Oleh: Devi Oktarina
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)
Kemiskinan struktural adalah masalah global termasuk negeri kita ini, Indonesia, hal ini mempengaruhi jutaan orang di seluruh belahan bumi. Namun bukan hanya itu, kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh faktor individual atau kekurangan individu semata. Ada juga kemiskinan struktural yang merupakan hasil dari ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik yang melekat pada sistem sekularisme kapitalisme sekarang.
Salah satu penyebab utama kemiskinan struktural adalah ketimpangan ekonomi yang terjadi dalam masyarakat. Kesenjangan pendapatan yang luas antara pekerja dan pemberi kerja, kurangnya akses terhadap sumber daya ekonomi seperti lapangan kerja yang tertutup, dan konsentrasi kekayaan yang tidak merata semua memperburuk kesenjangan sosial dan kemiskinan struktural.
Baru baru ini konflik di dalam negeri kian memanas, harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green naik mulai Rabu (10/06). Harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Belum lagi harga sembako mulai dari beras, telor, kedelai hingga plastik pun mengalami kenaikan. Hal ini sangat meresahkan masyarakat bawah hingga menengah.
Belum selesai disitu derita masyarakat kian bertambah dengan adanya kasus judi online (judol). Masyarakat menginginkan jalan instan untuk mendapatkan uang lalu terjerumus lah dalam situs situs judi online yang marak sekarang, terjebak dalam lingkaran setan judol yang mengharapkan kemenangan instan akhirnya demi memenuhi hasrat untuk menang itu.
Akhirnya mereka pun mengambil pilihan pinjaman online (pinjol) untuk menutupi kekalahan kekalahan judi nya. Berkutat disitu saja membuat mereka frustasi hingga ada yang berbohong pada orang tua dan guru serta teman teman dan pasangan, mencuri, bunuh diri bahkan menjual teman sendiri demi mendapatkan uang dengan instan.
Menjadi hal yang wajar dari kasus penjualan teman itu berujung pada prostitusi prostitusi haram anak di bawah umur menjadi mangsa para sugar dady di luar sana.
Berbagai masalah lainya juga memperparah keadaan masyarakat dalam survive pada kehidupannya seperti bullying, eksploitasi seksual dan kekerasan yang kian merajalela. Hal ini sangat jauh dari harapan rakyat "Adil dan sejahtera" sebagaimana disebutkan dalam Pancasila sila ke 5, yang berbunyi "Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Semua rakyat menanggung penderitaan itu hingga saat ini.
Sementara itu dunia internasional juga mengalami kondisi yang jauh lebih buruk, entitas zionis kembali melancarkan serangan udara ke jalur Gaza. Serangan terbaru zionis bertepatan pada hari Kamis, 4 Juni 2026 waktu setempat, menewaskan sedikit nya 11 orang. (Detiksumut, 06 Juni 2026).
Dua tahun agresi brutal zionis tidak hanya menyebabkan kerusakan, tapi juga situasi krisis yang memprihatinkan. Perserikatan bangsa bangsa (PBB) telah menyatakan secara resmi tentang bencana kelaparan mencekik Gaza.
Pasalnya, kerusakan di wilayah Gaza telah melumpuhkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung produksi pangan, merusak air dan bangunan bangunan vital lainnya. Pihak zionis membantah terjadinya kelaparan di Gaza dengan mengklaim bahwa laporan IPC tersebut palsu karena dibuat berdasarkan data yang bias.
Mereka juga mengklaim bahwa pembatasan bantuan kemanusiaan hanya dilakukan untuk pemeriksaan keamanan. Kenyataannya pembatasan ini telah membuat ratusan truk bantuan tidak bisa masuk ke Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan bahwa sebanyak 455 orang meninggal akibat kelaparan atau gizi buruk. Angka tersebut termasuk 151 orang anak-anak. (BSIMaslahat, 23 Desember 2025).
Sudah tiga bulan tembok perbatasan Rafah yang menjadi akses masuk ke Gaza, Palestina ditutup dan diblokade dari segala bentuk bantuan kemanusiaan. Kejinya, zionis tidak hanya memblokade jalur darat, tetapi juga menghalangi jalur udara dan laut. Akibatnya, bantuan dan pasokan makan tertahan sehingga tidak dapat masuk ke Gaza.
Diketahui bersama tembok pembatasan Rafah berada diantara Jalur Gaza dan Mesir, Mesir yang merupakan salah satu negeri Muslim. Namun, penguasanya tunduk takluk pada entitas zionis Israel. Sikap Mesir jelas menjadi sebuah pengkhianat terhadap kaum muslim Gaza Palestina yang membuat luka makin menganga.
Sungguh ironis, yang seharusnya Mesir dapat menjadi pelindung bagi kaum muslim Gaza Palestina, namun para penguasa Muslim justru turut memuluskan aksi zionis dengan cara menjaga pintu perbatasan dan menutup akses pengiriman bantuan logistik dan obat obatan ke Gaza Palestina.
Para aktivis dan warga sipil yang turut serta mengikuti beberapa aksi seperti Global March to Gaza mendapatkan berbagai upaya penjegalan oleh pemerintah Mesir. Mereka diancam dan dipersekusi hingga ada yang dideportasi. Salah satu pejabat Mesir menyatakan bahwa sudah ada sekitar 30 orang dideportasi dengan alasan tidak memiliki kelengkapan dokumen dan perizinan resmi. (Kompas.tv, 12 Juni 2025).
Gerakan demi gerakan kemanusiaan terus bermunculan, donasi terus dikumpulkan, kecaman terus diluncurkan, boikot masih dilakukan, tetapi semua tidak memberi efek jera bagi zionis Israel. Sebaliknya, zionis merasa sombong karena besarnya dukungan yang diberikan oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat. Berbagai aksi kemanusiaan hanya menjadi tontonan bagi para penguasa di negeri negeri muslim yang mengaku saudara seiman dan satu tubuh.
Gerakan gerakan tersebut tidak mampu menggerakkan hati nurani mereka untuk menolong saudaranya di Gaza Palestina. Untuk melakukan perlawanan saja tidak, mereka justru enggan memutus hubungan diplomasi total dengan zionis Israel. Semua itu karena adanya kepentingan kepentingan interen, mereka terikat kontrak kerjasama dan lebih mengedepankan faktor ekonomi dan politik yang selama ini mendapat perlindungan dari negara adidaya yang menjadi tumpuan mereka, yakni Amerika Serikat.
Derita rakyat Gaza, Palestina seolah hanya menjadi tanggung jawab negerinya sendiri. Para pemimpin negeri muslim menganggap persoalan Palestina hanya sekadar peperangan dua negara saja. Padahal sejatinya tanah Palestina seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua, kaum muslim seluruh dunia. Dengan nama nasionalisme, para penguasa enggan mengambil sikap tegas meninggalkan Gaza, Palestina berjuang sendirian karena takut akan kedaulatan negerinya sendiri. Matinya rasa kemanusiaan menunjukkan matinya sifat dasar manusia, mereka melawan fitrah naluri berkasih sayang yang Allaj titipkan pada mereka.
Sistem kapitalisme yang mengagungkan nilai materi dan superioritas menyebabkan ketidakadilan, yang mengabaikan sisi kemanusiaan seorang pemimpin negara. Sehingga kekejaman yang tampak tidak sedikit pun mengusik nurani para Lembaga Internasional dan penguasa negeri muslim dalam memberikan keadilan. Nasionalisme yang lahir dari Barat sukses menghalangi para pemimpin muslim bersikap acuh pada Gaza, Palestina.
Tak ada seorang penguasa negeri muslim yang berani membebaskan Gaza, Palestina dengan kekuatan senjata, meski kekejian terjadi di depan mata mereka. Mereka memilih menutup mata dan diam atas kezaliman yang mereka saksikan.
Permasalahan Palestina membuat kita tersadar ada penghalang besar yang meredam terjadinya persatuan umat hari ini. Ketika umat terpecah belah di bawah sekat nasionalisme maka upaya mempersatukan umat akan mudah dipatahkan dengan dalih batas negara. Umat Islam yang seharusnya diibaratkan laksana satu tubuh seharusnya turut merasakan rasa sakit jika saudaranya yang lain di zalimi dan di perlakukan dengan keji.
Hingga saat ini, Muharam 1448 Hijriah penderitaan penderitaan kaum muslim berlangsung dengan kejam nya, nampak dengan jelas penindasan nya oleh mata dunia maupun kamera foto ataupun video, kaum muslim masih terlena dengan pemimpin pemimpin pembohong yang menjanjikan perubahan perubahan manis dalam kampanye kampanye nya.
