GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Krisis Murid Baru di Sekolah Dasar Negeri, Bukti Kegagalan Sistem Sekuler Mendidik Generasi

Krisis Murid Baru di Sekolah Dasar Negeri, Bukti Kegagalan Sistem Sekuler Mendidik Generasi

Oleh: Puspita Sari
(Aktivis Muslimah Kepulauan Riau) 

Mengapa sekolah yang nyaris gratis justru kehilangan murid, sementara sekolah yang mahal makin diminati? Apakah persoalannya semata-mata karena angka kelahiran yang menurun, atau sesungguhnya masyarakat sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam tentang kualitas pendidikan dasar di Indonesia? 

Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) minim murid baru. Bahkan ada yang tahun ini tidak dapat murid sama sekali. Kelas kosong hingga jumlah guru berlebih. 

Beberapa penyebabnya adalah jumlah anak usia sekolah makin sedikit karena pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan urbanisasi ke kota, serta pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah swasta yang mengajarkan pendidikan agama seperti ibadah, mengaji, dan akhlak. 

Sikap orang tua lebih memilih sekolah agama adalah sinyal darurat dari rakyat. Ini bukan sekadar "tren sekolah swasta". Ini teriakan kekhawatiran orangtua. Orangtua hari ini melihat langsung kerusakan yang diproduksi sistem pendidikan sekuler liberal. Kerusakan akhlak seperti pacaran, pergaulan bebas, porno, merokok, tawuran. 

Dilakukan anak SD-SMP. Yang dulu rasanya mustahil dilakukan, sekarang viral di media-media TikTok khususnya. Kerusakan akidah, ada anak yang bangga tidak bertuhan, bingung gender, ikut propaganda LGBT. Karena sejak kecil dicekoki semua agama sama, dan HAM di atas segalanya.

Kerusakan mental seperti bullying, depresi, bunuh diri di kalangan pelajar naik. Karena sekolah hanya kejar ranking, bukan membina jiwa. Bahkan bisa memancing tindakan kriminal di antaranya judi online, pinjol, geng motor, pencurian, bahkan pembunuhan. Pelakunya anak sekolah dan korbannya juga anak sekolah.

Solusi yang ditawar kan pemerintah adalah Regrouping. Pemerintah menggabungkan beberapa SDN jadi satu. Tapi solusi ini mentok karena jarak sekolah jadi jauh. Anak kecil harus jalan jauh atau orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi.

Analisis: Akar Masalah Pendidikan Sekuler

Indonesia bukan hanya menghadapi krisis murid di SD Negeri, tetapi juga krisis kepercayaan terhadap institusi pendidikan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pembangunan bangsa.

Kepercayaan Lebih Mahal daripada Gratis 

Memang benar, Indonesia sedang memasuki fase transisi demografi. Tingkat fertilitas terus menurun dibandingkan dua dekade lalu sehingga jumlah anak usia sekolah dasar mulai menyusut. Ketika jumlah berkurang, persaingan antar sekolah otomatis semakin ketat. Masyarakat memilih layanan bukan semata-mata berdasarkan harga, tetapi berdasarkan nilai yang mereka rasakan (perceived value).

Buah dari kebijakan demografi dan ekonomi eekuler adalah penduduk menua dan angka kelahiran menurun adalah hasil langsung dari program KB dan sistem ekonomi liberal. Perubahan struktur demografi (penduduk menua) terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran menurun. Kegagalan kebijakan ekonomi membuat biaya hidup tinggi, lapangan kerja sulit, kesejahteraan sulit diraih membuat pasangan muda jadi takut punya anak. Ditambah urbanisasi marak karena kesenjangan pendapatan antara desa dan kota. Ini semua akibat sistem yang menjadikan materi sebagai tolok ukur.

Akar Masalah: Sistem Pendidikan Sekuler

Kenapa orangtua sampai tidak percaya sekolah negeri? Karena sistem pendidikan hari ini memisahkan agama dari kehidupan. Agama dipisah dari sekolah. Agama hanya pelajaran. Akhlak tidak menjadi standar kelulusan. Tolok ukurnya adalah kebebasan. Anak bebas berekspresi yang artinya bebas pacaran, bebas berpakaian, bebas berkata kasar. 

HAM menjadi dewa, sekolah takut menegur keras. Guru takut menghukum. Akibatnya anak tidak ada rasa takut berbuat salah. Yang tujuannya adalah mencetak SDM pekerja, bukan mencetak generasi yang bertakwa. Hasilnya, anak pintar nilai, tetapi lemah pada akhlak. Jadi wajar kalau orangtua lari. Mereka bilang, gratis tapi anak rusak, buat apa?

Sikap orangtua lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan sekolah negeri menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat sistem sekuler liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah.

Saat orangtua ramai-ramai memasukkan anak ke sekolah agama, itu sinyal keras. Mereka khawatir. Khawatir anaknya rusak moral, tawuran, pacaran, LGBT, narkoba. Mereka melihat sekolah negeri hari ini hanya mengejar nilai dan kurikulum. Tapi gagal membentuk akhlak. Ini akibat sistem pendidikan sekuler liberal yang memisahkan agama dari sekolah. Yang lahir adalah generasi pintar tapi rusak. Maka orang tua memilih lari ke sekolah agama. Mereka rela bayar mahal, rela antar jemput jauh. Demi 3 hal yakni ada Al-Qur'an dan salat, ada murottal, hafalan, serta salat dhuha berjamaah.

Adanya penjagaan akhlak dengan adanya aturan hijab, larangan pacaran, serta pembinaan guru. Kemudian ada lingkungan aman, temannya sesama yang mau taat, bukan yang ngajakin nongkrong. Intinya orangtua rela membayar untuk rasa aman, yang tidak didapat di sekolah negeri yang gratis.
Pesan di balik sikap orang tua seperti ini sebenarnya adalah pesan politik yang seolah mengatakan "Wahai Negara, kami tidak percaya kamu bisa mendidik anak kami dengan aman". 

Mereka sudah tidak percaya sistem sekuler bisa mencetak generasi yang shalih. Buktinya, perubahan kurikulum berulangkali terbukti tak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal ini. tiap tahun kerusakan makin parah walau kurikulum ganti 5x. Dari KBK, KTSP, K13, sampai Kurikulum Merdeka. Ganti terus, tetapi kenakalan remaja tetap naik. Tawuran tetap ada. Pelecehan di sekolah tetap terjadi. Karena yang salah bukan pada kurikulumnya. Tapi pada asas pendidikan yang dipakai yakni sekulerisme. Agama hanya jadi pelajaran 2 jam, bukan jadi dasar seluruh sistem. 

Perubahan kurikulum hanya menyentuh aspek teknis pembelajaran. Sementara landasan pendidikan masih tetap sekuler. Baik di sekolah negeri maupun di sekolah swasta. Akibatnya berbagai masalah moral di kalangan pelajar terus berulang. Karena itu minimnya jumlah SD tidak cukup di atasi dengan Regrouping sekolah. Sebab akar masalahnya terletak pada level sistem. 

Konstruksi Islam

Allah Swt. telah memberi petunjuk kepada manusia untuk mengatur hidupnya dengan syariat nya bukan dengan paham sekuler. terkait pendidikan, Islam memiliki konsep yang komprehensif dan realitis untuk diterapkan. Islam tidak hanya menawarkan konsep tetapi juga mekanisme untuk diterapkan, Penerapannya melalui institusi negara. Yaitu disebut negara Khilafah.

Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar rakyat dan pilar penting peradaban sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat tanpa memandang latar belakang.

Islam mewajibkan negara berfungsi sebagai raa'in, negara wajib mengurus seluruh urusan umat. Sebagaimana kewajiban raa'in terhadap orang yang diutusnya. Negara akan mengatur jumlah sekolah sesuai kebutuhan daerah. Negara menghitung jumlah penduduk,sebaran wilayah serta kebutuhan pendidikan setiap wilayah untuk menentukan jumlah dan jenis sekolah yang tepat. 

Negara akan menjamin semuanya efeknya pendidikan akan didapatkan secara gratis bagi warga negaranya baik miskin ataupun kaya. Negara bertanggung jawab penuh menyediakan sekolah untuk seluruh rakyat tanpa pungutan. Dan kualitas sekolah dikota maupun di desa akan sama baiknya dari kualitas guru, insfratruktur, saran dan prasarana. Guru digaji negara, dengan sarana lengkap, merata sampai pelosok. 

Tidak hanya itu negara juga menjamin kesempatan ekonomi yang sama didesa maupun dikota disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah dengan demikian lapangan kerja tersedia disetiap wilayah urbanisasi berkurang. Masyarakat tidak perlu berpindah ke kota untuk mencari penghidupan dan pendidikan tetap terjangkau. Akses pendidikan tidak bergantung pada kemampuan ekonomi orang tua. 

Sistem pendidikanpun dibangun atas dasar akidah Islam maka kurikulum dan proses pendidikan diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam sekaligus membekali peserta didik dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pelajaran agama bukan menjadi pelajaran tambahan. Tapi ia menjadi nafas untuk seluruh mata pelajaran. IPA, IPS, Olahraga semua diarahkan untuk taat kepada Allah. Dengan ini lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan takut Allah. 

Anak-anak tumbuh dengan keimanan yang kuat dan siap berkontribusi dengan masyarakat sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasainya. Inilah kualitas pendidikan yang semestinya diwujudkan karena itu orang tua perlu menyadari bahwa kerusakan akan moral pelajar tidak cukup diatasi dengan hanya menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama. Selama asas pendidikan masih sekuler liberal, maka SDN akan terus sepi, sekolah agama akan terus penuh, dan kerusakan generasi akan terus berjalan. 

Di sinilah peran jamaah Islam ideologis yang mendakwahkan politik Islam diperlukan untuk membangun kesadaran bahwa akar permasalahannya adalah ditinggalkannya syariat Allah dan diterapkan nya sistem sekuler. 

Kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal yang diterapkan negara. Dengan demikian masyarakat akan terdorong untuk penerapan syari'at Islam secara Kaffah sehingga sistem pendidikan Islam ini bisa diterapkan oleh negara Islam.

Solusi tambal sulam seperti regrouping tidak akan cukup, yang dibutuhkan adalah dakwah politik. Membangun kesadaran umat bahwa pendidikan hanya akan selamat jika negara kembali menerapkan sistem Islam secara kafah dalam institusi Khilafah.

Selama asasnya sekuler, kerusakan akan terus berulang walau ganti menteri. Solusi tuntasnya bukan pindah sekolah. Tapi ganti sistem. Kembalikan pendidikan pada Islam yang menjadikan akidah sebagai asas, akhlak sebagai tujuan, dan negara sebagai penjamin.

"Sesungguhnya setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari-Muslim)

Wallahualam bissawab.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin