Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Kita seringkali merasa sebel banget kalau cinta kita dibales dengan cinta yang palsu oleh orang lain. Bahkan untuk ketemu orangnya aja kita enggan. Tapi bagaimana jika Rasulullah yang selama ini begitu mencintai kita sebagai umatnya ternyata kita bales dengan cinta yang palsu?
Ketika dunia penuh dengan pencapaian orang lain, kita merasa kalah. Padahal, ada Rasulullah yang senantiasa membersamai kita. Satu-satunya hal yang menenangkan kita di tengah kepahitan dunia adalah bahwa kita sadar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam senantiasa memenangkan kita di setiap pilihan beliau.
Rasulullah begitu mencintai kita, tapi mengapa kita tak serius dalam mencintainya? Cinta itu bukan sekadar kata-kata. Cinta itu adalah aksi nyata. Kalau mengaku cinta, buktikan dengan ketaatan. Buktikan dengan merealisasikan amalan-amalan yang membuat kita semakin dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Sang Teladan.
Ada satu doa yang beliau ajarkan yang sangat powerfull:
اللهم إنا نسألك حبك، و حب من يحبك، و حب عمل يقربني إلى حبك.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon agar diberikan rasa cinta kepada-Mu, dan cinta kepada orang yang juga mencintai-Mu, dan cinta kepada amalan yang bisa mendekatkan aku kepada apa yang Engkau cintai."
Dan sebenarnya hanya ada 2 kunci atau syarat agar kita bisa dibersamakan dengan Rasulullah. Yakni taat pada Allah dan juga taat pada Rasulullah. Jika kita telah mendapatkan jalan ini, pertahankan. Ini adalah hidayah. Karena hidayah bukan sekadar mengetahui mana yang benar dan yang mana yang salah, melainkan ketika setiap langkah yang kita pilih ternyata semakin mendekatkan kita kepada Rasulullah.
Ada 2 kisah menarik dalam hal ini. Pertama adalah ketika Rasul dan para sahabat baru saja pulang setelah perang dengan suku hawazin (setelah Fathul Makkah). Kemudian Rasul membagikan harta rampasan perang dengan bagian yang lebih banyak kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Kaum Anshar cemburu dan sedih, mereka khawatir Rasulullah akan meninggalkan mereka.
Rasul yang melihat kesedihan mereka juga ikut bersedih dan berkata yang artinya, "Apakah kamu tidak rida orang pergi dengan dunianya, sedangkan kalian bersama Rasulullah?" Di sini perkataan Rasul bukan hanya untuk kaum Anshar, tapi juga untuk kita yang masih sering merasa tertinggal dengan pencapaian dunia orang lain.
Kisah yang kedua adalah tentang Tsauban–sosok sahabat yang sangat besar cintanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ia punya kekhawatiran tidak bertemu dengan Rasul di surga. Kalaupun masuk ngga akan sama levelnya dengan Rasulullah. Itupun kalau masuk, kalau ngga tentu makin jauh lagi jaraknya.
Menariknya kita harus berterima kasih kepada Tsauban. Karena pertanyaan Tsauban itu sangat mewakili kita. Dan ketika Rasul melihat Tsauban bersedih, beliau menjawab dengan surah An-Nisa ayat 69 yang artinya, "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
Ini menjadi kabar gembira bagi kita bahwa kita memiliki peluang dan kesempatan untuk bersama dengan Rasulullah di surga. Sebab, kelak surga bukan lagi hanya tentang sungai yang mengalir atau istana yang megah. Puncak kenikmatan di surga adalah ketika kita diizinkan oleh Allah Subhannahu wata'ala berdiri di hadapan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan beliau mengenali kita sebagai umatnya.
Terakhir, "ketaatan itu bukan harga untuk membeli surga. Ketaatan adalah bukti bahwa kita benar-benar ingin berjalan bersama dengan orang yang kita cintai."
Wallahu a'lam bish showwab.
____________
(Sumber: Kelas Muslim Vox Meet The Prophet 2 Episode 1)


0Komentar