Pemimpin pemimpin kaum muslim saat ini masih mencintai dunia (harta, jabatan, keluarga) dan takut akan kematian. Hal ini terasa sangat jauh dari konsep Islam dalam mengatur beberapa aspek kehidupan, seperti kemanusiaan, sosial, ekonomi dan keadilan. Hal ini sangat jauh dari predikat "Khairu Ummah" (Umat Terbaik).
Kapitalisme Biang Masalah
Penderitaan penderitaan yang di alami kaum muslim adalah sebab muslim masih memakai hukum jahiliah yang berasal dari barat yakni sekularisme kapitalisme. Kemiskinan struktural, judi online, kekerasan seksual, pendidikan tak merata, kesehatan yang buruk termasuk nestapa Gaza itu adalah buah yang terlahir dari sistem busuk sekularisme kapitalisme.
Kapitalisme tegak atas dasar pemisahan agama dengan kehidupan (sekularisme), dimana hukum agama itu hanya di gunakan saat beribadah saja di masjid, namun memisahkan hukum yang mengatur kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, politik.
Mereka berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya sendiri. Asas hidup mereka adalah kebebasan yang terdiri dari kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, kebebasan memiliki harta, dan kebebasan pribadi lainnya. Mabda nya adalah kapitalisme, ini lah yang membuat jurang antara penguasa dan rakyat nya.
Jurang itu mereka bangun bersama para pemilik modal terbesar tujuan nya agar rakyat semakin jauh dari penguasa baik itu secara kekayaan, pendidikan, akses pekerjaan, dan berbagai akses kemudahan lainnya. Penguasa semakin zalim kepada rakyatnya untuk menjaga kestabilan posisi mereka sendiri, untuk kekenyangan perut mereka sendiri, untuk pendidikan bagus bagi mereka dan keluarga mereka sendiri bahkan hanya demi mempertahankan negara nya sendiri.
Betapa hinanya pemimpin pemimpin negeri muslim sekarang, tak mampu menyelamatkan nyawa ribuan muslim Palestina, Uighur, Khasmir dan beberapa nyawa di belahan bumi negeri muslim lainnya. Mereka lebih mementingkan negara nya sendiri daripada membantu saudara muslimnya, mereka terkotak kotak kan oleh sekat nasionalisme, di mana di perbatasan perbatasan negeri kaum muslim itu telah ditaruh pion pion penjaga yang menghalangi mereka dari solusi hakiki penyelamatan nyawa manusia yang berharga.
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” [HR. Nasai, Tirmidzi, dan dishahihkan al-Albani].
Lemahnya umat islam saat ini terjadi karena berbagao faktor, sebagai berikut :
1. Titik nadi perdagangan dan pertahanan dunia ini dikuasai oleh asing dan penguasa penghianat". Ini menyebabkan kaum muslimin terjerat olehnya, mata uang yang mereka cetak dari selembar kertas itu mempengaruhi kestabilan negeri negeri muslim. Para penguasa berkhianat atas faktor faktor interen yang ada dalam tubuh mereka maupun dalam tubuh negara yang diberi oleh penjajah lewat pengurusan mereka para penguasa boneka.
2. Sekat Nasionalisme, kita mengetahui ada 50 lebih negara muslim yang terbentang dari timur hingga barat, mulai dari Indonesia di timur hingga maroko di barat. Ikatan nasionalisme ini tumbuh di tengah tengah masyarakat tatkala pola pikir manusia mulai merosot, ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ.
Saat itu naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempat dimana mereka hidup dan menggantungkan diri. Inilah cikal bakal tumbuh nya ikatan nasionalisme, ikatan yang tergolong paling lemah dan rendah nilainya. Ikatan ini muncul ketika ada ancaman dari pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri.
Namun bila suasananya aman dari serangan musuh atau musuh tersebut dapat dilawan dan diusir dari negeri itu maka sirnalah kekuatan itu. Dapat disimpulkan bahwa jika tidak ada ancaman lagi ikatan ini dengan sendiri nya melemah, bubar, berserakan, terpecah belah. Hal ini dapat kita saksikan sendiri betapa lemah nya sekat nasionalisme ini, tunduk dan patuh pada amerika dengan alasan menjaga pertahanan dalam negeri.
