GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Terpaksa Mencuri Demi Biayai Pendidikan Anak

Terpaksa Mencuri Demi Biayai Pendidikan Anak

Oleh: Sri Syahidah
(Pegiat Dakwah)

Seorang pria mencuri uang di toko kelontong milik Alfin Setyo (37), warga Desa Jabontegal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Uniknya, pencuri itu kembali lagi ke toko itu dan menyelipkan surat yang berisi permintaan maaf dan berjanji akan mengembalikan uang yang dicurinya (kompas.com 12 Juni 2026).

Alasan pelaku mencuri uang adalah untuk membayar sekolah anaknya. Pelaku mengatakan bahwa dia mencuri karena terpaksa. Setelah beberapa hari berlalu pelaku kembali lagi untuk menemui pemilik toko dan membayar uang yang dicurinya. Pemilik toko yang merasa kasihan membebaskan sisa uang yang dicuri oleh pelaku.

Inilah fakta hidup di alam sekuler kapitalis. Terpaksa menjalankan perbuatan tercela demi kebutuhan dasar yang seharusnya dipenuhi oleh negara. Mencuri memang perbuatan yang tercela, tetapi terpaksa dilakukan demi anak dan keluarga.

Pendidikan adalah hak dasar yang harus diterima oleh setiap individu rakyat. Memang ada program pendidikan gratis yang dicanangkan oleh pemerintah, tetapi pada faktanya pendidikan memerlukan berbagai sarana dan prasarana yang masih harus dipenuhi pembiayaannya secara mandiri.

Program pendidikan gratis juga semua orang bisa mengaksesnya. Bahkan di daerah terpencil masih ada anak yang putus sekolah. Kasus anak putus sekolah masih tergolong tinggi. Menurut data Susenas BPS Tahun 2025, menunjukkan terdapat 2.922.607 Anak Tidak Sekolah pada rentang usia 7-18 tahun, dengan kelompok usia 16-18 tahun menyumbang angka putus sekolah paling tinggi (2.009.918 anak). 

Mengacu hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2021, tercatat 76 persen keluarga mengakui anaknya putus sekolah karena alasan ekonomi. Sebagian besar (67,0 persen) di antaranya karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah, sementara sisanya (8,7 persen) karena harus mencari nafkah.

Melihat tingginya angka anak putus sekolah berbanding terbalik dengan tujuan yang ingin dicapai selama ini yaitu Program Indonesia Emas. Ini merupakan PR besar di negara ini yang bukan hanya pada masalah pendidikan saja. Masalah ekonomi memiliki kaitan erat dengan masalah pendidikan. Bagaimana mau menyekolahkan anak jika untuk kebutuhan makan saja masih susah?

Problem pendidikan maupun problem ekonomi juga saling berkaitan dengan aspek yang lainnya, sebab baik kebijakan pendidikan, ekonomi, sosial merupakan buah dari sistem politik pemerintah. Kapitalisme dengan landasannya yang berasaskan sekuler dan bertujuan untuk meraih keuntungan materi yang sebesar-besarnya pasti akan melahirkan aturan pendidikan yang transaksional.

Pendidikan akan di kapitalisasi demi meraup keuntungan materi yang harus diterima oleh pemilik modal. Negara juga akan berlepas tangan sebab negara tidak menganggap bahwa pendidikan gratis merupakan kewajiban negara bagi rakyatnya. Kalaupun ada kebijakannya pasti tidak serius alias ala kadarnya saja.

Pendidikan dalam Islam

Berbanding terbalik dengan sistem pendidikan dalam Islam. Negara yang berasaskan Islam akan memandang bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap individu rakyat, sehingga negara akan menggratiskan biaya sekolah bagi warganya.

Pendidikan gratis oleh negara Islam tidak hanya bagi jenjang dasar saja, tetapi hingga jenjang pendidikan tinggi. Selain gratis, negara akan memfasilitasi sarana maupun prasarana yang dibutuhkan untuk belajar. Setiap siswa akan diberikan tunjangan uang saku maupun uang makan. Semua pembiayaannya akan dibiayai oleh negara melalui Baitul mal.

Sudah wajar ketika kita mendapati bahwa dalam sejarah kejayaan Islam, pengetahuan sains dan keilmuan berkembang begitu pesat. Tak ada lagi seorang bapak yang mencuri demi membiayai pendidikan sekolah anaknya. Kalaupun ada yang begitu, negara tidak akan menghukumnya sebab hal itu terjadi karena kelalaian negara dalam meriayah rakyatnya.

Sistem ekonomi Islam akan menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar bagi setiap rakyatnya. Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi seorang ayah maupun penanggung nafkah. Dengan begitu tidak akan terjadi kasus pencurian karena keterpaksaan. Negara juga akan mengoptimalkan pendistribusian sumber daya alam secara merata bagi rakyatnta. Hasil dari sumber daya alam yang melimpah dalam bentuk layanan kebutuhan hidup yang terjangkau, keamanan, kesehatan dan yang paling vital adalah pendidikan. 

Hal ini akan terealisasi hanya di dalam sebuah negara yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Sudah saatnya umat ini memperjuangkan demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Wallahu a'lam.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin