Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Hari itu di saat kaum muslimin merasakan kekalahan pada perang Uhud, Allah menurunkan QS. Ali Imran ayat 164 yang sangat artinya, "Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
Ayat ini sangat luar biasa karena menggambarkan tentang betapa kita sering keliru dengan kenikmatan yang semu. Banyak kesalahan berpikir yang tertancap tentang hakikat kenikmatan. Seolah kenikmatan itu hanya soal harta dan pencapaian dunia.
Ayat ini membuat kita berpikir ulang tentang makna kenikmatan itu sendiri. Bahwa hadirnya Rasulullah di tengah-tengah kita adalah sebuah karunia dan kenikmatan yang begitu besar yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Ayat ini juga menjadi penghibur kaum muslimin pada saat itu yang kehilangan banyak orang. Mungkin terlihat kalah. Tapi sejatinya kita tidak kalah. Karena selama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam masih bersama kita, kita dalam keadaan menang.
Ayat ini juga seharusnya mampu untuk menghibur kita, bahwa segagal apapun hal yang pernah kita lakukan, Rasulullah ada dan hadir untuk kita. Oleh karenanya para sahabat benar-benar ingin hidup bersama Rasulullah. Ingin bersama dengan sosok yang begitu mencintai mereka dan juga kita. Bagi mereka kehidupan dunia ini tidak ada apa-apanya.
Maka tidak masalah dunia berjalan begitu kejam dan pahit kepada kita asalkan Rasul masih bersama kita. Bahkan ketika ada tabi'in yang bertanya bagaimana cinta pada sahabat kepada Rasul, maka dijawab seperti orang yang harus ketika dia butuh minum bahkan lebih dari pada itu. Dalam hal ini ada beberapa kisah yang menunjukkan kecintaan para sahabat kepada Rasul.
Yang pertama dari Abdullah bin Zaid yang berdoa kepada Allah setelah wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ia berdoa,
اللهم اعمني فلا أرى شيئا بعد حبيبي حتى القى حبيبي
Yang artinya, "Ya Allah tolong buatkan mataku. Aku tidak ingin melihat apapun lagi (di dunia ini) setelah kekasihku (Rasulullah) wafat, sampai aku bertemu kembali dengannya."
Kemudian sahabat yang lain juga berbicara tentang Rasulullah dengan mengatakan,
ما رأيت شيئا قط احسن من رسول الله
Yang artinya, "Aku tidak pernah melihat keindahan di dunia ini satupun itu yang lebih indah daripada keindahan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam."
Lalu ada kisah dari seorang wanita muslimah yang hidup di zaman Rasulullah yang ketika usia perang Uhud ia tidak mencari keluarganya, anaknya, bahkan suaminya. Tetapi ia mencari Rasul. Ketika ia melihat Rasul baik-baik saja ia berkata,
يا رسول الله كل مصيبة بعدك جلل
Yang artinya, "Ya Rasulullah, setiap musibah yang ada asalkan musibah itu tidak menimpa dirimu maka musibah itu tidak ada artinya bagiku."
Bahkan kecintaan dan kerinduan ini tidak hanya dirasakan oleh manusia tetapi juga oleh pohon yang pernah menjadi sandaran Rasul ketika beliau sedang berkhutbah. Ketika akhirnya Rasul membuat mimbar, pohon ini merintih karena rindu Rasulullah bersandar padanya. Lalu Rasul turun dari mimbar dan memeluk pohon tersebut baru pohon itu diam karena merasa tenang dan damai.
Jika satu pohon yang rindu saja dipeluk oleh Rasul, maka kita umatnya yang rindu lebih kayak mendapatkan pelukan itu. Makanya kenapa kenikmatan sejati itu adalah hadirnya Rasul dan kita ditakdirkan menjadi umatnya Rasul. Kita harus bangga menjadi umatnya Rasul karena kita punya beliau yang begitu mulia hatinya dan begitu mencintai kita sebagai umatnya.
Lalu bagaimana agar kita bisa bersama dengan Rasulullah di surga? Ada satu kisah dari seorang sahabat yang bernama Rabiah bin Kaab As-Sulamiy Radhiyallahu Anhu ia berkata, "Aku pernah membantu Rasulullah berwudhu dan mencukupi keperluannya. Lalu beliau berkata, "Mintalah kepadaku (sebagai balasan dan penghargaan atas perbuatan baik yang telah dilakukan)."
Aku menjawab, "Aku ingin membersamaimu di surga ya Rasulullah." Beliau berkata, "Selain itu?" Aku jawab tegas, "Hanya itu saja." Maka Rasulullah bersabda: "Maka tolonglah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud."
Lihat teman-teman, sesederhana sujud amalan agar kita berkesempatan membersamai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Karena kalau kita enggan sujud di dunia, maka kita akan dipaksa sujud di akhirat. Bahkan di akhir zaman 1 sujud itu lebih berharga dibandingkan dengan dunia dan seisinya.
Dan terakhir, sujud ini sebenarnya adalah keadaan ketika kita–seorang hamba berada paling dekat dengan Allah dan sebuah amalan yang jika kita laksanakan, kita akan memiliki peluang untuk bersama Rasul di surga.
Wallahu a'lam bish showwab.
________
(Sumber: Kelas Muslim Vox Meet The Prophet 2 Episode 3)


0Komentar