GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Luka Anak Palestina dan Kebisuan Dunia

Luka Anak Palestina dan Kebisuan Dunia

Oleh : Chusnatul Jannah

BumiGurindamBersyariah —Hampir tiga tahun berlalu sejak serangan Zion*s ke Gaza terjadi pada 7 Oktober 2023 silam. Sudah tidak terhitung korban jiwa warga Palestina akibat genosida yang tidak berhenti hingga detik ini. Jumlah warga Palestina yang meninggal akibat agresi genosida Zion*s di Jalur Gaza telah mencapai 73.016 jiwa per 17 Juni 2026. Miris, sebagian besar korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak (Antara, 18-6-2026).

Berdasarkan laporan terbaru Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB (23-6-2026), menyatakan bahwa Zion*s secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina. Dalam dua tahun sejak 7 Oktober 2023, serangan di Gaza dan Tepi Barat telah merenggut nyawa sedikitnya 20.179 anak Palestina. Jumlah itu setara sekitar 30% dari semua korban meninggal akibat perang.

Hingga pertengahan 2026, sekitar 21.280 anak meninggal. Lebih dari 1.500 anak terluka, dan 355 anak mendekam dalam tahanan militer Zion*s. Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan jeritan yang mengiris nurani. Dunia seperti membisu. Ada suara pembelaan melawan kebiadaban Zion*s, tetapi hanya berhenti di meja konferensi dan diplomasi.

Luka Menganga

Sejak genosida Zion*s pada Oktober 2023, lebih dari 60 ribu anak di Gaza kehilangan orang tua mereka. Ribuan anak kini tumbuh tanpa pelukan orang tua, dengan luka batin yang tidak akan pernah sembuh. Tragis, 2.713 anak bahkan harus menanggung kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.

Meski selamat dari hantaman rudal dan bom, anak-anak tidak akan terlepas dari trauma akibat tragedi berkepanjangan. Mereka berlarian mencari tempat berlindung, mengungsi berulang kali, kehilangan anggota keluarga, kelaparan, dan hidup tanpa masa depan yang meyakinkan.

Genosida militer Zion*s telah menyeret ratusan ribu anak Palestina ke dalam penderitaan fisik dan mental yang begitu parah. Situasi ini diperburuk oleh blokade bantuan kemanusiaan. Makanan, obat-obatan, dan akses layanan kesehatan diputus, membuat kehidupan sehari-hari berubah menjadi perjuangan untuk sekadar bertahan hidup.

Lebih dari itu, Zion*s makin menggila dengan menjadikan kelaparan sebagai senjata mematikan dalam membantai anak-anak tidak berdosa. Palestina pun menjadi bencana kemanusiaan terbesar dalam penjara genosida baru bernama kelaparan dan kekurangan gizi akut. Bayi-bayi baru lahir pun tidak luput dari kekejaman Zion*s. Fakta ini membuat luka kehilangan kian menganga. Anak-anak dibantai sehingga generasi hilang terlibas reruntuhan perang.

Dunia Membisu

Berbagai serangan, pengusiran, dan perampasan tanah dilakukan Zion*s dengan ritme teror yang konsisten. Gaza sudah mereka kuasai, kini Tepi Barat menjadi target berikutnya. Genosida tidak selalu diikuti ledakan besar, melainkan dengan peluru yang menembus tubuh generasi, penjara yang merenggut masa remaja, dan penghapusan eksistensi Palestina serta perjuangannya melawan penjajahan.

Dunia membisu ketika AS, Zion*s, dan pendukungnya mengutak-atik Gaza dengan proyek “New Gaza” mereka. Di tengah seruan perdamaian dan gencatan senjata, Zion*s memborbardir Gaza tanpa ampun. Narasi perdamaian dan gencatan senjata tidak lagi mempan dalam melawan keangkuhan AS dan kebiadaban Zion*s.

Ironi, para penguasa negeri-negeri muslim memilih diam. Mereka tidak berani bersuara lantang, apalagi bertindak tegas. Meski memiliki kekuasaan, otoritas, dan sumber daya yang besar, mereka lebih memilih menutup mata terhadap penderitaan saudara seakidahnya di Palestina, seakan-akan tragedi itu bukan bagian dari tubuh umat Islam. Padahal, di hadapan mereka, anak-anak Palestina dibantai, darah kaum muslim ditumpahkan, dan kehormatan umat diinjak-injak oleh kafir penjajah.

