Oleh: Nai Ummu Maryam
Dulu aku mengira rumah yang selalu jadi tempat terhangat
Ternyata ada dingin dan ego yang diam-diam merayap
Dari pikiran yang menuhankan materi
Dari sikap yang tak amanah
Dari peluk yang enggan berbicara
Aku kecewa
Pada telinga yang tak sempat mendengar keluh kesahku
Pada air mata yang sibuk mengejar dunia bukan aku
Pada hati yang kurkira ikhlas untukku, ternyata punya ruang yang tak bisa kusentuh
Aku mengumpulkan sejuta tanya di kepala
Mengapa aku tak dibanggakan?
Salahku di mana?
Tapi diamku mematahkan pertanyaan itu, buat apa pengakuan manusia yang serba terbatas
Pertanyaan itu terus menggema dalam ruang kecewa
Lalu waktu mengajariki satu hal
Orang tua juga manusia
Yang tumbuh dengan luka dari orang tuanya juga
Yang kehilangan kasih sayang sejak dini
Mereka mencintaiku dengan cara yang mereka tahu
Namun kadang menyakitkanku
Aku marah, terluka, dan kecewa
Tapi aku lelah membawa beban ini sendirian
Seperti mendayung perahu bocor, makin jauh makin karam
Maka, detik ini kupilih berhenti, menerima dan memaafkan
Aku ingin sembuh dari luka pengasuhan
Ku ikhlaskan bukan karena aku lupa
Aku ingin belajar jadi anak yang memaafkan
Dan mungkin,
Itulah bentuk cinta kita yang paling dewasa.
Batam, 9 Juni 2026


0Komentar