GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Memudarnya Adab Pelajar Terhadap Guru: Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Memudarnya Adab Pelajar Terhadap Guru: Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Oleh: Oryza Sativa
Anggota (Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok) 

Sederet kasus kekerasan fisik terhadap guru yang dilakukan murid belakangan ini semakin memprihatinkan bahkan sudah diluar batas normal. Kasus siswi SMA di Langsa yang menjambak dan mencekik gurunya menjadi gambar suram potret pendidikan saat ini (tvonenews.com, 25-4-2026). Sederet insiden lain yang pernah mencuat guru diancam murid, bahkan dijerat hukum hanya karena menegur menambah daftar panjang nasib guru dihinakan bukan lagi digugu dan ditiru.

Beberapa waktu lalu kembali menyeruak kasus meresahkan bahkan tidak bermoral. Aksi beberapa siswa yang mengolok-olok sambil mengacungkan jari tengah kepada gurunya terjadi di SMA 1 Purwakarta (news.detik.com, 18-4-2026). Perlu diketahui bahwa mengacungkan jari tengah itu sebagai bentuk penghinaan karena bermakna kurang ajar.

Alih-alih memberikan hukuman yang berat, para siswa tersebut hanya mengikuti program pembinaan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui akun Instagramnya, @dedimulyadi71, menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut dan menerima laporan kronologi. Dedi menyarankan sanksi untuk siswa bersifat pembinaan karakter. Untuk ke depannya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat berharap pembinaan untuk para siswa ditingkatkan guna mencetak generasi terpelajar yang berintegritas serta memiliki moral luhur.

Jika dicerna lebih dalam, fenomena yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pendidikan yang diterapkan saat ini. Dalam sistem saat ini, pendidkan hanya mengerucut untuk menjadi alat yang menghasilkan tenaga kerja dan produktif secara ekonomi. Keberhasilan diukur melalui angka-nilai. Sementara karakter dan adab hanya menjadi pelengkap kurikulum. 

Fenomena penghinaan hingga kekerasan terhadap guru yang marak terjadi belakangan ini bukan sekadar kasus individual, melainkan gejala berulang yang menunjukkan krisis dalam dunia pendidikan. Posisi guru yang dahulu dihormati sebagai pendidik dan pembentuk karakter kini perlahan bergeser menjadi sekadar penyampai materi, bahkan kerap diperlakukan layaknya pihak yang harus “melayani” siswa dan orang tua.

Sejak Indonesia merdeka hingga saat ini wajah kurikulum pendidikan terus berganti mengikuti perubahan kebijakan Menteri Pendidikan. Setiap ganti kurikulum berganti pula arah target pendidikan. 

Akar persoalan ini dapat ditelusuri pada paradigma pendidikan kapitalistik sekuler yang mendominasi saat ini. Dalam sistem tersebut, pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menghasilkan individu yang unggul secara akademik serta ekonomi. Akibatnya, aspek pembentukan karakter dan adab sering kali terpinggirkan. Nilai moral menjadi relatif karena tidak lagi berlandaskan keyakinan yang kokoh, sementara relasi antara guru dan murid berubah menjadi hubungan transaksional seperti penyedia jasa dan konsumen.

Dampaknya, lahirlah generasi yang saat ini sering menghiasi pemberitaan dengan narasi yang negatif. Mungkin cerdas secara intelektual tetapi lemah dalam hal moral dan penghormatan. Mereka lebih peka terhadap hak daripada kewajiban, serta kurang memiliki kesadaran untuk menghargai guru sebagai sosok yang berjasa dalam proses pembelajaran.

Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan perubahan mendasar. Pendidikan harus kembali berorientasi pada pembentukan karakter, bukan sekadar capaian akademik. Peran guru perlu dipulihkan dan dilindungi, keluarga harus aktif menanamkan adab sejak dini, serta masyarakat perlu membangun budaya yang memuliakan ilmu dan para pendidik.

Dengan perubahan paradigma tersebut, penghormatan terhadap guru tidak lagi dipaksakan melalui aturan, tetapi tumbuh dari kesadaran. Inilah kunci untuk mengembalikan martabat guru sekaligus memperbaiki arah pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapia juga beradab. Jika sistemnya masih bertumpu pada kapitalis sekuler, akan kah mampu memberi solusi terhadap paradigma pendidikan sesuai harapan?

Sebagai solusi, Islam menawarkan paradigma pendidikan yang berbeda. Pendidikan dalam Islam tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian yang berlandaskan akidah. Dalam sistem ini, guru memiliki kedudukan tinggi sebagai pembimbing dan pembina karakter, sementara menghormati guru menjadi bagian dari adab yang bernilai ibadah.

Kisah gemilang keberhasilan dunia pendidikan dari masa ke masa dalam sistem pendidikan Islam ditandai dengan lahirnya peradaban yang maju, pusat-pusat ilmu pengetahuan, dan integrasi antara ilmu agama dan sains. Kurikulum pendidikan berfokus pada Al-Qur'an dan Hadits yang menekankan pada nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan kepemimpinan.

Sistem pendidikan Islam berhasil mencetak generasi intelektual yang menguasai ilmu agama (tafaqquh fiddin) dan ilmu umum, seperti Ibnu Sina a(kedokteran) dan Al-Khawarizmi (matematika). Pendidikan dalam sistem Islam berorientasi pada tauhid sebagai dasar utama untuk memahami kehidupan dan mencari ridha Allah Swt.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin