Oleh: Noviyuliyanti
(Aktivis Muslimah)
Bergabungnya Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump yang bertujuan mendorong penghentian kekerasan, melindungi warga sipil, serta memperluas akses bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Gaza menambah luka kaum Muslimin. Apalagi disebutkan Indonesia harus menyetorkan dana mencapai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 16,7 triliun (news.detik.com, 22-1-2026).
Pasalnya, angka fantastis tersebut terasa sangat ironis jika melihat fakta di lapangan. Di saat komitmen "perdamaian" dibicarakan, setidaknya 29 warga Palestina, termasuk enam anak-anak, justru gugur akibat serangan brutal Israel di Kota Gaza dan Khan Younis (herald.id, 01-02-26).
Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum pembukaan gerbang Rafah yang telah dinanti sejak Mei 2024. Hal ini memicu pertanyaan besar, perdamaian seperti apa yang dijanjikan oleh dewan bentukan Donald Trump ini?
Sangat disayangkan, Dewan Perdamaian Gaza ini dibentuk tanpa satu pun perwakilan dari Palestina. Indonesia justru kini berada dalam satu wadah bersama Israel, Hungaria, dan Argentina. Apakah ini perdamaian sejati, atau sekadar legitimasi atas skenario Amerika dan Israel?
Rakyat Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim, kini semakin sadar, apa yang terjadi di Gaza adalah genosida. Tragedi ini bukan sekadar isu agama, melainkan kejahatan kemanusiaan luar biasa oleh entitas penjajah.
Urgensi bergabungnya Indonesia ke BoP pun patut dipertanyakan. Dana Rp 16,7 triliun itu akan jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk pendidikan, kesejahteraan guru honorer, atau pemulihan bencana di Sumatra. Mengapa kita harus membayar mahal untuk bergabung dalam kelompok bentukan penjajah?
Faktanya, pada 1 Februari, Israel kembali membombardir Gaza dan menewaskan 30 warga sipil. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah penandatanganan kesepakatan BoP. Ini membuktikan tidak ada harapan kedamaian di tangan pelaku genosida.
Harusnya umat Islam kembali menengok peringatan Allah dalam Al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 120 yang artinya, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah..”
Mustahil kita bisa menolong saudara di Palestina jika kita justru masuk dalam aliansi mereka. Rasulullah SAW menggambarkan umat Islam bagaikan satu tubuh. Jika Gaza sakit, kita semua seharusnya merasakan demamnya, bukan justru menyokong aliansi yang membiarkan darah mereka tumpah.
Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum Mukminin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam,” (HR Muslim).
Oleh karena itu, solusi hakiki bagi Palestina hanyalah melalui persatuan umat secara menyeluruh, sebagaimana strategi pembebasan Baitul Maqdis oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi. Kemenangan sejati terletak pada penerapan syariat Islam secara kaffah.
Dari Umar bin Khatab ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Selalu akan ada kelompok dari umatku akan membela kebenaran hingga datang hari kiamat.” Maka, sudah saatnya kita kembali pada jalan kebenaran dalam membela Palestina.[]


0Komentar