Oleh: Zahidah Sumayyah
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Zalim! Dehumanisasi terhadap muslim di Palestina oleh zionis Israel adalah kondisi yang sangat memprihatinkan sekaligus mengerikan. Peristiwa ini telah berlangsung selama puluhan tahun bahkan semakin intens dalam konflik belakangan ini.
Mekanisme yang dilakukan secara sistematis dalam bentuk kekerasan dan genosida. Anak - anak yang sudah mati pun tidak boleh untuk di kuburkan di tanah mereka sendiri, bahkan harus dibongkar dan dipindahkan.
Yang hidup, tetap menjadi sasaran berikutnya untuk digenosida, dibunuh dan ditindak dengan kekerasan,bahkan banyak anak - anak di jalur Gaza yang terjangkit penyakit dan beragam masalah medis lainnya, karena minimnya para dokter yang menangani di wilayah Gaza dan sekitarnya.
Dan saat ini, Israel telah memperluas wilayah pendudukan di jalur Gaza,Palestina,hingga 59% wilayah tersebut. Yang sebelumnya terjadi gencatan senjata pada Oktober 2023 Israel menguasai sekitar 53% wilayah jalur Gaza. Di mana sebelumnya gencatan senjata tersebut dimaksud untuk mengakhiri serangan Israel selama dua tahun di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 orang lainnya,serta menghancurkan 90% infrastruktur sipil, dan itu akan membuat Israel mempersiapkan kembali genosida di wilayah Palestina.
Menurut Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR)menyebutkan bahwa jalur Gaza merupakan tempat paling mematikan di dunia bagi para jurnalis. Dari kepala HAM PBB mengatakan perang yang hingga kini masih berlangsung telah menjadi jebakan maut bagi media.
OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023,ketika zionis Israel mulai meluncurkan agresi ke Gaza. Selain itu sejumlah besar jurnalis juga mengalami luka selama melakukan peliputan di wilayah Gaza dan sekitarnya. (Antara.news.com, 4-05-2026)
Sementara itu, jumlah korban tewas akibat agresi zionis di jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang,dengan 172.535 lainnya terluka. Lalu di Oktober 2025 diberlakukannya gencatan senjata telah mencapai 850 korban tewas dan yang terluka bertambah hingga 2.433 orang.
Menurut tim medis setempat, sebanyak 770 jasad masih terjebak di bawah reruntuhan yang masih belum terjangkau dengan kondisi lapangan yang belum kondusif. (Antara.News.com,10-5-2026).
Sebenarnya, dengan berulang kali genosida yang dilakukan Zionis Israel ini membuktikan bahwa sekali pun mereka melakukan kesepakatan gencatan senjata mereka tidak memperdulikannya. Dan akan terus menerus menyerang Gaza sebagaimana dukungan politik, militer, dan keuangan dari AS mereka dapatkan demi memperluas pendudukannya. Bahkan bagian dari upaya mereka agar membungkam pers dari menyiarkan kejahatan pada dunia, tindakan zionis adalah menargetkan pembunuhan kepada para jurnalis. Harusnya dunia dan kaum muslimin tidak boleh diam atas yang terjadi di Gaza.
Di mana akar permasalahan Gaza adalah adanya keberadaan entitas zionis di tanah milik muslim Palestina sehingga entitas zionis harus di hapuskan dari muka bumi.
Setiap warga Palestina baik anak - anak, perempuan dan laki-laki dibunuh secara kejam di depan mata dunia. Meskipun dunia tahu ini merupakan pelanggaran HAM bagi mereka, namun tak ada satu pun negara yang menghentikan perbuatan biadab Zionis Israel.
Seharusnya perbuatan ini tidak dapat ditoleransi dengan perjanjian damai tetapi harus adanya jihad oleh tentara kaum muslimin.
Lebih dari 50 penguasa di negeri muslim juga turut membisu dan tidak bergerak membantu melakukan pembebasan Palestina dengan jihad sebab mereka terbelenggu oleh sekat nasionalisme yang mengikis ukhuwah Islamiyah serta meruntuhkan tembok syariat terhadap seruan jihad fisabilillah. Sehingga menjadikan kaum muslimin lemah dan tercerai berai.
Inilah keberhasilan barat yang telah memalingkan pemikiran, pemahaman, serta hati nurani kaum muslimin sehingga Palestina masih terjajah.
Kebangkitan itu hendaknya harus ada di sisi kaum muslimin dengan pemikiran yang cemerlang agar mampu menyadarkan umat atas penjajahan yang dilakukan atas sistem yang zalim saat ini.
Tidak ada pemersatu kaum muslimin dalam suasana ukhuwah Islamiyah secara hakiki untuk membebaskan Palestina kecuali terwujud dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Satu-satunya institusi pemersatu umat sedunia dengan seruan dakwah dan jihad yang mampu menggetarkan musuh hingga membebaskan manusia dari penghambaan selain Allah Swt.
Khilafah akan menghentikan para zionis dan genosidanya terhadap Palestina sekaligus mengembalikan marwah dan tanah Palestina pada pemiliknya, serta meriayah warga Palestina agar hidup dengan kemuliaan Islam.
Memerangi Zionis Israel yang telah membantai dan genosida kaum muslimin adalah wajib. Sebagaimana kafir harbi fi’lan wajib untuk dibinasakan karena telah memerangi Islam secara terang-terangan, tidak ada solusi selain jihad, bukan dengan gencatan senjata atau two state seperti tawaran yang telah dikeluarkan oleh PBB atau ala barat.
Sudah sepantasnya urgensi agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini adalah penegakan Khilafah, yang mampu mengkoordinir, melindungi dan mengerahkan persatuan umat, pergerakan militer di dunia Islam membebaskan Palestina bahkan juga negeri -negeri kaum muslimin yang masih terjajah oleh zionis dan barat serta musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Berjuang merealisasikan tegaknya Khilafah adalah bukti keimanan seorang muslim akan janji Allah dan berita gembira dari Rasulullah saw.
Allah Swt. berfirman, ”Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS An-Nur [24]: 55).
Juga bisyarah Rasulullah saw., ”Kemudian akan datang masa Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.” (HR Ahmad).
Semoga segera dengan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah kemuliaan Islam tercurah bagi seluruh alam. Wallahu a’alam bishawab.


0Komentar