Oleh: Margaret Erfika
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Maraknya LGBT hari ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kasus perorangan atau sekadar pilihan gaya hidup. Fenomena ini makin terbuka, merambah berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan remaja, mahasiswa, hingga mereka yang memiliki jabatan dan pengaruh. Bahkan berbagai komunitas dan jaringan yang terkait dengan perilaku menyimpang ini makin berani menampakkan diri di ruang publik.
Kasus yang baru saja viral tentang Mahasiswa sesama jenis yang tercatat sebagai Mahasiswa Perguruan Tinggi (PNJ) yang terang terangan melakukan aksi tak senonoh di kawasan sudut kampus.
LGBT yang melibatkan mahasiswa di lingkungan kampus hanyalah puncak gunung es. Kampus yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi intelektual dan pemimpin masa depan justru mulai tercoreng oleh perilaku yang bertentangan dengan fitrah manusia. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang terancam bukan hanya moral individu, tetapi masa depan generasi bangsa.
Dalam Islam, perilaku homoseksual merupakan perbuatan yang diharamkan. Kisah kaum Nabi Luth as. menjadi pelajaran bahwa penyimpangan seksual yang dinormalisasi akan membawa kerusakan besar dalam masyarakat. Karena itu, Islam tidak pernah memandang masalah ini sebagai sesuatu yang boleh dibiarkan atau dianggap wajar.
Munculnya berbagai komunitas, influencer dan jaringan yang mempromosikan atau mewadahi perilaku menyimpang harus menjadi peringatan serius. Umat tidak boleh diam ketika kemaksiatan mulai dipoles menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Pembiaran hanya akan membuka pintu kerusakan yang lebih luas dan menyeret generasi muda semakin jauh dari fitrah yang telah Allah tetapkan.
Sudah saatnya umat menyadari bahwa ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan peradaban. Solusinya bukan normalisasi, bukan toleransi terhadap kemaksiatan, tetapi mengembalikan kehidupan kepada aturan Allah. Pendidikan akidah yang kuat, keluarga yang kokoh, masyarakat yang menjalankan amar makruf nahi mungkar, dan penerapan syariat Islam secara menyeluruh adalah benteng yang mampu menjaga fitrah manusia dan melindungi generasi dari arus kerusakan moral.
"Ketika yang batil mulai dianggap biasa, maka diam adalah awal dari bencana. Menjaga fitrah bukan pilihan, melainkan kewajiban."


0Komentar