GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Antara Lalai dan Tidak Siap

Antara Lalai dan Tidak Siap

Oleh: Hana' T.Z 
(Aktivis Remaja Batam)

Kamis, 29-01-2026, Indonesia kembali disuguhi berita Keracunan MBG yang terjadi tepat di SMA 2 Kudus (Kabupaten Kudus, Jawa Tengah) dengan korban sebanyak 118 pelajar. 

Dari ratusan itu, 46 di antaranya harus sampai menjalani rawat inap. Mundur ke belakang, masih dalam periode 1 - 13 Januari 2026, jaringan pemantau pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan MBG.

Sementara berdasarkan perhitungan BBC, sepanjang 30 hari di bulan Januari 2026, keracunan MBG memicu korban hingga 1929 orang (BBC News, 29 Januari 2026). 

Ribuan kasus itu memiliki pola yang sama, korban mengeluh mual, sakit perut, diare, hingga ada yang sampai jatuh pingsan. Padahal dalam juknis tercantum syarat pendirian dapur MBG, tugas dan tanggung jawab masing-masing pekerja di dapur, bagaimana memilih bahan baku yang berkualitas baik, air baku seperti apa yang layak dikonsumsi, dan lain-lain. 

Ahli gizi masyarakat, tan shot yen ketika diwawancarai reporter BBC, menyatakan bahwa, "Juknis saja tak cukup mencegah keracunan."

Sebagai sebuah program prioritas Presiden yang diampu oleh lembaga, seharusnya BGN (Badan Gizi Nasional) mengontrol, memantau dan memeriksa dapur-dapur yang beroperasi, bukan malah menyerahkan pengawasan sepenuhnya pada masing-masing SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Ditambah lagi, pihak-pihak yang harusnya mengawasi dan menindak lanjutkan kasus-kasus ini, seperti; pejabat daerah, politisi, polisi, dan tentara ikut andil menjadi pemain dalam program ini.

"Mereka semua itu punya dapur MBG. Ini kan namanya 'jeruk makan jeruk'. Sudah pasti di antara mereka enggak boleh dong mengawasi dapur temannya. Engga adil buat mereka." Tan Shot Yen berujar panjang lebar saat diwawancarai.

Semua kasus yang telah dipaparkan tadi semakin menunjukkan kelalaian sekaligus ketidaksiapan pemerintah dalam menangani hal ini. Pemerintah seolah hanya ingin terlihat maju tak tertinggal di mata para penguasa lainnya. Tapi apa yang dilakukan tanpa pemikiran matang malah menghasilkan masalah baru dan menurunkan tingkat kredibilitasnya bukan hanya di mata para penguasa lain, tapi juga di mata rakyatnya sendiri.
 
Lantas, bagaimana seharusnya sosok pemimpin menangani kasus seperti ini?

Dalam Islam, apabila ada kasus keracunan massal seperti ini, pemerintah wajib mengerahkan para ahli untuk menemukan penyebab pasti atas keracunan MBG. Apakah ada kelalaian? Siapa yang bertanggungjawab atas kelalaian ini? Atau ada penyebab lain?

Karena bagaimana bisa makanan basi biasa dapat membawa dampak begitu luar biasa, hingga menyebabkan ribuan korban berjatuhan di berbagai daerah. 

Terjadinya kasus keracunan juga berasal lebih dari satu dapur MBG. Mungkinkah ada sesuatu dibalik ini yang menguntungkan segelintir orang?

Sebagaimana dalam firman Allah yang memerintahkan setiap pemimpin untuk berlaku adil:

 "...sesungguhnya kami menjadikan engkau Khalifah (pemimpin) di bumi, maka berilah keputusan diantara manusia dengan adil dan jangan mengikuti hawa nafsu..." (TQS. Shad: 26).

Wallahu a'lam bish showwab.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin