GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan, Ekonomi, Budaya, Hedonis dan Krisis Tujuan Hidup

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan, Ekonomi, Budaya, Hedonis dan Krisis Tujuan Hidup

Oleh: Puspita Sari 
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau) 

Generasi Z hari ini berdiri di persimpangan paling rawan. Gen Z adalah generasi yang lahir diantara tahun 1997-2012. Gen Z lahir di era paling canggih. Tapi juga era paling melelahkan. Umur 14-29 tahun, harusnya masa produktif. Faktanya? Banyak yang justru merasa paling tertekan. Mereka generasi yang paling banyak diuji. Di zaman serba ada, Gen Z justru merasa tidak punya apa-apa. Masalahnya ini karena mereka hidup di 3 jepitan sekaligus. Di satu sisi mereka dicekik oleh biaya hidup, di sisi lain dicekoki budaya konsumsi. Di tengah itu, banyak dari mereka kehilangan kompas diam-diam mereka bertanya: ‘Aku hidup untuk apa sih?'

Data terbaru menunjukkan lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Yaitu ketika gaji dan pendapatan masuk, tapi biaya hidup jomplang, ekonomi sulit tapi biaya hidup mahal yang artinya gaji habis untuk kos, makan, cicilan, dan kebutuhan dasar lain yang terus naik. Rumah, pendidikan, kesehatan, nikah, semua mahal. Gaji UMR stagnan. Akibatnya banyak yang cemas finansial, kerja 2 sampai 3 job tapi hidup tetap pas-pasan, banyak yang hidup dari "gajian ke gajian", takut akan masa depan dan akhirnya banyak mengambil jalan utang pinjol.

Ironisnya, di tengah tekanan itu, alokasi belanja untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Karena buat Gen Z sekarang, self-reward, healing, nongkrong, jajan, upgrade HP. Itu bukan lagi dianggap sebagai suatu kemewahan, tetapi menjadi bagian dari cara memperoleh kepuasan, pengalaman dan penghargaan terhadap diri sendiri serta dianggap sebagai jalan pemuasan kebutuhan emosional. Itu satu-satunya cara mereka untuk bertahan agar tidak depresi dan tetap waras, dijadikan sebagai "obat" supaya tidak dianggap gila. Ketika capek kerja, harus healing. Gagal ikut tren, wajib beli. Stres kerja, jajan. Gen Z terjebak dalam lingkaran, terhimpit kemudian cari pelarian dan akhirnya makin terhimpit.

Analisis: 3 Jepitan yang Mematikan

Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik tiap tahun, Harga rumah, pendidikan, kesehatan melambung. Sementara gaji stagnan dan lapangan kerja tak sebanding. 

Dalam sistem hari ini, negara memosisikan diri sebagai regulator, bukan pengurus rakyat. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Akibatnya Gen Z dipaksa kerja banting tulang. Ambil 2-3 job. freelance sana-sini, hanya untuk bertahan hidup.

Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan konsumsi sebagai terapi, self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai solusi pelarian. Ketika ekonomi menekan, solusinya bukan diperbaiki sistemnya. Justru ditawarkan self-reward dan healing. Agama dipisahkan dari kehidupan. Menjadi sosok hedonis, individualis yang kosong, hampa, tidak tau tujuan hidup, mudah stres dan depresi, yang bebas tanpa batas dan menjadi, kebablasan.

Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Sedih? Belanja. Insecure? Upgrade gaya. FOMO? Ikut tren. Media sosial 24 jam memompa standar hidup yang mustahil untuk dikejar. Dampak nya generasi akan mengambil jalan utang pinjol, diri menjadi rawan burn out dan lupa untuk beribadah, serta tumbuh rasa kosong dihati yang tak akan pernah selesai.

Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam lagi, yakni ketika Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Ini adalah akar terdalam. Banyak Gen Z tidak diajarkan “untuk apa aku hidup”. Tanpa akidah yang kokoh, kebahagiaan diukur dari barang baru, liburan, dan validasi likes. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari rida Allah dan kemuliaan Islam.

Solusi Konstruktif: Kembali kepada Islam Kaffah

Dalam sistem Khilafah, negara wajib menjamin kebutuhan dasar setiap rakyat seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Melalui pengelolaan SDA untuk kesejahteraan umum, bukan untuk dikuasai korporasi. Negara juga wajib memastikan untuk membuka lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki kepala keluarga, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan merasa sedang berjuang sendirian.

Islam akan menutup pintu hedonisme, dan membuka pintu takwa, dengan menutup jalan menuju kerusakan. Melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media, pendidikan, dan ruang publik tidak akan dibiarkan menebar sekularisme, liberalisme, dan budaya hedonis. Sebaliknya, media dalam khilafah diarahkan untuk edukasi, membangun karakter, dan meningkatkan ketakwaan. Generasi dilindungi dari paparan konten yang merusak akal dan akhlak.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Dengan akidah ini, Gen Z akan memiliki visi yang jernih. Bekerja bukan hanya untuk gaji, tapi ibadah. Belajar bukan hanya untuk ijazah, tapi untuk membangun peradaban. Bahagia bukan karena barang, tapi karena rida Allah.

Kebahagiaan sejati lahir ketika tujuan hidup lurus. Krisis ini tidak akan selesai dengan seminar motivasi atau diskon e-commerce. Butuh perubahan sistemik dan paradigma. Islam tidak hanya memberikan "tips". Islam juga memberikan sistem, paradigma dan solusi. 

Kondisi Gen Z hari ini Paling banyak potensi, paling banyak tekanan. Mereka bukan generasi gagal. Mereka adalah aset yang sedang jdi korban sistem. Tapi justru di sinilah peluangnya. Karena ketika semua sistem dunia gagal, orang akan mulai cari sistem alternatif yaitu dengan Islam.

Solusi satu-satunya adalah Kembalikan Islam sebagai sistem kehidupan.  Selama ekonomi kapitalis terus menekan, budaya hedonis terus merayu, dan tujuan hidup terus dikaburkan, maka “self-reward” tidak akan pernah cukup menyembuhkan luka.

Saatnya memberi Gen Z lebih dari sekadar pelarian. Berikan mereka jaminan, perlindungan, dan visi. Itu hanya bisa ditemukan ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan.

Wallahu a'lam bish shawab
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin