Oleh: Eci Aulia
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Dikutip dari kompas.com pada Rabu (12-9-2026) Bayu seorang Gen Z memiliki cara sendiri menikmati hasil kerjanya. Setiap menerima gaji, Bayu langsung mengalokasikan pendapatannya untuk membayar kebutuhan primer. Setelah itu, sebagian penghasilannya langsung ditabung. Namun, Bayu tetap menyisihkan uang untuk berlangganan Spotify, menonton bioskop, atau mencoba tempat makan baru yang ditemuinya di media sosial.
Menurut Bayu, pengeluaran tersebut bukan sekadar memanjakan diri, melainkan cara menikmati hasil kerja sekaligus menjaga kesehatan mental. Ia mengatakan, alasan utama melakukan self-reward adalah mengurangi stres setelah bekerja. Meskipun demikian, Bayu mengaku tetap dihantui kecemasan mengenai masa depan. Harga rumah yang terus naik membuatnya merasa tujuan memiliki hunian sendiri semakin sulit dicapai.
Bayu hanya salah satu contoh dari gambaran kehidupan para gen Z saat ini. 48% Gen Z tidak merasa aman secara finansial. Gaji kecil sedangkan kebutuhan dan keinginan banyak. Jika kita telusuri lebih dalam, akan kita dapati bahwa kegalauan Gen Z hari ini dipicu oleh beberapa hal:
Pertama, faktor internal yang berasal dari dalam diri Gen Z. Hari ini banyak para Gen Z yang tidak memahami tujuan hidup yang sebenarnya. Alhasil, kebahagiaan sering diukur dari barang, fashion, gaya, trend, likes, dan hal-hal yang viral. Terlebih kehidupan sekularisme mengajarkan Gen Z: kalau stres, ya, healing. Kalau capek, ya, shopping. Padahal, semua itu hanya menawarkan kebahagiaan semu.
Kedua, faktor eksternal yang saling berkelindan:
1. Media sosial yang kerap menyuguhkan gaya hidup hedonis dan flexing, sehingga menimbulkan rasa fomo di hati Gen Z. Akhirnya, kehidupan orang lain di media sosial dijadikan standar untuk menentukan jalan hidup.
2. Sistem ekonomi kapitalistik memaksa Gen Z untuk berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahan pokok naik, tetapi gaji tetap stagnan. Bahkan terkadang gaji tidak sesuai dengan beratnya beban pekerjaan yang diterima. Jutaan gen Z lulusan sarjana banyak yang jadi pengangguran karena sulitnya lapangan pekerjaan.
Begitulah potret kehidupan Gen Z hari ini. Problematika hidup seolah selesai saat memperoleh materi dan kepuasan jasmani. Gen Z tidak tahu sedang berlari ke arah mana. Bekerja siang malam, mengejar gaji, ikut semua trend, dan terus melakukan self-reward, tetapi setelah itu hati tetap terasa kosong.
Sistem sekuler kapitalis hari ini juga mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah uang, popularitas, dan kesenangan sesaat. Padahal semua itu fana.
Negara juga gagal menjamin kesejahteraan, sehingga seringkali tugas negara dibebankan kepada individu. Sungguh, ini bukanlah jalan hidup yang hakiki bagi seorang Muslim.
Islam datang dengan jawaban yang jelas. Islam telah mengajarkan manusia tentang tujuan hidup yang sesungguhnya. Yaitu tentang dirinya berasal darimana, untuk apa ia dilahirkan ke dunia, dan kemana ia akan dikembalikan setelah kehidupan berakhir. Allah berfirman: "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (TQS. Adz-Dzariyat: 56)
Ketika Gen Z memahami bahwa tujuan hidup ini adalah untuk ibadah, maka ia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ia miliki hanya demi kesenangan sesaat. Ia memahami hakikat dirinya sebagai seorang hamba Allah. Hamba Allah yang sadar bahwa setiap perbuatannya terikat dengan hukum Allah Swt.. Dan semua itu akan ia pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. kelak. Maka ia pun bersegera mempersiapkan amalan terbaiknya.
Kebahagiaan tidak lagi diukur dengan pencapaian materi, tapi rida ilahi. Bekerja pun menjadi ibadah jika ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah Saw.. Healing terbaik setelah bekerja adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan terbaik pula. Kesehatan mental senantiasa terjaga dengan keimanan yang semakin bertambah bukan dengan bertambahnya materi.
Hal ini juga didukung oleh sistem Islam yang menjamin 6 kebutuhan dasar: sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Hasil seluruh SDA dialokasikan demi kesejahteraan rakyat. Jutaan lapangan pekerjaan dibuka mulai dari sektor pertanian, perdagangan, perindustrian, dan lain sebagainya. Tidak ada istilah rakyat berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sementara di media sosial negara juga menutup akses yang berpotensi merusak akal dan pemikiran seperti konten hedonis dan flexing yang melahirkan gaya hidup konsumtif. Media sosial hanya dipenuhi dengan suasana yang semakin menambah keimanan dan kekayaan pemikiran Islam.
Ya, gen Z akan meraih kebahagiaan hakiki jika bersandar pada pemikiran yang benar sesuai syariat Islam dan bergerak dengan metode jalan hidup yang lurus sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Gen Z harus bangga dan bahagia menjadi Muslim, sebab hanya dengan Islam kebahagiaan hakiki dapat diraih. In Syaa Allah.
Wallahu a'lam bisawwab.


0Komentar