GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

3 Maret 1924: Malapetaka yang Tak Kunjung Sirna

3 Maret 1924: Malapetaka yang Tak Kunjung Sirna

Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba 
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah) 

Tanggal 3 Maret 1924 menjadi hari yang akan senantiasa teringat di benak kepala kaum muslimin sedunia. Hari runtuhnya Daulah Islam yang telah menaungi selama 13 abad lamanya. Cahaya itu menghilang ditelan gelapnya makar para pengkhianat negara. 

Sejak saat itu, kaum muslimin seperti pesawat tanpa ada yang mengendalikan. Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa kompas yang memberikan arah tujuan. Seperti buih, yang banyak tapi tak berdaya saat hadirnya ancaman. 

Perlahan bisa kita saksikan bersama, Palestina digenosida, Uyghur dipaksa dicuci otaknya, Kashmir tak ada yang melindunginya, dan kezaliman lainnya yang terjadi di berbagai penjuru dunia. 

Bukan hanya penjajahan dari fisik, penjajahan itu juga menyasar pola pikir kita. Ghazwul Fikri namanya–atau biasa kita sebut dengan perang pemikiran. Kita akhirnya tanpa sadar terkungkung dalam pemahaman mereka. 

Salah satu dampaknya adalah paham nasionalisme yang tertancap dalam benak kepala kita. Kebanyakan dari kita enggan membela saudara yang satu akidah hanya karena berbeda wilayah. Alasan yang dikemukakan pun sangat klasik, karena negara kita juga banyak masalahnya. 

Padahal sejatinya, masalah ini bukan lagi hanya tentang warganegara–tapi tentang hilangnya perisai yang dahulu selalu melindungi kita. Bukan lagi hanya soal kemiskinan, tapi juga tentang hancurnya sistem yang saat ini diterapkan. 

Dan malapetaka ini sudah lebih dari seratus tahun menimpa kita. Tidakkah kita menyadarinya? Mau sampai kapan kita abai terhadap permasalahan umat muslim sedunia? Mau sampai kapan apatis terhadap nasib saudara kita di wilayah lainnya? 

Kita sebagai gen z yang hidup di zaman yang penuh dengan permasalahan ini, sia-sia rasanya jika kita hanya fokus terhadap permasalahan pribadi tapi abai terhadap urusan saudara sendiri. 

Sejak zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, para sabahat, hingga masa Islam berjaya dan tersebar di dua pertiga dunia, sudah banyak contoh bahwa pelopor perubahan itu adalah dari kalangan pemuda.

Karena di masa inilah, kondisi kita sedang berada di fase terbaiknya. Ketika Allah telah menganugerahkan kepada kita kemampuan, sangat disayangkan jika kita tidak menggunakan dan malah menyia-nyiakannya.

Maka, dakwah bagi kita wahai para pemuda bukan lagi pilihan–melainkan kewajiban yang harus kita tunaikan. Meski tantangan dan rintangan senantiasa hadir menghadang, percayalah bahwa Allah bersama orang yang senantiasa berjuang di jalan-Nya. 

3 Maret 1924 memang merupakan satu potret episode paling kelam dalam sejarah kaum muslimin. Tapi, tanggal itu diingat bukan sekadar untuk bernostalgia–melainkan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam di bawah naungan Daulah Khilafah 'ala min haajin nubuwwah. 

Wallahu a'lam bish showwab.

Artikel ini telah ditayangkan di:
https://www.gudangopini.com/2026/03/3-maret-1924-malapetaka-yang-tak.html
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin