Oleh: Iin Mutmainah S.Pd
(Sahabat komunitas Muslimah Batam)
Berapa banyak lagi anak yang harus kehilangan nyawanya agar dunia benar-benar peduli? Berapa banyak lagi ibu yang harus menggendong jasad anaknya agar keadilan ditegakkan? Di Gaza, masa kecil telah dirampas oleh perang. Tawa berganti tangis, sekolah berganti puing-puing, dan mimpi-mimpi kecil terkubur bersama reruntuhan bangunan.
Berbagai laporan dari media internasional dan lembaga kemanusiaan menunjukkan bahwa anak-anak terus menjadi korban konflik di Gaza. Laporan PBB dan UNICEF menyebutkan bahwa bahkan selama masa gencatan senjata, korban anak masih terus berjatuhan. Banyak yang kehilangan nyawa, mengalami luka berat, cacat permanen, dan trauma yang akan mereka bawa hingga dewasa (Cnnindonesia, 20 Juni 2026).
Anak-anak tidak pernah memilih lahir di wilayah konflik. Mereka tidak menentukan kebijakan, tidak menyusun strategi perang, dan tidak memegang senjata. Namun, justru mereka yang paling banyak menanggung akibatnya. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dianggap biasa.
Kenyataannya, berbagai upaya diplomasi, kecaman internasional, dan resolusi yang telah dikeluarkan selama bertahun-tahun belum mampu menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Fakta ini mengundang pertanyaan besar: mengapa mekanisme yang ada belum mampu memberikan perlindungan yang efektif bagi warga sipil, terutama anak-anak?
Sebagai seorang Muslim, kita tidak melihat Palestina hanya sebagai isu politik luar negeri. Palestina adalah bagian dari persoalan umat. Ketika saudara kita dizalimi, kita diperintahkan untuk memiliki kepedulian, mendoakan mereka, membantu sesuai kemampuan, dan tidak membiarkan hati menjadi mati rasa terhadap penderitaan sesama.
Tragedi yang terus berulang menunjukkan bahwa persoalannya tidak hanya terletak pada pergantian pemimpin, gencatan senjata, atau perundingan demi perundingan. Selama akar persoalan belum terselesaikan, kekerasan terhadap warga sipil dikhawatirkan akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.
Karena itu, kita meyakini bahwa umat Islam perlu kembali menjadikan syariat Islam sebagai pedoman yang menyeluruh dalam kehidupan. Keyakinan ini berangkat dari pemahaman bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga memuat prinsip-prinsip keadilan, perlindungan jiwa, amanah, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dalam pandangan sebagai pengemban dakwah ideologis, persatuan umat di bawah kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh merupakan jalan yang diyakini dapat memperkuat perlindungan terhadap kaum Muslim yang tertindas, termasuk rakyat Palestina. Ini merupakan pandangan keagamaan yang dianut oleh sebagian umat Islam dan menjadi bagian dari cita-cita dakwah yang saya perjuangkan.
Perjuangan untuk Palestina juga harus dimulai dari diri kita sendiri. Mendidik keluarga agar mencintai Islam, membangun kepedulian terhadap urusan umat, memperbanyak doa, mendukung bantuan kemanusiaan, serta menyampaikan kebenaran dengan hikmah adalah ikhtiar yang dapat dilakukan setiap Muslim.
Kita mungkin tidak mampu menghentikan bom dengan tangan kita. Namun, jangan sampai kita kehilangan empati, kehilangan keberanian menyuarakan keadilan, dan kehilangan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat karena Allah memiliki nilai di sisi-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi anak-anak Palestina, menguatkan hati keluarga mereka, mengangkat kezaliman dari bumi yang diberkahi itu, serta membimbing umat Islam untuk terus berusaha mewujudkan keadilan, persatuan, dan kehidupan yang diridhai-Nya yakni Khilafah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.


0Komentar