Rupiah melemah hingga terus mencetak rekor terendah sepanjang sejarah. Menembus Rp 18.025 per dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan data perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.
Bahkan bapak Presiden menyatakan, "Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar," kata Prabowo dalam peresmian Kopdes Merah Putih seperti dikutip dari siaran YouTube Sekretariat Presiden (detikNews, 18-5-2026).
Dampak inflasi menjadi perhatian karena kenaikan harga BBM akan mendorong naiknya biaya transportasi dan distribusi barang. Harga kebutuhan pokok berpotensi naik, sementara daya beli masyarakat menurun.
Efek rupiah melemah terhadap dolar menjalar hingga ke masyarakat karena struktur industri Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Pelemahan rupiah semakin menyengsarakan, ditambah lagi menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah perubahan struktur pekerjaan yang semakin bergeser dari sektor formal ke informal.
Pelemahan nilai tukar Rupiah dipandang sebagai buah dari sistem ekonomi kapitalis yang menggunakan uang kertas (fiat money) tanpa jaminan nilai intrinsik.
Sedangkan sistem Islam telah mensyariatkan emas dan perak sebagai standar mata uang, ini merupakan sistem mata uang terbaik di antara sistem yang lain. Dinar dan dirham memiliki nilai intrinsik dan ekstrinsik.
Hadis Rasulullah saw. menyatakan “Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak).” (HR Imam Ahmad)
Oleh karenanya nilai mata uang melemah termasuk rupiah adalah masalah serius yang harus segera diatasi. Hanya sistem Islam yang mampu menjaga dan menyejahterakan kehidupan masyarakat, karena aturan yang sempurna hanya lahir dari Sang Pencipta Allah Swt, bukan berasal dari manusia. Wallahualam bisawab.
Rensi Nurmadhani
(Aktivis Muslimah Batam)


0Komentar