3. Sikap cinta dunia dan takut mati, inilah alasan mendasar para penguasa negeri muslim sekarang ini dalam mengambil sikap internasional terhadap Gaza, Palestina, mereka sangat di iming-imingi oleh pemimpin barat bahwa mereka akan mendapat berbagai kerjasama menggiurkan, kerjasama yang panjang, fasilitas mewah hanya bila mereka tidak ikut campur pada urusan zionis dan Palestina.
Mereka juga takut apabila ikut campur dalam urusan zionis mereka juga akan diserang seperti Palestina. Barat telah menempatkan tentara tentara mereka di negeri negeri muslim tersebut untuk selalu membayangi gerak gerik para penguasa muslim yang cerdas, bijaksana dan tunduk hanya pada hukum Allah
Ketiga hal di atas membuat barat semakin eksis dalan menjalankan rencana rencana buruk nya dalam mengelola bumi Allah ini
Muharam, Saatnya Umat Bangkit Memperjuangkan Islam Kaffah
Muharram tiba, awal tahun baru dalam kalender hijriah telah tiba, awal yang tepat pula buat umat merenung akan kondisi umat sekarang, karena semua penderitaan penderitaan yang di alami muslim saat ini adalah sistemis yang di buat kafir penjajah untuk terus membungkam umat Islam agar tidak bangkit.
Hal ini terjadi oleh sebab kemunduran cara berpikir umat pada Islam itu sendiri, bukan semata takdir yang di tetapkan oleh Allah. Sebagaimana tertuang dalam Q.S Ar Rad : 11,
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka".
Kemunduran berpikir umat terjadi akibat menjauh nya umat Islam itu sendiri pada agama nya, sangat jauh dari tsaqofah tsaqofah Islam baik dalam aspek peribadahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan politik.
Umat lupa bahwa selama ini memiliki sistem nan agung yang di contoh kan oleh Rasulullah Muhammad saw. yakni sistem Kepemimpinan Islam di bawah naungan Daulah Khilafah, di mana sistem ini akan mengembalikan umat dari sistem jahiliah kufur, sekularisme kapitalisme menuju sistem Islam nan agung yang akan mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik itu dari individu, masyarakat bahkan negara yakni Khilafah.
Pentingnya kepemimpinan dalam Islam yang akan menyatukan umat ini dalam bingkai keadilan dan kesejahteraan, Rasulullah menegaskan dalam hadisnya:
"Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di pundaknya (kepada seorang pemimpin / khalifah), maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).
Hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan Kepemimpinan muslim adalah hal yang wajib di lakukan oleh setiap muslim.
Tentu hal semulia ini tidak akan terjadi dengan instan, sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memperjuangkan nya membutuhkan waktu yang panjang dan terorganisir. Seperti kita ketahui dalam kitab sirah nabawiyah, Rasulullah membentuk kelompok kelompok dan membina nya dengan penuh kesabaran, kegigihan, dan totalitas pada umat baik itu dari kalangan miskin, kaya, muda, tua, budak, merdeka, lelaki, perempuan, berasal dari mana, rasulullah tak pernah tebang pilih dalam dakwahnya.
Kemudian Rasulullah hijrah ke madinah lalu mempersatukan kaum muhajirin dan anshar selanjutnya beliau mendirikan daulah (negara). Semua itu terorganisir dari tahapan awal ke tahapan dakwah berikutnya.
Hal ini mengajarkan pada kita bahwa untuk mengubah sistem yang menguasai dunia sekarang ini membutuhkan kesabaran, kegigihan dan totalitas dakwah serta terorganisir dalam jamaah. Jamaah Islam ideologis lah yang mempunyai tujuan menegakkan hukum hukum Allah di muka bumi ini lewat Syariat dan Khilafah.
Mereka melakukan dakwah sebagaimana Rasulullah ajarkan sebelumnya, mereka mengikuti metode kenabian / minhajin ala nubuwwah. Dalam hadis Nabi saw.: Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.
Setelah itu, akan datang masa khilafah ‘ala minhaajin an nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang zalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang.
Lalu Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhajin an nubuwwah. Setelah itu, beliau diam.
Oleh karena itu umat wajib berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis, karena umat sudah mengalami penderitaan yang sama saat kepemimpinan kufur mengatur hidup umat sekarang ini baik di dalam maupun luar negeri.
Umat wajib bersatu karena adanya kewajiban menegakkan hukum amar maruf dan mencegah nahi mungkar lewat institusi Khilafah yang diusung oleh partai Islam ideologis. Wallahu a'lam bishawab.


0Komentar