika Pencegahan Sebatas Penyuluhan

Oleh: Hesty Nur Laili, S.Psi
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau) 

Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) kembali mengalami peningkatan yang sangat serius dan mengkhawatirkan di Batam, Kepulauan Riau. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 573 kasus baru HIV yang terdeteksi melalui lebih dari 12.900 tes yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun layanan jemput bola oleh tim kesehatan. (Antaranews, 2-12- 2025)

Laporan hasil screening yang dilakukan Dinkes juga menyebutkan bahwa meningkatnya pasien HIV ini banyak ditemukan pada pelaku penyuka sesama jenis, mayoritasnya pada pelaku Lelaki Suka Lelaki (LSL).

Oleh karenanya, pihak Dinkes berupaya meningkatkan pencegahan dengan cara terus melakukan edukasi dan penyuluhan terhadap kelompok-kelompok rentan, seperti LSL, Waria, WPS, pengguna narkoba suntik, dan orang-orang yang memiliki pasangan pengidap HIV, serta ibu-ibu hamil yang terinfeksi virus ini agar tidak menularkan HIV pada anak yang dikandungnya. (Antaranews, 1-10- 2024).

Berdasarkan pemaparan data di atas, dapat dilihat bahwa masalah HIV bukan semata soal ketidakmampuan sistem kesehatan dalam mendeteksi atau mengobati penyakitnya. Ada faktor sosial, budaya, dan struktural yang mempengaruhi penyebarannya:

1. Perilaku Seksual Berisiko yang Masih Meluas.

Virus HIV seringkali ditularkan lewat kontak seksual tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi. Artinya bahwa perzinaan masih kerap terjadi bahkan makin meluas di masyarakat, terutama hubungan antar sesama jenis.

2. Sistem Sosial dan Nilai yang Terpinggirkan

Dalam kerangka sekuler-kapitalisme, kehidupan sosial cenderung dibentuk oleh logika pasar, konsumsi, dan kebebasan individual. Pendekatan seperti ini sering kali:

- Kurang memberi ruang pada pendidikan moral yang kuat tentang seksualitas dan tanggung jawab sosial.
- Mengutamakan pengobatan ketimbang pencegahan akar masalah seperti pola hidup dan perilaku manusia.
- Pemisahan secara nyata agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga berpeluang besar membentuk umat hidup tanpa arah, tanpa rasa takut, hingga membentuk perilaku cenderung seenaknya, sesuka hati tanpa melihat dampak apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Akibatnya, perilaku seksual berisiko masih banyak diterima, sebagai bagian dari kehidupan bebas individual tanpa kontrol sosial yang sehat. Inilah yang memperkuat penyebaran HIV secara terus menerus, bahkan ketika layanan medis tersedia dan gratis. Kampanye-kampanye kebebasan berekspresi makin marak digaungkan, membuat masyarakat kian antusias untuk berbuat semaunya.

Jelas hal ini sangat tidak bisa dicegah hanya dengan edukasi semata. Karena ketidaksinkronan antara tim kesehatan dengan pola pergaulan masyarakat yang disetujui bahkan didiamkan oleh negara. Di satu sisi, tenaga kesehatan seolah dituntut untuk terus meningkatkan pencegahan HIV, yang kemudian menjadi masalah tersendiri ketika mereka berhadapan dengan pasien-pasien pengidap HIV ini.

Alat Pelindung Diri (APD) dan penanganan pasien secara hati-hati tidak menjamin mereka untuk aman dari penularan virus HIV. Terlebih dari pihak pemerintah, tak ada bantuan atau jaminan kepada para nakes apabila mereka terkena resiko atas pekerjaan mereka. Jadi bisa dikatakan bahwa nakes seperti bekerja sendiri, tanpa jaminan keamanan dalam berupaya mencegah maupun menangani pasien-pasien HIV.

Inilah jahatnya sistem sekuler-kapitalisme. Ketika kesehatan dipandang sebagai sebuah komoditas atau tugas individu semata, bukan sebagai tanggung jawab bersama antara negara dan masyarakat. Negara sibuk mengurusi angka kasus, obat, dan prosedur medis, namun di saat bersamaan membiarkan akar persoalan sosial dan perilaku berisiko untuk terus tumbuh tanpa kendali.

Akibatnya, ketika kasus HIV terus meningkat, yang seolah dipersalahkan dan dibebani tanggung jawab hanyalah tenaga kesehatan. Mereka dipaksa menjadi benteng terakhir untuk mengedukasi, mengetes, mengobati, sekaligus menanggung risiko pekerjaan. Sementara di sisi lain, negara tidak serius membenahi sistem nilai masyarakat yang melahirkan pola hidup berisiko. Inilah wajah kejam sekuler-kapitalisme, yakni membiarkan penyebab masalah tetap hidup, namun di saat bersama menuntut nakes bekerja mati-matian menangani dampaknya.

Berbeda dengan sistem Islam. Dalam tradisi Islam, penyelesaian masalah sosial dan kesehatan seperti ini tidak hanya melihat gejala, tetapi juga memperbaiki akar permasalahannya.
Islam secara tegas dan serius menangani kasus per kasus, baik yang besar maupun yang kecil, termasuk meningkatnya pengidap HIV ini melalui beberapa pendekatan, di antaranya adalah:

1. Hukum Islam menindak tegas pelaku LSL jika mereka enggan bertaubat, yakni dengan diberikannya hukuman mati dengan cara dijatuhkan dari gedung yang paling tinggi lalu di rajam dan disaksikan oleh masyarakat secara terbuka.

Hal ini selain sebagai hukuman bagi pelaku, juga sebagai efek jera bagi calon-calon pelaku yang hendak melakukan penyimpangan. Karena faktanya, pelaku LSL sulit sekali berhenti tanpa adanya hukuman yang tegas. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang justru menularkan perilaku menyimpang mereka pada orang lain yang masih normal. Entah melalui bujuk rayu, pemerkosaan, kampanye, maupun pelecehan-pelecehan seksual yang dilakukan pada anak-anak hingga membuat mereka pada akhirnya turut menjadi seperti pelaku.

2. Dari sisi pendidikan, Islam memberikan pencegahan sejak dini melalui penanaman akidah yang sangat kuat hingga tumbuh rasa takut kepada Allah yang tercermin melalui tingkah laku yang senantiasa hati-hati.

3. Negara dengan sistem Islam benar-benar menjaga rakyat dengan penjagaan yang sangat serius, seperti menyaring informasi negatif untuk dikonsumsi oleh umat.

Hal ini sangat berbeda jauh dengan sistem sekuler-kapitalisme yang di mana negara sangat abai dan cenderung bebas, hingga menyebabkan tidak sedikit masyarakat yang dengan mudah mengakses video-video maupun segala macam informasi yang berbau negatif, seperti video porno sesama jenis.

4. Terakhir, tumbuh suburnya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat. Sehingga perilaku menyimpang sekecil apapun dengan mudah diatasi.

Hal ini jelas berbeda dengan sistem sekuler-kapitalisme yang justru membentuk masyarakat menjadi pribadi yang individualis dan tidak peduli dengan adanya kemaksiatan di sekitarnya.

Melihat dua perbedaan yang sangat jauh ini, maka sudah saatnya kaum muslimin membuka mata dan hati bahwa segala dampak dari kemaksiatan ini adalah akibat dari tidak diterapkannya hukum Allah di muka bumi. Oleh karenanya, sudah sepatutnya menjadi jihad bagi kita untuk berjuang mengedukasi masyarakat agar sadar dan kembali memperjuangkan penegakan syariat Islam di muka bumi ini.***
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin