GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Merumahkan Guru Non-ASN: Bukti Nyata Rusaknya Pendidikan dalam Sistem Kapitalisme

Merumahkan Guru Non-ASN: Bukti Nyata Rusaknya Pendidikan dalam Sistem Kapitalisme

Oleh: Nur Kasih
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau) 

Kebijakan merumahkan guru non-ASN di Kepulauan Riau bukan sekadar kekeliruan teknis administrasi. Ia adalah bukti nyata kegagalan sistem kapitalisme dalam mengelola pendidikan. 

Guru dirumahkan bukan karena tidak kompeten, bukan karena melanggar aturan, tetapi karena negara mengaku tidak sanggup menggaji mereka. Gaji guru honorer digantungkan pada dana BOS yang terbatas dan tidak stabil. Ketika dana menipis, guru menjadi korban.

Inilah wajah asli kapitalisme: pendidikan diperlakukan sebagai beban anggaran, bukan kewajiban negara.

Dalam sistem ini, yang menjadi tolok ukur bukan kebutuhan rakyat, melainkan kemampuan fiskal dan efisiensi biaya. 
Ketika negara tidak mampu, maka yang disingkirkan adalah pihak paling lemah—guru honorer.

Padahal Allah Swt. telah meninggikan kedudukan orang-orang berilmu dan para pendidik:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Namun sistem kapitalisme justru merendahkan guru menjadi sekadar “tenaga kerja murah” yang bisa dirumahkan kapan saja. Guru yang seharusnya dimuliakan, diposisikan sebagai variabel penghematan anggaran.

Lebih parah lagi, kebijakan ini diambil saat jumlah peserta didik terus bertambah. Murid semakin banyak, guru semakin sedikit. 
Akibatnya, kualitas pendidikan menurun, beban kerja guru meningkat, dan hak anak-anak atas pendidikan berkualitas terabaikan. 

Kapitalisme tidak peduli pada dampak jangka panjang. Yang penting anggaran aman hari ini.

Kapitalisme vs. Islam: Dua Paradigma yang Bertolak Belakang

Dalam kapitalisme, negara hanya berperan sebagai regulator. Pendidikan boleh berjalan selama “anggaran cukup”. 

Jika tidak, maka dikorbankan. Inilah sebabnya guru honorer terus berada dalam ketidakpastian, upah rendah, dan ancaman dirumahkan.

Sebaliknya, Islam memandang pendidikan sebagai kewajiban negara (fardhu kifayah) yang tidak boleh ditinggalkan. 

Guru bukan buruh biasa, tetapi pilar utama pembentuk peradaban.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan di laut, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa guru memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. 

Maka dalam Islam, mustahil guru dibiarkan hidup tidak sejahtera, apalagi dirumahkan hanya karena alasan anggaran.

Solusi Islam: Negara Menjamin Guru, Bukan Mengorbankannya

Dalam sistem Islam (khilafah), guru diangkat berdasarkan kompetensi dan keahliannya, serta dijamin kesejahteraannya oleh negara melalui baitul mal. 

Gaji guru tidak bergantung pada dana bantuan sementara, tidak pula dibebankan pada sekolah atau orang tua murid. Negara bertanggung jawab penuh.

Baitul mal memiliki sumber pemasukan yang kuat dan berkelanjutan dari pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam, bukan dari utang atau pajak yang mencekik rakyat.

Dengan sistem ini, negara mampu memberikan gaji besar dan layak kepada guru, menyediakan pelatihan berkelanjutan, serta menjamin kehidupan mereka dan keluarganya.

Sejarah mencatat, dalam peradaban Islam, para guru dan ulama hidup terhormat dan sejahtera. Dari sistem inilah lahir generasi ilmuwan, pemikir, dan pemimpin yang memimpin dunia selama berabad-abad.

Sebaliknya, kapitalisme hanya melahirkan generasi yang terjebak krisis pendidikan, ketimpangan, dan komersialisasi ilmu.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Tidaklah suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, kecuali tunggulah kehancurannya.”
(HR. Bukhari)

Merumahkan guru yang ahli dan berpengalaman adalah langkah menuju kehancuran pendidikan.

Penutup: Saatnya Ganti Paradigma, Bukan Sekadar Tinjau Ulang

Kasus merumahkan guru non-ASN di Kepri tidak cukup diselesaikan dengan peninjauan ulang kebijakan. Masalah utamanya adalah sistemnya. 

Selama pendidikan berada dalam cengkeraman kapitalisme, ketidakadilan terhadap guru akan terus berulang.
Islam menawarkan solusi menyeluruh dan sistemik: pendidikan sebagai kewajiban negara, guru sebagai pilar peradaban, dan kesejahteraan sebagai hak, bukan belas kasihan anggaran.

Sudah saatnya umat membuka mata: kapitalisme gagal memuliakan guru, sementara Islam menjadikannya penjaga peradaban.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin