Oleh: Ariyanti Husna
(Aktivis Muslimah)
Aksi tawuran antar warga yang melibatkan ormas Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) pecah di jalan Pulau Sicanang lingkungan 6 Blok D, kelurahan Sicanang Kecamatan Medan Belawan, Rabu malam sekitar pukul 23.45 WIB (Sentralberita, 27-5-2026).
Dalam aksi tawuran tersebut para pelaku saling menyerang menggunakan kayu, batu hingga senjata tajam berupa klewang dan celurit. Sempat memanas dan akhirnya berhasil dikendalikan oleh aparat kepolisian. Tawuran seperti ini sudah sering terjadi dan aksi ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar melainkan sudah beralih ke pinggiran kota hingga ke pedesaan.
Meskipun kerap terjadi, tapi apa yang dilakukan oleh masyarakat dan ormas ini jelas-jelas merupakan perbuatan yang tidak boleh dinormalisasi sebab hal ini sangat membahayakan bahkan sampai kepada mengancam nyawa. Lihatlah bagaimana mereka menggunakan berbagai jenis senjata tajam untuk melindungi diri. Alih-alih melindungi diri senjata-senjata ini justru menjadi alat untuk menyakiti. Bayangkan saja jika setiap orang membawa senjata tajam dan mereka acuhkan lalu dilempar ke musuh sungguh sangat berbahaya dan mengerikan seakan nyawa manusia tidak berharga.
Budaya liberal atau kebebasan yang ada dalam sistem kapitalisme membuat masyarakat menganggap bahwa negara menjamin kebebasan individu untuk mengekspresikan diri mereka termasuk ekspresi atas emosi dan kemarahan pada lawan mereka. Selain itu, prinsip sekuler yang di adopsi sistem hari ini memperparah kondisi yang ada. Sekuler atau pemisahan kehidupan dengan agama membuat masyarakat merasa bebas melakukan apapun tanpa batasan. Padahal Islam senantiasa mengatur batasan dalam setiap aktivitas hamba-Nya.
Kedua prinsip di atas merupakan bencana bagi umat sebab makna kebebasan yang dimaksud bersifat umum yang tidak bernilai dan jika dipakai akan menciptakan kebebasan yang kebablasan bukan kedamaian justru kerusakan yang akan didapatkan.
Dalam pandangan Islam tawuran terjadi karena lemahnya iman dan kurangnya penerapan nilai-nilai syariat dalam kehidupan. Solusinya bukan sekadar peringatan dan hukuman tetapi pembinaan akhlak dan kepribadian Islam dimana kepribadian pada setiap manusia terbentuk oleh aqliyah (pola pikir) dan nafsiyahnya (pola sikap).
Aqliyah (pola pikir ) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu yakni cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Ketika seseorang memikirkan sesuatu untuk mengeluarkan keputusan hukum terhadapnya dengan menyadarkan kepada akidah Islam maka aqliyah yang merupakan aqliyah islamiyah atau pola pikir islami.
Sedangkan nafsiah (pola sikap) adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan gharizah atau naluri dan hajat al adhawiyah atau kebutuhan jasmani yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya. Jika pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani tersebut dilaksanakan dengan sempurna berdasarkan akidah Islam maka nafsiyahnya dinamakan dengan nafsiyah islamiyah.
Pendidikan harus menanamkan ketakwaan anda beserta bertanggung jawab sosial agar masyarakat dan ormas terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara yang baik bukan dengan kekerasan.
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki pemikiran, perasaan dan aturan yang satu. Dan sesama kaum muslim adalah bersaudara. Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah atau perbaikilah hubungan antar kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS Al-Hujurat ayat 10)
Darinya kebangkitan umat akan terlaksana yakni dengan diterapkannya syariat dalam kehidupan dan hanya bisa terlaksana dengan terbentuknya sistem pemerintahan Islam yaitu Daulah Islam. Daulah islamiyah akan menyediakan landasan kuat untuk mencegah tawuran yakni dengan mengatur pendidikan keluarga dan masyarakat berdasarkan hukum Allah. Negara akan mendorong untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar serta menegakkan hukum yang adil bagi pelaku kekerasan.
Sungguh dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh niscaya akan hadir masyarakat yang beriman berakhlak dan jauh dari perilaku tawuran.
Wallahu alam bissawwab.


0Komentar