Oleh: Siti Sri Fitriani
(Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok)
Penderitaan Gaza belum berakhir, tetapi skenario baru telah disiapkan. Di atas reruntuhan bangunan, di tengah ribuan nyawa yang melayang dan jutaan rakyat yang terusir, muncul narasi global tentang rekonstruksi, perdamaian, dan masa depan baru Gaza. Amerika Serikat (AS) dan Israel menyebutnya sebagai New Gaza, lengkap dengan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza yang diklaim akan mengelola stabilitas dan pembangunan wilayah tersebut (Liputan6, 20-1-2026).
Bagi umat Islam, ini bukan sekadar isu politik internasional. Ini ujian kesadaran iman dan sikap umat, apakah mampu membaca hakikat di balik kemasan, atau justru terbuai oleh istilah-istilah yang tampak menenangkan.
Sejumlah pejabat Israel secara terbuka menyerukan penghancuran total Gaza dan pengusiran penduduknya. Seruan ini bukan retorika kosong, melainkan sejalan dengan kehancuran masif yang telah terjadi. Setelah Gaza luluh lantak, AS tampil dengan rencana pembangunan ulang, New Gaza yang digambarkan sebagai kawasan modern, pusat ekonomi, dan simbol kebangkitan. Namun pertanyaan mendasarnya, kebangkitan siapa dan dengan kendali siapa?
Rekonstruksi yang lahir dari kehancuran akibat penjajahan berpotensi menjadi cara baru untuk mengokohkan penguasaan, bukan mengembalikan hak rakyat yang dizalimi. Lebih jauh, pembentukan Dewan Perdamaian Gaza menandai upaya pengelolaan Gaza dari luar. Dengan melibatkan berbagai negara, termasuk negeri-negeri Muslim, dewan ini berpotensi memberi legitimasi internasional atas kendali asing terhadap Gaza, tanpa kedaulatan sejati bagi rakyat Palestina.
Umat Islam perlu memahami, penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk agresi militer. Ia juga hadir dalam rupa dewan internasional, proyek pembangunan, dan janji stabilitas. Ketika wilayah yang dirampas diatur tanpa melibatkan kehendak penduduk aslinya, maka hakikat penjajahan tetap berlangsung, meskipun dibungkus bahasa damai.
Gaza dan Palestina bukan tanah tanpa pemilik. Ia tanah umat, tanah yang dirampas dan dipertahankan dengan kezaliman. Mengelola Gaza tanpa mengakhiri penjajahan sama saja dengan melanggengkan kezaliman dalam format baru.
New Gaza dan Dewan Perdamaian Gaza harus dibaca sebagai peringatan dan harapan palsu. Peringatan agar umat tidak kehilangan arah, tidak kehilangan prinsip, dan tidak kehilangan keberpihakan kepada saudara-saudaranya yang tertindas.
Dalam Islam, umat tidak boleh bersikap netral apalagi tunduk terhadap kebijakan zalim penguasa AS dan Israel yang secara nyata menopang penjajahan atas Palestina. Melawan di sini bukanlah sekadar emosi, melainkan sikap politik dan moral yang sadar yakni menolak legitimasi penjajahan, menentang normalisasi, membongkar tipu daya narasi “perdamaian”, serta menekan para penguasa Muslim agar tidak menjadi alat kepentingan AS dan Israel.
Diam, kompromi, dan sikap setengah hati hanya akan memperpanjang penderitaan Palestina. Umat Islam dituntut untuk berdiri jelas di pihak yang benar, melawan kezaliman dengan dakwah, pemikiran, tekanan politik, dan keberanian bersikap, hingga penjajahan tidak lagi diterima sebagai keniscayaan.
Lebih dari itu, umat perlu jujur mengakui penderitaan Palestina juga diperparah oleh perpecahan dan kelemahan dunia Islam. Ketika umat kehilangan kesatuan sikap dan kekuatan pelindung, musuh dengan mudah mengatur masa depan negeri-negeri kaum Muslimin.
Dalam kerangka solusi yang lebih mendasar, umat Islam perlu kembali membicarakan dan memperjuangkan penegakan Khilafah sebagai institusi politik pelindung umat (junnah). Sejarah Islam menunjukkan, Palestina hanya benar-benar terlindungi ketika berada di bawah naungan kepemimpinan Islam yang kuat dan independen dari tekanan kekuatan global, yakni Khilafah Islam.
Perjuangan ke arah itu tidak akan terwujud tanpa kerja politik yang terarah, terorganisasi, dan berlandaskan akidah, yakni melalui partai politik Islam ideologis yang konsisten membina umat, mengoreksi penguasa, dan menolak segala bentuk dominasi asing. Tanpa kepemimpinan politik Islam yang sah dan berdaulat, umat akan terus diposisikan sebagai penonton, sementara masa depan Palestina ditentukan oleh tangan-tangan penjajah dengan kemasan perdamaian.
Dakwah hari ini adalah dakwah untuk membangun kesadaran umat bahwa kemuliaan tidak datang dari tunduk pada kekuatan dunia, melainkan dari keteguhan memegang prinsip Islam dan keberanian menolak kezaliman, dalam bentuk apa pun.
Semoga Allah Ta’ala menjaga rakyat Palestina, menguatkan kesabaran mereka, dan membangunkan umat ini dari kelalaian. Semoga umat Islam kembali memiliki kesadaran, persatuan, dan sikap yang lurus dalam menghadapi kezaliman global.[]


0Komentar