Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd
(Pemred Bumi Gurindam Bersyariah)
"Hanya bisa berucap: Astaghfirullah hal azim, la haula wa la quwwata Illa billah," hanya kata itu yang mampu kuucap dan kutulis dalam story WhatsApp.
Hari ini, Kamis, 11 Juni 2026. Cuaca Batam redup, seredup hatiku saat ini.
Betapa tidak. Sesaat lagi, di akhir Juli 2026 keberangkatan anak gadisku untuk menuntut ilmu ke bumi para nabi, yaitu Al-Azhar, Kairo, Mesir. Satu-satunya kota yang di sebut di dalam Al-Qur'an sebagai pusatnya orang menuntut ilmu.
Di lain sisi, biaya $2.600 harus dilunasi maksimal pertengahan Juli 2026.
Setiap hari aku selalu memantau pergerakan harga emas. Karena sedikit tabungan yang aku miliki untuk pendidikan anakku berupa emas.
Shock seketika. Badanku mendadak lemas dan gemetaran. Buliran bening itu pun tak lagi bisa kubendung.
Harga emas (Antam & UBS) per hari ini terjun bebas, 2.692.000/ gram.
Seketika aku pegang benda persegi panjang itu dan kuhubungi beberapa kawan, tempat di mana aku biasa bercerita bebas. Dia adalah Nai Ummu Maryam. Dengan nama asli Reni Adelina. Kami cukup dekat. Karena visi misi hidup kami dan dalam jalan dakwah ini memiliki banyak kesamaan.
"Harga emas anjlok, Nai. Sumpah Bunda galau," tulisku dalam sebuah pesan WhatsApp.
"Memang betul bunda. Ini tak tik AS agar para investor beralih ke dolar dan ragu pada emas. Pola nya dibuat berbeda," jawabnya lugas dan sangat logis.
Aku masih tergugu ketika jadwal memberikan obat rutin untuk bapakku yang positif TBC, seakan tak sanggup untuk berdiri.
"Jangan jual dulu berarti bun!
Tunggu di bulan 7 awal. Mana tau dinamika ekonomi berubah.
Jangan putus asa dulu. Tahan dulu emasnya yaa," sarannya sedikit membuatku bisa berpikir.
Namun tak berhenti sampai di situ. Hati dan pikiranku yang saat ini laksana benang kusut, segera menghubungi sosok yang biasa tempat aku bersandar saat gundah menyelimuti.
"Harga emas makin anjlok, Yah. Sumpah badan Bunda mendadak lemas dan gemetaran," tulisku dengan deraian air mata.
"Engak apa-apa Bun, insyaAllah bisa naik sebelum pertengahan Juli," tulisnya begitu yakin dan berhasil membuatku seolah memiliki harapan baru.
"Yang sabar, kan Bunda sendiri yang mengingatkan Ayah tentang perlunya bertawakkal kepada Allah.. Masih ada waktu sebulan lagi," jawaban begitu tenang, bak salju yang menyejukkan.
Seketika aku sadar. Ada Allah Swt. tempat untuk berkeluh kesah, mengadu dan meminta dengan penuh harap. Perlahan, aku tarik nafas panjang dan berserah diri kepada-Nya.
Selesai


0Komentar