Oleh: Eci Aulia
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)
Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) meloncat dari gedung setinggi 25 meter. Aksi percobaan bunuh diri tersebut dipicu oleh luapan emosi korban setelah bertikai dengan kekasihnya. (DetikNews.com, 11-9-2026)
Seorang pria berinisial FS (30) ditemukan tewas diduga akibat bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo mengatakan, sebelum ditemukan tewas, FS sempat mempublikasi sejumlah unggahan di media sosialnya terkait keinginan untuk mengakhiri hidup. FS juga mengunggah sebuah bukti transaksi senilai Rp 40 juta yang ia donasikan kepada komunitas kesehatan mental, serta rumah singgah bagi kucing dan anjing liar agar bisa mendapat makanan dan kehidupan yang layak. (kompas.com, 09-09-2026)
Hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat bahwa klien didominasi oleh kelompok usia 21-30 tahun. Ini mengindikasikan bahwa krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda. Masihkah kita diam?
Gambaran fakta di atas menunjukkan betapa sistem sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan telah meruntuhkan keimanan yang menjadi fondasi bagi generasi, sehingga generasi perlahan kehilangan pijakan dan pegangan dalam menghadapi tekanan hidup.
Dalam sistem kapitalis sekularisme tekanan hidup terus menghantam generasi dari segala arah semisal masalah perundungan, drama percintaan, dan masalah ekonomi. Dalam kondisi ini pola pikir individualistik yang lahir dari paham sekular justru ikut memperparah keadaan. Sikap individualis dan anti sosial membuat generasi berjuang sendiri menghadapi masalah hidup, sehingga memicu rasa kesepian atau stres.
Banyak generasi yang secara materi berkecukupan dan secara akademis sangat cerdas, tapi mengalami tekanan mental dan kerapuhan jiwa, merasa sendiri di tengah keramaian. Hati menjerit, merintih, dan berteriak dalam kebisuan tanpa ada yang mengetahui.
Keluarga, masyarakat, dan negara tidak mampu mendeteksi dini terjadinya tekanan mental ini. Karena keluarga dan masyarakat sekular yang individualistik hanya fokus pada urusan pribadi masing-masing.
Negara juga menganggap kesehatan mental menjadi urusan individu tanpa mencari akar masalahnya. Padahal, ini bukan hanya masalah individu, tapi banyak faktor pemicu yang berkelindan di dalamnya dan saling mempengaruhi.
Mulai dari sistem ekonomi kapitalis sekular yang belum menyejahterakan, pergaulan yang kian bebas tanpa batas, perundungan yang semakin marak. Semua permasalahan tersebut sangat riskan terhadap kesehatan mental generasi muda.
Kesehatan mental sangat erat kaitannya dengan keimanan. Tanpa iman yang kokoh maka manusia akan kehilangan pegangan dalam menjalani hidup. Iman ibarat akar yang menguatkan pohon tatkala badai datang. Jika akarnya rapuh maka pohon akan mudah sekali tumbang.
Islam membangun akidah seorang Muslim sejak dini. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam membentuk keyakinan yang kokoh bahwa setiap kesulitan hidup adalah ujian dari Allah Swt.. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu di alam semesta ini telah ditetapkan dan diatur oleh Allah Swt.. Rida dengan ketetapan Allah adalah buah dari iman kepada qadha dan qadar.
Ketika Allah sudah menetapkan sesuatu, berarti itulah yang terbaik bagi hambanya, meskipun hambanya menganggap itu sesuatu yang buruk. Karena baik dan buruk dalam pandangan manusia itu berbeda dengan baik buruk dalam pandangan Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (TQS. Al-Baqarah: 216)
Demikianlah seharusnya keimanan yang mesti dimiliki seorang Muslim. Keimanan yang berakar dari keyakinan penuh kepada Allah Swt. tanpa sedikitpun keraguan di dalamnya.
Akidah yang kokoh juga membentuk ikatan keluarga dan masyarakat yang saling bersinergi dalam mendidik anak dan generasi agar tidak jatuh kepada hal yang diharamkan. Jika dalam keluarga generasi dibentuk dengan landasan rasa cinta kepada Allah, maka di tengah masyarakat amar makruf nahi mungkar berjalan dengan baik dan benar.
Semua ini tentu tidak lepas dari peran negara Islam dalam membentuk individu, keluarga, dan masyarakat yang kuat dengan penerapan Islam kafah. Dalam aspek ekonomi, Islam menjamin kesejahteraan. Dalam aspek pendidikan, kurikulum berbasis akidah Islam, sehingga lahirlah individu yang kokoh imannya dan masyarakat yang kolektif dalam membangun generasi.
Wallahu a'lam bisawwab.


0Komentar