Oleh: Rianti Budi Anggara
(Praktisi Pendidikan MIN 1 Batam)
Ada nikmat yang baru terasa begitu berharga ketika ia menghilang. Air adalah salah satunya. Ia merupakan salah satu kebutuhan pokok kehidupan di muka bumi. Selama air masih mengalir dari keran, kita hampir tidak pernah memikirkannya. Kita membuka keran untuk mandi, mencuci, memasak, berwudhu, dan memenuhi berbagai kebutuhan lainnya tanpa benar-benar bertanya dari mana semua itu berasal dan siapa yang memberikan semua itu kepada kita.
Namun, ketika air berhenti mengalir selama beberapa waktu, sesuatu yang selama ini dianggap sederhana tiba-tiba berubah menjadi kebutuhan yang begitu berharga. Kita mulai menghitung sisa air di rumah, mencari sumber lain, membeli dengan harga yang lebih mahal, menghubungi kerabat, bahkan mendatangi tempat-tempat yang masih memiliki persediaan.
Dalam keadaan seperti itu, air tidak lagi sekadar air yang setiap hari kita lihat. Ia menjadi cermin yang perlahan memperlihatkan wajah dan watak manusia.
Belakangan ini, persoalan air akibat perbaikan dan perawatan pipa di sejumlah wilayah Kota Batam, khususnya Batu Aji, Sagulung, dan sekitarnya, menghadirkan pemandangan yang menarik untuk kita tafakuri dan tadzakuri bersama. Di tengah kesulitan, kita dapat melihat banyak wajah manusia sekaligus. Ada yang bersabar, ada yang berbagi, ada yang membantu tetangganya, tetapi ada pula yang berusaha mengamankan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri.
Ada yang begitu khawatir tidak mendapatkan bagian hingga lupa bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang sama. Bahkan ada yang bersikap acuh terhadap keadaan sekitar. Ketika yang diperebutkan adalah sesuatu yang sangat mendasar seperti air, kebutuhan yang semestinya mengajarkan manusia untuk saling peduli justru dapat membuka sisi diri yang paling sulit dikendalikan: rasa takut kekurangan, keinginan memiliki lebih banyak, dan kecenderungan mendahulukan diri sendiri dengan berlindung di balik kalimat sederhana, “Aku juga butuh.”
Barangkali di situlah letak pelajaran yang lebih besar dari peristiwa ini. Krisis bukan hanya tentang apa yang hilang dari kehidupan kita, tetapi juga tentang apa yang muncul dari dalam diri kita ketika sesuatu yang kita butuhkan tidak lagi mudah diperoleh. Dalam keadaan lapang, hampir semua orang dapat terlihat baik, ramah, bahkan penuh kasih kepada sesamanya.
Namun ketika persediaan terbatas, kebutuhan mendesak, dan orang lain berdiri di hadapan kita dengan kebutuhan yang sama, barulah terlihat seberapa kuat iman mampu mengendalikan ego. Kesulitan seolah menjadi cermin yang memperlihatkan apakah hati kita masih memiliki ruang untuk memikirkan orang lain atau justru hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Dari persoalan sederhana tentang air, pikiranku kemudian melayang pada keadaan yang jauh lebih dahsyat: hari kiamat. Jika hari ini kita sudah merasa gelisah hanya karena air tidak mengalir, bagaimana keadaan manusia ketika tiba suatu hari yang tidak ada seorang pun mampu menghindarinya? Pada hari itu, manusia tidak lagi memiliki kuasa atas apa pun.
Harta, jabatan, kekuasaan, keluarga, dan segala sesuatu yang selama ini dibanggakan tidak akan mampu menjadi tempat bergantung. Al-Qur’an menggambarkan dahsyatnya hari kiamat sebagai hari ketika manusia berada dalam keadaan sangat genting dan setiap orang sibuk dengan keselamatan dirinya sendiri. Gambaran itu semestinya membuat kita merenung bahwa kesulitan yang kita rasakan hari ini, sekecil apa pun, dapat menjadi pengingat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat, ketika kesempatan untuk kembali memperbaiki amal telah berakhir.
Islam memahami bahwa manusia memiliki kecenderungan mencintai apa yang dimilikinya dan takut kehilangan apa yang dianggap sebagai miliknya. Karena itu, Islam tidak hanya mengatur bagaimana manusia memperoleh sesuatu, tetapi juga bagaimana ia mengendalikan keinginannya. Persoalan manusia tidak selalu karena ia tidak memiliki cukup, melainkan karena ia sering merasa tidak pernah cukup. Ketika kebutuhan berubah menjadi keinginan tanpa batas, manusia dapat mengambil lebih banyak daripada yang sebenarnya ia perlukan. Dari sinilah kerakusan manusia tumbuh, perlahan mengalahkan rasa syukur, kepedulian, bahkan hak orang lain.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-A'raf ayat 31:
...وَّكُلُوْاوَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“...Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Pesan yang terkandung di dalam potongan ayat tersebut sangat relevan dan dekat dengan kehidupan kita. Bahkan ketika air melimpah, manusia tetap diperintahkan untuk tidak berlebihan. Maka ketika air sedang terbatas, sudah semestinya kita semakin mampu menahan diri. Jangan mengambil lebih banyak hanya karena takut tidak kebagian, sementara di sekitar kita ada orang lain yang bahkan belum mendapatkan kebutuhan dasarnya.
Ironisnya, manusia sering kali baru mengenal arti syukur setelah kehilangan. Ketika air masih mengalir, kita jarang menghitung berapa banyak yang terbuang. Kita mandi terlalu lama, membiarkan keran terbuka, mencuci kendaraan dengan air berlebihan, atau menggunakan air tanpa memikirkan bahwa di tempat lain ada manusia yang harus berjuang untuk mendapatkannya. Kita terlalu mudah menganggap nikmat sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Sampai suatu hari Allah menahan nikmat itu, barulah kita sadar bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap biasa ternyata merupakan karunia yang luar biasa.
Krisis air di Batam akhirnya tidak hanya berbicara tentang persoalan teknis, tetapi juga tentang rasa syukur dan tanggung jawab. Air yang mengalir dari keran adalah nikmat. Kemampuan membeli air adalah nikmat. Memiliki keluarga, tetangga, atau kerabat yang bersedia membantu juga merupakan nikmat. Namun setiap nikmat membawa amanah. Semakin besar nikmat yang kita terima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar dan tidak melupakan orang lain.
Persoalan ini juga seharusnya membawa kita melihat kondisi bumi secara lebih luas. Hari ini berbagai wilayah dunia menghadapi persoalan lingkungan dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada yang mengalami banjir dan longsor, ada yang menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan, ada yang diguncang gempa bumi, ada yang diterjang badai, sementara perubahan iklim terus memengaruhi kehidupan manusia dan ekosistem.
Di berbagai tempat, manusia kehilangan rumah, sumber penghidupan, bahkan orang-orang yang mereka cintai. Di Palestina, penderitaan akibat konflik dan perang juga masih menjadi kenyataan yang menyayat hati. Semua itu seharusnya tidak hanya menjadi berita yang kita lihat sekilas, lalu kita lupakan. Ia semestinya menjadi bahan muhasabah tentang bagaimana manusia memperlakukan bumi dan sesamanya.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini bukan alasan bagi kita untuk dengan mudah menyimpulkan bahwa setiap bencana merupakan hukuman Allah kepada para korban. Kita tidak mengetahui rahasia Allah di balik setiap musibah. Namun ayat tersebut memberikan peringatan bahwa manusia memiliki andil dalam kerusakan di bumi. Ketika hutan hanya dipandang sebagai komoditas, tanah hanya dianggap sebagai aset, laut terus dieksploitasi tanpa batas, dan sumber daya alam diperebutkan demi keuntungan, manusia sedang melupakan kedudukannya sebagai khalifah.
Sebagai khalifah, manusia bukan pemilik mutlak bumi. Manusia hanya diberi amanah untuk mengelolanya. Karena itu, pembangunan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak sumber daya yang dapat diambil, tetapi juga dari seberapa mampu kita menjaga keberlanjutan kehidupan. Pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya membuat manusia lupa bahwa alam memiliki batas. Keuntungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengorbankan kebutuhan banyak orang. Sebab ketika manusia mengambil terlalu banyak dari bumi, kerusakan yang ditimbulkan pada akhirnya dapat kembali kepada manusia itu sendiri.
Di sinilah persoalan air menjadi lebih dalam. Kita tidak hanya sedang berhadapan dengan kemungkinan krisis sumber daya, tetapi juga krisis kesadaran. Manusia modern memiliki kemampuan untuk mengambil begitu banyak dari bumi, tetapi sering kehilangan kemampuan untuk mengatakan “cukup”. Hutan terus diambil, tanah terus digunakan, laut terus dikeruk, dan air terus dimanfaatkan, sementara keinginan manusia terus berkembang. Bumi memiliki keterbatasan, tetapi keserakahan manusia seolah tidak mengenal batas.
