Oleh: Rahmi Lubis
(Praktisi Pendidikan)
Zaman kini telah berubah. Perubahan zaman ini menuntut perkembangan teknologi yang semakin canggih. Salah satunya adalah kehadiran AI. Aplikasi ini menghadirkan segala informasi mencakup berbagai solusi permasalahan yang dihadapi oleh generasi terutama GenZ.
Generasi yang sangat akrab dengan gadget ini sudah terbiasa untuk mencari jawaban baik mengenai pengetahuan dan kini menjadi acuan dalam mencari ilmu agama. Teknologi yang praktis, mudah, dan fleksibel menjadi prioritas utama bagi generasi muda untuk menjadikan aplikasi AI sebagai pennceramah atau pembimbing yang menuntun pada agama yang diyakini. Sebutan ustaz/ustazah AI menjadi perbincangan viral di kawula muda saat ini.
Apalagi menurut Fahad Tasleem, CEO Sapience Institute, dalam acara Public Lecture yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyatakan sebagian besar generasi muda belajar Islam bukan lagi dari guru, pesantren, atau universitas, tapi dari video pendek. Mereka menilai ilmu kebenarannya bukan lagi dari sanad keilmuan, tapi jumlah pengikut, likes, dan views (Muhammadiyah.or.id./Jumat 20-12-26).
Sungguh miris keberadaan ulama kini tidak lagi menjadi prioritas karena AI dianggap sudah mampu memuaskan akal pikiran untuk para pencari ilmu. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Taraf Berpikir Rendah Menaikkan Pamor AI
AI adalah sebuah aplikasi yang hadir atas kebutuhan umat saat ini. Generasi yang butuh cepat, efisien, dan fleksibel adalah cara berpikir yang terpola pada zaman sekarang. Terkesan indah namun sebenarnya inilah awal kehancuran. Cara menarik Kesimpulan yang mudah, cepat dan efisien tanpa analisis yang akurat sebenarnya menjadi fakta bahwa taraf berpikir umat saat ini rendah.
Hal ini pastinya disebabkan oleh sistem kehidupan yang diterapkan sekarang yaitu sekulerisme. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan melahirkan buah pemikiran atas dasar manfaat. Ilmu yang dicari tidak lagi menuntut keabsahaan kebenaran tetapi keuntungan yang diraih darinya.
Maka, pola pikir seperti ini yang membentuk generasi muda saat ini menjadi malas dan mulai mengambil langkah instan atau cepat saji. Tidak lagi belajar menuntut ilmu namun belajar mencari tahu jawaban tanpa memikirkan jawaban tersebut benar atau salah.
Pemikiran yang salah ini mulai merebak pada generasi muda, sehingga para ulama atau ustaz/ustazah kini dinggap tidak lagi mulia karena AI bisa mengggantikan posisi keberadaan mereka dalam memberikan ilmu. Lantas bagaimana sikap kita sebagai umat Islam menyikapi hal ini? apakah kita harus menyalahkan AI?
Hanya Dengan Islam, Ilmu Jadi Mulia
Berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. tentang tanda-tanda akhir zaman yaitu salah satunya adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya fitnah (ujian dan kekacauan) secara nyata di tengah masyarakat.
Berdasarkan hadis ini tampak kini fakta yang terjadi pada umat Islam benar-benar genting. Kehadiran AI merupakan cerminan majunya taraf berpikir umat yang mampu menghasilkan teknologi sehingga memudahkan kita sebagai manusia untuk menjalani kehidupan. Namun, sangat disayangkan kemajuan ini harusnya diimbangi dengan peningkatan keimanan kepada sang Pencipta bukan malah makin memungkiri kehadiran sang pencipta.
Islam jelas tidak mengajarkan demikian. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap individu. Dalm hal ini menuntut ilmu yang dimaksud bukan belajar dari sumbernya yaitu teknologi tetapi dari sumber Sang Pencipta langsung yaitu Allah Swt..
Inilah posisi Al-Qur'an yang menjadi sumber hukum syariat yang disampaikan Allah Swt. kepada utusan-Nya yaitu baginda besar Muhammad saw. sebagai nabi Allah pembawa risalah. Sepeninggal Rasululah saw. maka kehadiran ulama menjadi pewaris nabi yang menyampaikan sunnah Nabi.
Di sinilah harusnya umat Islam terutama generasi muda saat ini yaitu generasi Z tidak boleh belajar agama hanya berlandaskan sumber dari aplikasi AI. Kehadiran AI tak boleh disamakan dengan peranan ulama. Jelas-jelas hal ini sangat jauh dari proses berpikir cemerlang. Untuk itulah, pentingnya Islam dijadikan sebagai sistem kehidupan saat ini dalam bingkai khilafah ala minjahin nubuwwah.
Wallahu a'lam bisshawab.


0Komentar