Oleh: Hesti Nur Laili, S.Psi
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Fenomena tragis kembali terjadi di Jembatan Barelang, Batam. Seorang pria dilaporkan terjun dari Jembatan 5 dan jasadnya baru ditemukan setelah pencarian selama tiga hari oleh tim SAR gabungan yang sejak Senin melakukan penyisiran di laut sekitar jembatan. (Batamnews, 26-4-2026).
Peristiwa ini bukanlah yang pertama. Barelang, yang selama ini menjadi ikon wisata dan kebanggaan kota Batam, perlahan berubah menjadi “saksi bisu” berulangnya kasus bunuh diri.
Sepanjang awal tahun 2026 saja, kasus bunuh diri di Batam menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Tercatat setidaknya enam kasus terjadi di berbagai lokasi dalam waktu singkat, menjadi sinyal kuat adanya persoalan serius dalam kesehatan mental masyarakat. (Batampos, 31-3-2026). Bahkan, dalam rentang Januari hingga Maret 2026, sejumlah kejadian kasus bunuh diri telah terjadi di kawasan Barelang, mulai dari Jembatan 1, 3, hingga 5. (Metropolis, 26-3-2026).
Selanjutnya, juga ada upaya bunuh diri yang sempat terjadi di Jembatan 1, namun berhasil digagalkan oleh aparat dan warga sekitar. (Metrobatam.com, 27-3-2026).
Jika ditarik lebih jauh, rentetan kasus-kasus ini bukan sebuah hal baru. Data menunjukkan bahwa sejak 2024, kasus bunuh diri di kawasan Barelang mengalami peningkatan signifikan. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, tercatat belasan percobaan bunuh diri, dengan sebagian besar berujung pada kematian. Artinya, Barelang bukan sekadar lokasi, tetapi telah menjadi simbol dari krisis yang lebih dalam. (gokepri, 26-3-2026).
Fenomena ini menunjukkan bahwa bunuh diri tidak bisa lagi dilihat sebagai persoalan individu semata. Ia adalah akumulasi dari berbagai tekanan yang dihadapi masyarakat. Salah satu faktor yang mencuat adalah ruminasi, atau kondisi di mana seseorang terus-menerus memikirkan masalah tanpa menemukan jalan keluar. Kondisi ini banyak dialami masyarakat Batam saat ini, sebagaimana diindikasikan seorang psikolog bernama Psikolog Irfan Aulia. (Batampos, 31-3-2026)
Namun, ruminasi tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari tekanan hidup yang kompleks, terutama tekanan ekonomi dan tuntutan kehidupan modern. Dalam sistem kapitalisme, manusia dipaksa untuk terus bersaing, mengejar materi, dan bertahan dalam ketidakpastian. Sehingga ketika seseorang gagal memenuhi standar tersebut, ia mudah terjerumus dalam keputusasaan.
Lebih jauh, sistem ini juga cenderung mengabaikan aspek makna hidup. Kehidupan dipersempit menjadi sekadar mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan materi. Akibatnya, ketika tekanan datang bertubi-tubi, manusia kehilangan pegangan. Hidup terasa hampa, tanpa arah, dan tanpa tujuan yang jelas. Inilah yang kemudian melahirkan krisis makna hidup. Seseorang tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga kosong secara batin. Dalam kondisi seperti ini, bunuh diri seringkali dianggap sebagai jalan keluar, meskipun sejatinya bukan solusi.
Maka, maraknya kasus bunuh diri di Batam, khususnya di Barelang, sejatinya adalah cerminan dari kerusakan sistemik dari suatu sistem yang menjadi dasar bagaimana negara ini dikelola. Ia bukan sekadar kegagalan individu dalam menghadapi masalah, tetapi kegagalan sistem dalam menjaga kehidupan manusia secara utuh, baik dari sisi ekonomi, sosial, pendidikan maupun spiritual.
Tentu saja ini sangat berkaitan erat dengan sistem salah tesebut, yakni sistem sekuler-kapitalisme. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sosial sehari-hari, dan sistem kapitalisme yang mengukur segala sesuatu itu berdasarkan materi. Dari sisi pendidikan, peserta didik didorong untuk berprestasi dan bersaing melalui nilai-nilai akademik dan sangat dari pelajaran agama. Saat dewasa, persaingan tak berhenti dengan segala sesuatu yang distandarkan pada materi.
Penghormatan dan penghargaan hanya didapat oleh mereka yang lebih secara materi. Sementara dari sisi ekonomi, negara cenderung abai dengan kondisi harga pasar yang seringkali melambung untuk kebutuhan pokok dan tidak setara dengan penghasilan masyarakatnya. Upah para pekerja dibayar minimal dengan UU yang lebih mementingkan keuntungan perusahaan.
Inilah beberapa faktor penyebab seseorang bisa melakukan bunuh diri. Sistem sekuler-kapitalisme membentuk pola masyarakat yang jauh dengan agama, menjadi pribadi yang konsumtif dan rela mempertaruhkan apapun demi mengejar materi. Hal yang sudah tampak di negara-negara sekuler-kapitalis lain seperti Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat dengan maraknya kasus serupa. Kemudian dengan mirisnya, Indonesia pun menyusul akibat sistem yang sama, meskipun mayoritas penduduknya beragama. Bahkan dengan prosentase Islam lebih tinggi.
Karena kaum muslimin yang menjadi mayoritas di negara ini, khususnya di Batam, enggan mengenal kembali agamanya. Enggan memahami bahwa solusi dari segala persoalan hidup hari ini adalah Islam.
Dalam sistem Islam, kehidupan manusia memiliki tujuan yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah. Tujuan ini memberikan makna mendalam dalam setiap aktivitas kehidupan, termasuk dalam menghadapi ujian dan kesulitan. Seorang Muslim tidak memandang masalah sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang memiliki nilai di sisi Allah.
Namun, pemahaman ini tidak akan kuat jika hanya dibebankan pada individu. Diperlukan sistem yang mendukung terbentuknya keimanan yang kokoh. Dalam Islam, negara memiliki peran besar sebagai pengurus (ra’in) yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya.
Negara wajib menjamin kebutuhan dasar masyarakat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara memfasilitasi dengan baik segala kebutuhan rakyat, memberikan upah tinggi pada pekerja serta yang lebih utama adalah memahamkan kepada umat sejak dini dan sejak berada di bangku sekolah tentang pentingnya mengenal Allah dan menjadi pribadi yang bertaqwa.
Dengan adanya sistem yang demikian, maka kesehatan mental masyarakat lebih terjaga.
Selain itu, negara juga berkewajiban membangun lingkungan sosial yang sehat, yang mendorong masyarakat untuk saling peduli dan menguatkan. Bukan lingkungan yang individualistik dan kompetitif seperti dalam sistem sekuler-kapitalisme saat ini.
Lebih dari itu, penerapan syariat Islam secara menyeluruh akan membentuk masyarakat yang memiliki orientasi hidup yang jelas. Hidup tidak lagi sekadar mengejar dunia, tetapi juga akhirat. Dengan demikian, manusia memiliki alasan untuk tetap bertahan, bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun.


0Komentar