Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Sebagai bagian dari generasi muda, sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya kontribusi apa ya yang bisa kita lakukan untuk ikut menjadi bagian dari umat Rasulullah yang cintanya sungguh-sungguh? Dan di sini dua model kontribusi yang bisa kita lakukan adalah yang pertama dengan haqqul ittiba' yakni mengikuti dengan yakin dan kesungguhan.
Kemudian yang kedua adalah memiliki pribadi yang salih dan muslih yakni bukan hanya sekadar menjadi salih untuk dirinya sendiri, tetapi juga mensalihkan orang lain yang ada disekitarnya atau dengan kata lain juga berdakwah.
Mengapa kita wajib berdakwah? Kita punya kewajiban untuk memenuhi misi kita hidup dan berada di dunia ini yakni sebagai Abdullah (hamba Allah), kita juga punya kewajiban untuk amar ma'ruf nahi munkar. Inilah yang disebut muslih atau berdakwah.
Lalu bagaimana dapat dikatakan bahwa dakwah tersebut sudah berhasil? Mungkin dalam kaca mata dunia ada dua ukuran seperti gagal dan menang, tapi percayalah setiap langkah itu ada nilainya. Oleh karenanya bagi orang-orang yang salih dan muslih, mereka akan beranggapan bahwa selama ia berjalan maka selama itu pula ia tetap bernilai dan berharga di sisi Allah.
Jadi, berhasil atau tidak? Selama kita masih berjalan pada jalan yang diridai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka selama itu pula kita akan terus bernilai atau berharga. Berbeda dengan sudut pandang materialis yang hanya mengukur berhasil atau tidak dengan sebuah pencapaian yang terkadang semu.
Kemudian bagaimana caranya membangun mental untuk tetap semangat dan stay on the track? Sesuatu yang telah lama jatuh maka diperlukan waktu yang lama pula untuk membangkitkannya. Termasuk Daulah Islam. Di sinilah kita harus punya mindset marathon–bukan sprinter.
Selain itu kita juga harus ingat bahwa perjuangan ini adalah estafet agar energi kita terus bertahan dan tidak pernah habis. Jika tidak selesai sekarang, maka nanti akan dilanjutkan oleh yang akan datang. Perjuangan dakwah itu jalan terus. Kalau kita memandangnya begitu akhirnya lega dan tidak memikirkan hal yang tidak seharusnya kuda pikirkan.
Sebagaimana perjuangan pembebasan kota Konstantinopel. Dimulai dari bisyarah Rasul, kemudian berlanjut kepada para sahabat sampai kepada Ertugrul, Osman, hingga Sultan Mehmed II. Itu menunjukkan bahwa berjuang itu membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Rasul tidak pernah surut untuk menyampaikan masa depan yang visioner yaitu Konstantinopel pasti ditaklukkan, coba buat social experiment: kita menaklukkan New York? responnya? Pasti dicibir. Tapi sahabat sikapnya tidak begitu.
Sekarang masih ada satu bisyarah yaitu takluknya kota Roma. Bagaimana menyambutnya? hanya jika orang tersebut cinta kepada nabi. Kalau tidak cinta pada Nabi bisyarah tadi seperti omong kosong tanpa dasar. Sambut ia dengan keyakinan, karena merupakan wa'dum minarrasul yang artinya wa'dum minallah, janji dari Allah. Haq dan pasti akan terwujud.
Nah, dakwah ini berkaitan dengan ide dan juga bukti. Oleh karenanya persatuan ini butuh ide yang kuat dan bukti. Dakwah ini penting dan sangat mutlak. Dakwah adalah infinity–perjalanan yang panjang.
Tapi.... Kita sebagai generasi muda juga butuh persiapan. Beberapa di antaranya adalah yang pertama, penanaman tsaqafah–karena tsaqafah adalah kunci. Dari tsaqafah ini kita bisa belajar mind mapping dari Islam. Selain itu Rasulullah juga menginginkan kita untuk menjadi manusia pembelajar.
Kemudian yang kedua adalah berada dalam jama'ah dakwah yang haq dan istikamah di dalamnya. Sebab dakwah tidak bisa dilakukan secara pribadi saja. Akan terasa berat nantinya. Maka bergabung dengan jama'ah dakwah adalah penguat kita agar senantiasa istikamah di jalan perjuangan dan dakwah.
Ketiga, jaga kesehatan juga merupakan hal yang utama. Sebab tanpa kesehatan kita tidak akan mampu untuk melaksanakan seluruh amanah yang ada di pundak kita. Maka, mulailah untuk menjaga kesehatan dengan menjaga makanan dan minuman yang kita konsumsi dengan hal yang halal dan thayyib, serta jangan lupa juga untuk berolahraga.
Lalu yang keempat adalah kemandirian ekonomi politik itu penting sekali. Dalam konteks Islam, financial freedom itu adalah untuk menjaga kebebasan politik dan ideologinya agar tidak terjual karena ujian ekonomi yang mungkin nanti akan menerpa.
Dan yang kelima adalah punya visi misi serta memahami tujuan hidup kita. Itulah dakwah. Keteguhan pada visi itulah yang akan menentukan pilihan kita untuk senantiasa berada pada jalan kebenaran ini.
Maka, dalam ruang kosong kehidupan dan ruang berpikir para pemuda ini kita harus mengisinya dengan tsaqafah Islam dan solusi ideologis. Jangan sampai para pemuda ini termasuk kita di dalamnya malah tercekoki dengan tsaqafah asing. Oleh karenanya inilah sebab lain yang menjadi urgensi berdakwah di tengah-tengah umat.
Teman-teman, Rasulullah adalah Qudwah Hasanah untuk seluruh umat manusia. Baik yang berada di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Kita sebagai manusia butuh kepastian dan arah. Dan risalah Rasulullah hadir sebagai kabar gembira bagi kita.
Maka berbahagia dan bersyukurlah kita menjadi umat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Rasul tak mungkin berada di tempat lain, Rasul pasti berada di surga. Oleh karena itu, ayo kita buktikan dan nyatakan cinta kita dengan ber-ittiba' dalam pikiran, kehidupan, dan perjuangan dalam dakwah. Jadi, sebesar apapun itu tantangan yang hadir menerpa kita, jangan pernah meninggalkan urusan dakwah. Sebab dakwah adalah poros hidup kita.
Wallahu a'lam bish showwab.
_______
Sumber: Resume Event Qudwah Part 2


0Komentar