Oleh: Alin Aldini, S.S.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Awal tahun ajaran baru 2026 menyisakan ironi yang patut direnungkan. Di berbagai daerah, sejumlah sekolah dasar negeri justru kekurangan murid, bahkan ada yang tidak memperoleh peserta didik baru sama sekali. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat mengatakan, penurunan jumlah siswa baru terjadi di sejumlah daerah, termasuk Jakarta. Pemerintah, kata dia, akan melakukan penggabungan atau regrouping terhadap sekolah yang terus mengalami penurunan jumlah siswa(tempo.co, 13-07-2026). Namun, persoalan ini sesungguhnya tidak sesederhana menghitung jumlah kursi yang kosong atau memindahkan siswa ke sekolah lain.
Di balik kursi-kursi yang tak lagi terisi, tersimpan sebuah krisis yang lebih mendasar yaitu hilangnya kepercayaan sebagian orang tua terhadap kemampuan sekolah untuk melindungi dan membentuk karakter anak. Pendidikan karakter menjadi poin utama orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang berbasis agama. Hal tersebut disampaikan Sosiolog Pendidikan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta AB Widyanta pada Selasa (7/7), sebagai salah satu faktor turunnya minat siswa bersekolah di SD negeri, seperti yang terjadi di Kota Yogyakarta (antaranews.com, 7-7-2026).
Perubahan struktur demografi memang ikut memengaruhi fenomena tersebut. Angka kelahiran yang menurun, urbanisasi, hingga ketimpangan pembangunan menyebabkan jumlah anak usia sekolah di sejumlah wilayah berkurang. Di sisi lain, tingginya biaya hidup membuat banyak keluarga menunda bahkan mengurangi jumlah kelahiran.
Namun, faktor-faktor itu hanya menjelaskan sedikit hal mengapa jumlah murid menyusut, bukan pada hal mengapa banyak orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta/karakter.
Jawabannya terletak pada rasa cemas rakyat yang semakin besar terhadap arah pendidikan. Hari ini, orang tua tidak hanya memikirkan nilai akademik anak, tetapi juga keselamatan akhlaknya. Berita mengenai perundungan, kekerasan antarpelajar, penyalahgunaan narkoba, pornografi digital, hingga berbagai bentuk penyimpangan perilaku yang melibatkan anak sekolah terus bermunculan.
Kekhawatiran itu mendorong banyak orang tua mencari sekolah yang dianggap mampu memberikan pendidikan agama lebih kuat, seperti membiasakan ibadah, membentuk adab, serta menghadirkan lingkungan yang lebih kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Fenomena ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi pendidikan saat ini, bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak yang cerdas, tetapi juga harus melahirkan generasi yang berkepribadian mulia. Sayangnya, perubahan kurikulum yang berulang kali dilakukan belum mampu menjawab keresahan tersebut. Pergantian istilah, metode belajar, maupun sistem penilaian tidak otomatis menyelesaikan akar persoalan ketika fondasi pendidikan masih dipisahkan dari nilai-nilai yang membentuk kepribadian mulia.
Dalam sistem sekuler-liberalisme, pendidikan lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja daripada membangun kepribadian. Akibatnya, keberhasilan sekolah sering diukur dari capaian akademik dan prestasi kompetisi, sementara pembentukan akhlak kehilangan posisi sebagai tujuan utama. Padahal, kecerdasan tanpa moral dan akhlak justru dapat melahirkan generasi yang pintar, tetapi mudah terjerumus dalam penyimpangan bahkan kriminalitas.
Karena itu, fenomena minimnya murid di sejumlah SD negeri semestinya menjadi alarm keras untuk mengevaluasi arah pendidikan nasional. Persoalan utamanya bukan sekadar distribusi siswa, melainkan bagaimana negara mengembalikan fungsi pendidikan sebagai benteng peradaban. Selama akar persoalan berupa sistem pendidikan sekuler-liberal tidak tersentuh, berbagai kebijakan administratif hanya akan menjadi solusi jangka pendek.
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar sekaligus pilar utama tegaknya peradaban. Negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan berkualitas secara merata dan gratis bagi seluruh rakyat, tanpa membedakan status sosial maupun wilayah tempat tinggal.
Kurikulum dibangun di atas akidah Islam sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan pembentukan kepribadian Islam. Dengan demikian, sekolah tidak hanya melahirkan generasi yang unggul dalam sains, tetapi juga memiliki ketakwaan, tanggung jawab, dan akhlak yang kokoh.
Negara juga berkewajiban menyediakan guru yang berkualitas, sarana pendidikan yang memadai, serta lingkungan sosial yang mendukung tumbuhnya kepribadian mulia. Pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh sistem kehidupan (politik) yang menjaga masyarakat dari berbagai kerusakan moral.
Karena itu, masyarakat haruslah sadar bahwa kerusakan tersebut bukan hanya kerusakan dalam lingkup kecil namun juga bersifat sistemik. Ketika akar masalah berada pada sistem kehidupan yang diterapkan, maka penyelesaiannya pun tidak cukup melalui pergantian kurikulum atau penggabungan sekolah.
Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar menuju sistem Islam yang menjadikan pendidikan sebagai jalan membangun generasi bertakwa, berilmu, dan berkepribadian Islam. Di situlah politik (kehidupan) Islam memiliki peran strategis untuk membangun kesadaran umat agar turut memperjuangkan perubahan sistemik demi masa depan anak-anak dan peradaban Islam.


0Komentar