Oleh: Ria Nurvika Ginting,SH,MH
(Dosen-FH)
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, salah satu tradisi yang rutin dilakukan oleh umat muslim yang merantau adalah mudik. Mudik dalam rangka bersilaturahmi dengan sanak keluarga di kampung halaman. Para pegawai mengambil cuti bersama bahkan pemerintah telah menerapkan WFH (work from home) agar pegawai bisa mudik lebih awal sehingga kemacetan pun bisa ditanggulangi. Para mahasiswa yang berada jauh dari keluarganya juga sudah bersiap-siap untuk berlibur.
Namun, arus mudik tetap mengalami peningkatan yang signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Kemacetan panjang pun terpantau di sejumlah titik, terutama di kawasan Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mengular hingga mencapai lima kilometer. Berdasarkan laporan di lapangan pada Rabu pagi, antrean kendaraan menuju Jawa mencapai sekitar 11 kilometer dari arah Denpasar hingga depan SD 5 Melaya. Kepadatan tersebut didominasi kendaraan pribadi. Untuk mengurai antrean, petugas melakukan sejumlah langkah seperti percepatan kendaraan prioritas, pengantongan kendaraan di Terminal Cargo Gilimanuk dan Jembmatan Timbang Cekik, serta optimalisasi buffer zone dengan sistem kanalisasi. (Kompas.com, 18-03-2026)
Kecelakaan lalu lintas di lebaran 2026 ini juga mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun lalu. Paminbinwas Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno menyampaikan bahwa untuk laka lantas selisih di tahun 2025-2026 naik 1,97%. Meski jumlah korban jiwa mengalami penurunan, angka korban luka akibat kecelakaan meningkat. Neno menyampaikan bahwa sebanyak 22 kecelakaan di antaranya terjadi pada ruas tol. Paling banyak terjadi di ruas tol daerah Subang, Jawa Barat. (kumparanNEWS.com, 19-3-2026)
Paradigma Salah dalam Transportasi
Kecelakaan maut terjadi ketika arus mudik di Tol Pejagan-pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara Bus dengan mobil LCGC Toyota Calya. Kecelakaan terjadi pada Kamis (19/3) pagi, jalur kecelakaan saat itu digunakan untuk one way arah Pemalang. Kecelakaan ini mengakibatkan empat orang penumpang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka. Selain itu, dilaporkan bahwa seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah, berinisial RP, meninggal dunia usai tak sadarkan diri ketika mengantre berjam-jam di dalam bus yang hendak keluar dari Pelabuhan Gilimanuk, Jembaran, Bali. (kumparanNEWS.com, 19-3-2026)
Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang menyampaikan bahwa “antrean parah” yang terjadi di Pelabuhan Gilimanuk, Jembarana, Bali, sejak Minggu (15-3-2026) menunjukkan kelalaian dari Kementerian Perhubungan dalam menjalankan manajemen penyebrangan laut. Hal ini disebabkan INSTRAN telah memberikan peringatan jauh-jauh hari kepada Kemenhub untuk mengantisipasi lonjakan arus mudik Idul Fitri yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. (suara.com, 19-3-2026)
Kecelakaan lalu lintas di saat mudik sudah berulang terjadi. Hal ini bisa disebabkan oleh kuallitas infrastruktur yang tidak memadai atau pun kondisi pemudik dan juga aspek lainnya. Seharusnya permasalahan ini bisa diantisipasi dan diminimallisir bahkan nol kecelakaan. Permasalahan transportasi ini bukan sekedar masalah teknis tetapi merupakan masalah sistemik. Paradigma yang salah bersumber dari paham kapitalis-sekuler yang mengesampingkan aturan agama dan dalam kehidupan. Segala sesuatu dinilai dengan untung-rugi, begitu pun dengan transportasi dianggap sebagai sebuah industri yang dapat menghasilkan keuntungan sehingga dikomersialisasikan sebab orientasinya materi.