Islam menawarkan jalan melalui konsep qana'ah. Qana'ah bukan berarti berhenti berusaha atau menerima keadaan tanpa ikhtiar. Qana'ah adalah kemampuan hati untuk merasa cukup atas apa yang Allah berikan setelah melakukan usaha, sehingga seseorang tidak menjadi budak dari keinginannya sendiri. Orang yang qana'ah tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap memenuhi kebutuhan, tetapi tidak membiarkan keinginannya membuat ia mengambil hak orang lain atau merusak apa yang menjadi amanah Allah.
Karena itu, ketika air kembali mengalir nanti, semoga kita tidak hanya merasa lega karena kebutuhan telah terpenuhi. Semoga kita juga membawa pulang pelajaran bahwa air adalah nikmat yang harus dijaga. Kita perlu belajar menggunakannya secukupnya, tidak membuangnya dengan sia-sia, membantu mereka yang sedang kekurangan, dan menjaga lingkungan agar sumber kehidupan tidak semakin rusak. Krisis seharusnya tidak hanya selesai ketika air kembali mengalir, tetapi juga ketika kesadaran kita tumbuh untuk memperlakukan nikmat dengan lebih bijaksana.
Sebab manusia sebenarnya selalu berada dalam ujian. Ketika kekurangan, kita diuji dengan kesabaran. Ketika memiliki kelebihan, kita diuji dengan kepedulian. Ketika memiliki harta, kita diuji dengan kedermawanan. Ketika memiliki kekuasaan, kita diuji dengan keadilan. Dan ketika memiliki kesempatan untuk mengambil lebih banyak daripada orang lain, kita diuji dengan kemampuan untuk menahan diri. Tidak semua ujian datang dalam bentuk kehilangan. Sebagian ujian justru hadir melalui apa yang kita miliki.
Maka persoalan air di Batam dapat menjadi sebuah cermin kecil untuk melihat persoalan manusia yang lebih besar. Kita baru menyadari betapa berharganya air ketika ia sulit diperoleh. Kita baru merasakan arti berbagi ketika persediaan terbatas. Kita baru memahami makna syukur ketika nikmat yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba tidak tersedia. Padahal, seharusnya rasa syukur hadir bukan setelah kehilangan, melainkan ketika kita masih memiliki kesempatan untuk menjaga.
Pada akhirnya, air akan kembali mengalir. Pipa akan selesai diperbaiki, keran akan kembali dibuka, dan kehidupan perlahan kembali normal. Namun jangan sampai setelah air mengalir, pelajarannya ikut mengalir pergi. Jangan sampai kita kembali boros, kembali lupa, dan kembali menganggap semua nikmat sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia. Sebab boleh jadi, yang Allah ingin ubah melalui kesulitan ini bukan hanya keadaan di sekitar kita, tetapi juga keadaan di dalam diri kita.
Ketika air tak lagi mengalir, yang sesungguhnya sedang diperlihatkan bukan hanya betapa berharganya air, tetapi betapa rapuhnya manusia. Kita dapat membangun gedung tinggi, menciptakan teknologi, menguasai ilmu pengetahuan, dan merasa mampu mengendalikan kehidupan, tetapi satu kebutuhan sederhana yang tidak tersedia dapat membuat kita sadar bahwa manusia tetaplah makhluk yang membutuhkan. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, hidup dengan nikmat yang Allah titipkan, lalu pergi tanpa mampu membawa sedikit pun dari apa yang selama ini kita perebutkan.
Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah kapan air akan kembali mengalir, melainkan bagaimana hati kita setelah nikmat itu kembali. Apakah kita menjadi lebih bersyukur, lebih peduli, lebih mampu menahan diri, dan lebih sadar bahwa bumi adalah amanah? Ataukah kita hanya menunggu semuanya kembali normal agar kita dapat kembali menjadi manusia yang sama?
Sebab ketika air tak lagi mengalir, manusia sedang diuji bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk tetap menjadi manusia. Semoga di tengah keterbatasan, kita tidak kehilangan kepedulian. Di tengah kelimpahan, kita tidak kehilangan rasa cukup. Dan di tengah nikmat yang kembali mengalir, kita tidak kembali melupakan Allah, Sang Pemberi segala nikmat.
Karena pada akhirnya, yang paling mengkhawatirkan bukan ketika air berhenti mengalir dari keran, melainkan ketika "asa syukur berhenti mengalir dari hati manusia."
Wallahu'alam bishawab.


0Komentar