Nurani mati rasa, sedangkan ukhuah dan ikatan akidah Islam kalah demi melindungi kepentingan mereka. Kebisuan ini adalah pengkhianatan terhadap muslim Palestina. Diam berarti membiarkan darah anak-anak terus mengalir tanpa perlawanan. Bisu berarti membiarkan kezaliman dan kejahatan Zion*s tetap berlangsung.

Rasulullah ﷺ mengingatkan perihal mengutamakan ikatan akidah Islam di atas ikatan semu nasionalisme,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

“Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR Bukhari).

Tidakkah penguasa-penguasa muslim bergetar jika di akhirat kelak, muslim Palestina menuntut balik atas diamnya mereka terhadap penyiksaan dan pembunuhan saudara seimannya yang berlangsung di depan mata mereka? Tidakkah merasa takut akan hisab Allah kelak di hari akhir karena bergemingnya mereka dari mengirim pasukan militer untuk membantu saudaranya sendiri?

Keharaman Membunuh Anak-Anak

Islam tidak pernah memberi ruang bagi pembiaran kejahatan terhadap anak-anak. Dalam Islam, nyawa manusia, termasuk anak-anak sangat berharga dan wajib dilindungi (hifz an-nafs). Islam secara tegas melarang pembunuhan anak, baik sebelum maupun setelah lahir tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Bahkan dalam situasi perang sekalipun, Rasulullah ﷺ melarang kepada pasukan muslim untuk tidak membunuh wanita, orang tua, dan anak-anak. Hal ini menunjukkan betapa tingginya perlindungan Islam terhadap jiwa anak-anak.

Dari Aisyah ra., Nabi ﷺ pernah bersabda, “Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal ini; muhshan yang berzina maka ia dirajam, seorang laki-laki membunuh seorang muslim dengan sengaja, dan seorang laki-laki yang keluar dari Islam (murtad), maka ia diperangi Allah dan Rasul-Nya.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Ini adalah nas bagi pengharaman pembunuhan, “Tidak halal darah seorang muslim”, “Tidak halal membunuh seorang muslim”. Oleh karena itu, pembunuhan tanpa alasan yang hak adalah haram. Keharamannya merupakan perkara yang telah ma‘lûmun min ad-dîni bi adl dlarûrah (sesuatu yang sudah diketahui secara pasti dalam agama karena sifatnya sangat mendasar dan darurat). (Abdurrahman al-Maliki, Nizhâm Al-‘Uqûbât, hlm. 111).

Agar anak-anak muslim Palestina tidak lagi menjadi korban kejahatan genosida, umat harus tetap bersuara dengan lantang. Begitu pula dengan ikatan akidah Islam dan ukhuah tidak boleh hanya berhenti pada solidaritas dan bantuan kemanusiaan. Lebih dari itu, ukhuah Islamiah sejatinya menuntut persatuan, dari aspek pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama, yakni perlindungan dan penjagaan umat Islam secara hakiki. Tegaknya Khilafah adalah kebutuhan nyata umat Islam agar memiliki kekuatan politik dan militer melawan penjajahan.

Seruan Jih*d Tidak Boleh Padam

Jih*d dalam Islam bertujuan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam Nizhamul Hukmi Fil Islami (hlm. 379) menjelaskan bahwa Islam menjadikan jih*d sebagai metode operasional (thariqah) untuk mengemban dakwah. Sebab diperanginya orang-orang kafir dan musyrik adalah karena kekafiran mereka. Allah Taala berfirman,

قَٰتِلُوا۟ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلْحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعْطُوا۟ ٱلْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَٰغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan (tidak) pula kepada hari kemudian, mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), yaitu orang-orang yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk.” (QS At-Taubah [9]: 29).

Jih*d adalah jalan pembebasan Palestina yang hakiki. Seruan jih*d harus terus dikumandangkan dengan lantang oleh jemaah dakwah ideologis. Umat tidak boleh terjebak dalam ilusi diplomasi palsu. Palestina sedang menanti pembebasannya di bawah komando khalifah yang akan memobilisasi tentara untuk melawan Zion*s. Ketika Palestina terbebas dari belenggu penjajahan melalui jih*d dan Khilafah, maka tibalah hari bagi anak-anak muslim Palestina dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan tenang tanpa lagi dihantui bayang-bayang senapan Zion*s.

Kematian anak-anak Palestina adalah noda hitam yang tidak bisa dihapus dengan resolusi, konferensi, diplomasi, apalagi rekonstruksi semu yang ditawarkan Barat. Dunia boleh bungkam, tetapi umat Islam tidak boleh diam. Persatuan, Khilafah, dan jih*d adalah solusi nyata bagi terbebasnya Palestina dari penjajahan.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin