Oleh: Tini Sitorus, S.Pd.
(Pemerhati Generasi)
Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tewas gantung diri di pohon cengkih. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi korban berusia 10 tahun berinisial YBR Tersebut. Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. (DetikNews, 04-02-2026)
Dianalisis bahwa istri sudah lama bercerai dari suaminya dan si ibu yang mencari nafkah untuk anaknya. Ini adalah kesalahan yang fundamental yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat yang sudah berkeluarga. Tidak tahu apa hak dan kewajiban seorang ayah. Karena meskipun bercerai tetap seorang ayah bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anak, tetapi ayah berlepas tangan dan tak mau memenuhi kebutuhan si anak. Akibat tidak adanya nafkah yang didapat dari mantan suami, si ibu pun sibuk bekerja dengan gaji yang minim, dan tak mampu lagi memberi hal yang lain seperti buku dan pulpen.
Rapuhnya generasi hari ini juga diakibatkan anak yang tidak dibekali pondasi agama, sehingga mereka tidak kuat menerima ujian dari Allah. Tidak ada keyakinan atas rezeki dan pertolongan dari Allah. Akibatnya anak-anak sering mengeluh, berputus asa dan mencari solusi dengan cara yang pintas.
Pendidikan yang amburadul didapatkan anak saat ini tidak mencerminkan akhlak yang baik dan bertanggung jawab. Mereka dituntut belajar dengan nilai yang bagus, harapannya agar mereka mendapatkan pekerjaan. Inilah pendidikan sekuler yang memisahkan antara agama dari kehidupan. Anak tidak memiliki kepribadian yang Islam. Tidak adanya ketakwaan dan tidak takut dosa.
Kehidupan yang liberal dan hedon saat ini turut memengaruhi, anak melihat teman-temannya yang juga ingin memiliki barang yang mahal dan branded. Padahal barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Mereka bergaul dengan teman-teman yang hedon, sehingga membuat pergaulan semakin tertekan. Akibatnya terjadilah bulliying karena mereka tidak sefrekuensi.
Kuatnya pengaruh media, terutama media sosial. Banyak artis artis luar negeri yang bunuh diri, sehingga menjadikan contoh perbuatan seperti itu, kuatnya pengaruh media yang salah yang mereka jadikan patokan dalam berbuat.
Dari sisi keluarga, kurangnya kasih sayang orangtua kepada anak, sehingga anak merasa beban untuk keluarga. Orangtua sibuk bekerja dan bekerja akibatnya kurang kebersamaan terhadap anak, orangtua tidak memberikan informasi dan penguatan kepada anak agar anak bersabar dulu dengan ekonomi kehidupan yang serba sulit.
Permasalahan yang global adalah akibat tidak diterapkannya sistem Islam. Kita hari ini hidup pada sistem kapitalis yang semua serba sulit dan mahal. Pendidikan mahal, kesehatan mahal, bahan pokok naik.
Sementara pemimpin hanya sibuk dengan kursi kekuasaan tanpa peduli terhadap rakyatnya. Pemimpin tidak berupaya mencerdaskan anak dengan pendidikan gratis dan fasilitas yang lengkap, tetapi pemimpin malah sibuk dengan MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menghabiskan dana sebesar 2 Triliun setiap harinya. Bahkan dana tersebut di kuras dari dana pendidikan. Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin yang acuh terhadap pendidikan.
Banyaknya pejabat yang berfoya-foya dengan mobil mewah, rumah difasilitasi. Pejabatnya sibuk dengan kehidupan yang hedon tetapi rakyatnya hidup susah. Bahkan ada rakyatnya untuk membeli makan saja tidak sanggup. Seperti itulah kepemimpinan di sistem kapitalis.
Pejabat hanya sibuk dengan kursi kekuasan tampa memperhatikan rakyatnya. Ekonomi saat ini serba sulit, banyak pengangguran, tidak adanya lapangan perkerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Pemerintah hanya sibuk menaikkan pajak, menaikkan harga sembako, membuat pendidikan mahal.
Data merilis bahwa pengangguran drastis naik dari tahun ke tahun. Jumlah pengangguran di Indonesia menunjukkan tren fluktuatif, dengan laporan terbaru Agustus 2025 menyebutkan angka pengangguran mencapai 7,46 juta orang.
Kehidupan sulit saat ini diakibatkan karena ekonomi kapitalis yang kekayaan hanya didapatkan oleh segelintir orang saja. Negara juga memiliki utang yang banyak terhadap asing mencapai Rp. 9.637,9 Triliun dengan pembayaran bunga utang pemerintahan Indonesia diproyeksikan mencapai Rp599,44 Triliun pada 2026.
Negara juga sibuk dengan pembangunan ibukota di Kalimantan, pembangunan jalan tol, pembangunan kereta cepat, padahal itu semua tidak dibutuhkan oleh rakyat. Pembangunan terus dilakukan dengan pinjaman utang dari luar negeri.
Solusi dalam Islam orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan agama yang baik. Memberikan pemahaman terhadap qada dan qadar. Keyakinan terhadap Allah Swt., sehingga ketika ada permasalahan, anak anak akan kuat menghadapi, percaya terhadap rezeki dan pertolongan dari Allah, sehingga mereka bersabar dan tidak mengeluh.
Pendidikan yang harus ada pada anak adalah pendidikan Islam. Dengan kurikulum berbasis akidah Islam, lingkungan yang baik dan keluarga yang mendapat pendidikan agama, anak akan memiliki kepribadian yang Islam. Pola pikir dan pola sikapnya Islam. Jadi jika ada permasalahan solusi yang diambil adalah solusi dari Islam bukan karena hawa nafsu belaka.
Negara juga semestinya memfilter media sosial dengan menyuguhkan konten edukasi dan bermanfaat untuk anak, bukan konten flexing, hedon yang merusak pemikiran anak. Semua ini terjadi karena Islam tidak diterapkan secara totalitas.
Padahal dalam Islam pendidikan itu gratis dan semua fasilitas itu lengkap, baik buku, labolatorium, perpustakaan, dan semuanya difasilitasi, sehingga tidak ada kejadian anak bunuh diri akibat tidak mampu membeli buku. Guru juga mendapatkan gaji yang cukup.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208,
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melaksanakan seluruh ajaran Islam secara menyeluruh dan totalitas. Negara harus memiliki kepemimpinan yang amanah dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya.
Penguasa harus sibuk mengurusi rakyatnya bukan sibuk dengan kursi kekuasaan sebagaimana yang dicontohkan oleh kepemimpinan Rasulullah Saw. dan Umar Bin Khattab ra. yang jujur, amanah dan bertanggungjawab.
Wallahu a'lam bisshowab.


0Komentar