Paradigma ini yang meletakkan fasilitas umum dapat dimiliki oleh seseorang atau kelompok. Urusan trasportasi diserahkan dan dikuasai oleh perusahaan atau swasta yang secara otomatis memiliki fungsi bisnis bukan pelayanan. Bahkan Negara bisa tunduk pada para kapital transportasi.
Menurut kapitalis, pelaksanaan pelayanan publik negara hanya berfungsi sebagai legislator yang bertindak sebagai operator diserahkan kepada mekanisme pasar. Layanan transportasi dikelola swasta atau pemerintah dalam pandangan komersil, akibatnya harga tiket transportasi publik mahal namun tidak disertai dengan layanan yang memadai. Fasilitas tol bekerjasama dengan swasta hingga rakyat harus membayar jika ingin menikmatinya. Apabila ada ruas jalan yang rusak tidak ada perbaikan secepatnya karena jalur tersebut bukan jalur utama. Jika diperbaiki maka diperbaiki dengan kualitas yang buruk.
Islam Solusi Tuntas Masalah Transportasi
Kasus Kecelakaan saat mudik yang berulang tidak boleh dianggap kasus rutinitas musiman yang ditanggapi dengan seadanya. Hal ini menunjukkan, gagalnya sistem kapitalis-sekuler menyediakan sarana transportasi aman, nyaman, dan murah. Dalam sistem Islam Mudik menjadi perhatian penting oleh kepala negara (khalifah). Mudik tidak hanya sebagai sebuah tradisi Lebaran. Mudik merupakan kesempatan biruwalidain dan silatuhrahmi bagi umat muslim. Mudik yang berkaitan dengan sistem transportasi maka Khalifah akan memastikan jalur-jalur mudik tersedia dengan baik sampai kepelosok desa.
Sistem Transportasi harus memenuhi standar baik yakni dapat diakses dengan mudah, nyaman dan terjangkau, yang terpenting jalur tersebut harus dirancang agar kecelakaan bisa diminimalisir. Hal ini merupakan wujud negara menjalankan perannya menjaga jiwa rakyat. Karena salah satu fungsi diterapkannya syariat adalah untuk menjaga jiwa. Selain itu, kepala negara (khalifah) memiliki fungsi sebagai pengurus urusan umat sebagaimana hadist Rasulullah saw.:”Pemimpin pengurus urusan rakyat dan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."(HR.Bukhari)
Mekanisme sistem transportasi dalam Daulah adalah dengan membangun jalan raya yang secara totalitas diproses dengan baik dan diperbaiki dengan kualitas terbaik mulai dari pemilihan bahan dan proses perbaikannya. Apakah jalan itu jenis yang diaspal atau dibeton. Selain itu juga akan memperbaiki sarana lainnya seperti lampu penerangan jalan, titik rest area, dan sejenisnya. Khilafah akan mengerahkan ahli sipil, perancang bangunan dan tenaga ahlinya untuk mewujudkan hal tersebut. Sungguh peran para ahli dan inteletual sangat dibutuhkan disini.
Khilafah juga akan menyediakan moda transportasi dengan teknologi terbaru, dengan tingkat keselamatan tinggi dan berkualitas. Standar aman, nyaman dan terjangkau harus terpenuhi sehingga mempermudah masyarakat dalam mobilitas termasuk mudik. Swasta juga boleh untuk menyediakan fasilitas ini sesuai standar negara. khilafah juga akan membangun industri strategis, industri transportasi, industri IT, dan industri yang saling mendukung yang mana menghindarkan rakyat dari hal-hal yang mengganggu perjalanan sehingga dapat terhindar dari kecelakaan. Sementara dana transportasi/infrastruktur akan diambil dari posko kepemilikan negara dan kepemilikan umum yang tersedia di Baitul Maal. Hal ini hanya dapat terwujud dengan diterapkannya syariat Islam secara sempurna dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiah.


0Komentar