Oleh: Nai Ummu Maryam
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Krisis listrik di Lingga, Kepulauan Riau memang sangat menyedihkan. Masyarakat setempat telah lama mengalami pemadaman listrik bergilir. Kondisi seperti ini terus berulang dan belum menemukan solusi tuntas di tengah kondisi alam negara Indonesia yang kaya dengan batu bara. Wajar, masyarakat setempat menuntut kompensasi dari PLN dan pemerintah karena berdampak pada kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan (RadarKepri.com, 30-3-2026).
Buruknya penempatan prioritas rakyat terhadap kebutuhan vital seperti listrik seharusnya menjadi refleksi tanggung jawab negara. Tidak bisa dimungkiri bahwa kondisi seperti ini disebabkan banyak keterbatasan, mulai dari kondisi geografis wilayah, anggaran yang terbatas hingga minimnya pasokan dan infrastruktur listrik.
Kendati demikian, sebenarnya masih ada pilihan, di tengah gencarnya program MBG yang menyerap dana fantastis seharusnya dana tersebut di alokasikan kepada infrastruktur yang lebih urgen seperti listrik. Karena dengan adanya listrik dapat mendorong dan memudahkan sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan jalannya roda pemerintahan.
Dalam pandangan Islam, negara berperan penting sebagai ra'in atau pengurus urusan umat termasuk menyediakan akses listrik bagi rakyatnya. Dari pengelolaan sumber daya alam seperti batu bara yang melimpah seharusnya dapat didistribusikan secara adil dan merata.
Dalam sebuah hadis, dikatakan bahwa umat atau rakyat berserikat atas tiga hal, yaitu air, api, dan rumput. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda:
النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلَاءِ وَالنَّارِ
Artinya: "Manusia itu berserikat dalam tiga hal: air, rumput, dan api." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Hadis ini menjelaskan bahwa ada tiga hal yang merupakan kebutuhan pokok manusia dan harus dapat diakses oleh semua orang, yaitu:
1. Air (مَاءِ) seperti laut, sungai dan sumber mata air lainnya.
2. Rumput (كَلَاءِ), yang dapat diartikan sebagai padang rumput atau lahan.
3. Api (نَّارِ), yang dapat diartikan sebagai sumber energi atau bahan bakar seperti listrik.
Hadis ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam bagi kepentingan rakyat.
Pengadaan infrastruktur listrik adalah tanggung jawab negara, namun sebagai rakyat harus bijak dan hemat dalam memanfaatkan listrik ke depannya.
Dalam sistem Islam, sumber daya alam seperti batu bara adalah tanggung jawab negara untuk mengelolanya secara mandiri yang mana hasilnya nanti dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rakyatnya dalam bentuk penyediaan listrik yang murah bahkan gratis.
Dalam sistem Islam, negara akan terus memperbaiki layanan dengan mempekerjakan para ahli di bidangnya, dan terus mengontrol jalannya pasokan listrik. Negara sebagai ra'in akan menjadikan kebutuhan rakyat sebagai prioritas dan tanggungjawab di hadapan Allah Swt. baik dunia hingga akhirat.


0Komentar