Oleh: Zahidah Sumayyah
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Kematian adalah perkara yang pasti, maka mengingatnya merupakan hal penting dalam kehidupan. Bahkan menjadi sebaik-baik nasihat sepanjang zaman. Bagaimana tidak, kematian bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Baik tua, muda, masih bayi, ataupun remaja.
Sebagai seorang muslim patut mempercayai datangnya sebuah kematian, sebab Allah telah berfirman dalam Al-Quran pada surat Al- Imran ayat 185:
”Tiap - tiap yang berjiwa akan merasakan kematian."
Meskipun hal itu mutlak, namun kematian adalah sebuah misteri. Pasalnya tidak ada seorang pun yang mengetahui selain Allah Swt. dan tidak ada pula yang mampu mencegah serta mengundurkan datangnya kematian, walaupun ia seorang penguasa. Sebagaimana telah Allah tegaskan dalam surat Al- Al'raf ayat 34 yang berbunyi:
”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya.’’
Bahkan Rasulullah, sosok yang menjadi suri tauladan kaum muslimin telah menyuruh kita untuk senantiasa mengingat mati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan dari Rasulullah saw. bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian." (HR.Tirmidzi)
Suatu ketika para sahabat berjumpa dengan Rasulullah lalu di antara mereka bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah? Nabi pun menjawab," orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya,mereka itulah orang yang cerdas. (HR.Ibnu Majah)
Nah,sebagai seorang muslim yang cerdas harusnya mengingat kematian, ia juga merupakan guru dan nasihat terbaik dalam hidup. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah ”cukuplah kematian itu sebagai penasihat."(HR.Thabrani dan Baihaqi).
Sebenarnya mengingat mati saja tidak cukup bila tidak dibarengi dengan persiapan dalam rangka menghantarkan kematian yang terbaik. Ibarat seseorang yang berkelana ke suatu tempat, maka ia akan mempersiapkan bekalnya yang memadai untuk menghadapi perjalanannya. Dan patut disyukuri, kita hari ini masih diberi kehidupan sama Allah, berarti belum terlambat untuk memperbaiki bekal kita dalam menghadapi kematian yang terbaik.
Mengawalinya dengan mencari apa sebenarnya tujuan hidup ini yang datangnya dari keimanan. Mengubah cara pandang kehidupan kita jalani saat ini dengan pandangan yang bersesuaian arahan yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang oleh-Nya. Maka harus memperbanyak pengetahuan atau informasi dengan belajar Islam. Kalau kata zaman now, ayo mengaji Islam kaffah dari akar sampai daun.
Tidak lupa kita menciptakan sebuah kebiasaan yang baik. Pola ibadah yang selama ini masih awur-awuran harus diperbaiki. Mulailah dengan meminta ampun kepada Allah secara khusyuk atas apa yang telah kita perbuat selama ini. Bisa jadi ada yang kita lalaikan serta lewatkan urusan kepada Allah. Jika dibahasakan istilahnya tobat.Karena Allah nanti akan mematikan kita sesuai dengan kebiasaan seorang hamba.
Selanjutnya kita perbanyak ibadah yang lain, mulai dari ibadah wajib di rutinkan, yang sunah diusahakan, dan perkara mubah lebih diperhatikan nilai pahalanya. Sebenarnya kalau kita bicara tentang amal saleh bentuknya banyak sekali. Contoh kecil, menyegerakan dalam waktu salat saja sudah berpahala atau berlelah-lelah dalam perjalanan menuju majelis ilmu juga sudah berpahala.
Namun terpenting dari amal salih juga harus ada perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu saling menasihati, menyeru manusia kepada jalan kebaikan. Sebab kehidupan zaman yang sedang jalani sekarang bukanlah keadaan yang baik-baik saja. Jika ditelaah di berbagai media sosial manapun setiap hari disuguhi isu dan kejadian yang memilukan.Tindak kriminalitas, kejahatan serta kemaksiatan semakin meningkat. Senantiasa harus ada saling mengingatkan tentang kebaikan dan kebenaran kepada sesama saudara muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah:
’’Barang siapa mengajak manusia kepada petunjuk Allah,maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Begitu juga sebaliknya."
Karena kematian tidak ada yang tahu, namun urusan ikhtiar menjemput kematian ada ditangan pilihan manusia. Jadi kita raih kematian yang baik dengan sebaik baik persiapan, Rasulullah bersabda:
”Bersegeralah kalian mengerjakan amal saleh sebelum terjadi fitnah bagaikan kepingan-kepingan malam gelap gulita, yaitu seseorang di waktu pagi beriman,tetapi pada sore hari ia kafir. Atau waktu sore hari ia beriman,tetapi pada pagi harinya ia telah kafir. Ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia." (HR.Muslim)
Wallahu’alam bishawab.


0Komentar