Oleh: Sintia Permata Sari
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Kota Batam kembali berduka. Seorang bocah berusia 7 tahun ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di kawasan Kanal Golden Prawn, Bengkong. Berdasarkan keterangan kepolisian, korban diduga terpeleset saat bermain di sekitar kanal bersama temannya. Hasil pemeriksaan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan dan korban dinyatakan meninggal akibat tenggelam. Informasi ini disampaikan oleh pihak kepolisian setelah melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan anak yang terjadi di area perairan terbuka, sungai, kanal, maupun kawasan yang belum memiliki sistem pengamanan memadai.
Akar Masalah Umat yang Sesungguhnya
Musibah ini tidak cukup dijelaskan hanya dengan kalimat "orang tua kurang mengawasi anak". Analisis yang lebih mendalam menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar.
Pertama, tekanan ekonomi membuat banyak orang tua harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Ketika ayah dan ibu sibuk mencari nafkah, pengawasan terhadap anak menjadi berkurang. Tidak sedikit anak yang akhirnya menghabiskan waktu bermain tanpa pendampingan yang cukup.
Kedua, masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai keselamatan anak. Banyak orang tua menganggap area sekitar rumah, pantai, kanal, atau lokasi pembangunan sebagai tempat yang relatif aman, padahal tempat-tempat tersebut menyimpan risiko tinggi bagi anak-anak yang secara naluriah memiliki rasa ingin tahu besar namun belum mampu menilai bahaya secara matang.
Ketiga, negara dan masyarakat belum sepenuhnya menghadirkan lingkungan yang aman bagi anak. Kanal tanpa pagar pengaman, minimnya papan peringatan, serta kurangnya fasilitas bermain yang layak membuat anak-anak mencari ruang bermain sendiri, termasuk di lokasi yang berbahaya.
Keempat, budaya kepedulian sosial yang dahulu kuat mulai memudar. Pada masa lalu, anak-anak tidak hanya diawasi oleh orang tuanya, tetapi juga oleh tetangga dan masyarakat sekitar. Hari ini, banyak orang lebih memilih tidak ikut campur terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Akibatnya, ketika musibah terjadi, yang muncul hanyalah saling menyalahkan. Padahal tragedi seperti ini sering kali merupakan kegagalan bersama dalam menjaga keselamatan anak.
Solusi dalam Islam
Islam memandang anak sebagai amanah yang dititipkan Allah Swt. kepada orang tua. Amanah ini bukan hanya tentang memberi makan dan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjaga keselamatan, pendidikan, dan masa depan mereka.
Allah Swt. berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan membimbing anak-anaknya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Islam, perlindungan anak tidak hanya dibebankan kepada keluarga. Negara juga memiliki kewajiban menyediakan lingkungan yang aman, membangun fasilitas publik yang tidak membahayakan, serta memastikan keamanan masyarakat sebagai bagian dari pelayanan kepada rakyat.
Islam menjadikan hifzhun nafs (menjaga jiwa) sebagai salah satu tujuan utama syariat. Karena itu, segala kebijakan, pembangunan, maupun aktivitas sosial harus mengutamakan keselamatan manusia.
Musibah di Kanal Golden Prawn hendaknya menjadi pengingat bahwa anak bukan sekadar anggota keluarga, melainkan amanah dari Allah Swt. Mereka membutuhkan pengawasan, pendidikan, kasih sayang, dan perlindungan yang serius. Sebab satu kelalaian bisa berujung pada penyesalan yang tidak dapat diulang kembali.


0Komentar