Oleh: Tuti Setia
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Tahun Baru Islam 1448 H kembali datang. Masjid dipenuhi doa, media sosial dipenuhi ucapan, dan banyak orang berbicara tentang hijrah. Padahal, makna hijrah tidak pernah sekadar berpindah kalender, melainkan berpindah cara berpikir dan pandangan cara hidup. Momentum 1 Muharam memang sejak awal dimaksudkan sebagai pengingat peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah, sebuah perubahan besar yang lahir dari keberanian menghadapi realitas, bukan menghindarinya.
Yang menarik, krisis terbesar bangsa hari ini mungkin bukan ekonomi, politik, atau teknologi. Krisis terbesar adalah ketika masyarakat semakin terbiasa dengan himpitan komplitnya masalah.
Korupsi dianggap biasa. Ketimpangan dianggap wajar. Sulitnya mencari pekerjaan dianggap takdir yang harus diterima. Anak muda yang frustrasi dianggap kurang bersyukur, kenakalan remaja dan seks bebas dianggap biasa, LGBT dianggap anggap lumrah dan masih banyak deretan masalah yang tidak terselesaikan oleh sistem kapitalisme sekuler saat ini.
Muharam seharusnya mengingatkan bahwa perubahan tidak dimulai dari kenyamanan. Hijrah Nabi terjadi karena ada keberanian untuk mengakui bahwa keadaan saat itu tidak baik-baik saja. Ada keberanian untuk keluar dari zona yang tidak sehat menuju keadaan yang lebih baik.
Di Indonesia hari ini, banyak anak muda menghadapi kenyataan yang tidak mudah. Biaya hidup meningkat, persaingan kerja makin ketat, dan rasa percaya terhadap institusi publik sering kali terkikis oleh berbagai kasus yang berulang. Dalam kondisi seperti ini, optimisme bukan lagi sesuatu yang otomatis dimiliki; ia harus diperjuangkan.
Karena itu, hijrah yang paling relevan pada Muharam tahun ini mungkin bukan sekadar hijrah dari maksiat menuju taat. Tetapi juga hijrah dari sikap pasif menuju peduli, dari mengeluh menuju berkontribusi, dan dari apatis terhadap keadaan menjadi berani memperbaikinya. Sebagaimana firman Allah Swr. surah Ar-Rad :11
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ.
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS 13.Ar-Ra'd : 11)
Sebab sebuah bangsa tidak runtuh ketika menghadapi banyak masalah. Bangsa mulai kehilangan masa depannya ketika generasi mudanya percaya bahwa masalah-masalah itu tidak mungkin diubah.
Muharam mengajarkan bahwa sejarah besar selalu dimulai oleh orang-orang yang menolak menyerah pada keadaan. Dan mungkin, itulah hijrah yang paling kita butuhkan hari ini.
Perubahan sejati sebagaimana Allah Swt. perintahkan yakni perubahan yang dilakukan dengan skala individu dengan dakwah merubah dirinya dengan kedekatan kepada Allah Swt. dengan merubah masyarakat dan negara dengan menyatukan pemikiran, perasaan dan peraturan sebagaimana tuntunan Rasulullah saw. dengan menyerukan melanjutkan kehidupan Islam dengan bingkai syari'ah dan Khilafah. Wallahu'alam bish shawab


0Komentar