GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Bunuh Diri Merebak, Ada Apa dengan Kesehatan Mental Generasi?

Bunuh Diri Merebak, Ada Apa dengan Kesehatan Mental Generasi?

Oleh: Hesti Nur Laili, S.Psi
(Tim Redaksi Bumi Gurindam Bersyariah)

Kabar duka kembali datang dari Kepulauan Riau. Dalam satu hari, dua kasus bunuh diri terjadi di Kabupaten Karimun. Tepatnya di Kecamatan Kundur dan Kecamatan Tebing, serta menjadi perhatian karena terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan (Batampos, 11 September 2026).

Kasus serupa juga masih menjadi persoalan di Batam. Pada 2 September 2026 lalu, seorang pria berusia 22 tahun di Kecamatan Sungai Beduk ditemukan meninggal akibat bunuh diri. Bahkan, dalam pemberitaan Batamnews sebelumnya melaporkan bahwa dalam tiga bulan pertama tahun 2026, sedikitnya enam kasus bunuh diri telah terjadi di Batam.

Acapkali rentetan peristiwa seperti ini hanya dipandang sebagai persoalan individu yang memilih mengakhiri hidupnya akibat masalah pribadi yang menghimpit. Padahal, ada persoalan yang lebih besar dan serius yang harus kembali ditelaah, bahwa mengapa kasus bunuh diri terjadi secara berulang dan dalam waktu yang berdekatan? Dan ada apa dengan kondisi mental generasi hari ini?

Bunuh diri sering kali menjadi titik akhir dari tekanan yang begitu berat dalam kehidupan seseorang. Namun, kesehatan mental seseorang tidak muncul begitu saja, melainkan ada pemicunya. Cara seseorang memandang kehidupan, menghadapi masalah, menentukan tujuan hidup, hingga mencari jalan keluar dari persoalan sangat dipengaruhi oleh pola pikir yang dibentuk oleh pola asuh, lingkungan dan sistem kehidupan tempat ia berada.

Hari ini, manusia hidup dalam sistem yang banyak mengukur keberhasilan melalui materi, pencapaian, penampilan, popularitas, dan pengakuan sosial. Nilai seseorang mudah dikaitkan dengan pekerjaan, penghasilan, pendidikan, jumlah pengikut, atau standar kesuksesan yang dibentuk masyarakat. Akibatnya, ketika seseorang gagal mencapai standar tersebut, maka akan muncul perasaan gagal, tidak berharga, tertinggal, bahkan kehilangan makna hidup.

Di sisi lain, generasi muda menghadapi derasnya arus informasi dan budaya melalui dunia digital. Berbagai standar kehidupan ditampilkan setiap hari oleh para publik figur dan influencer dengan kehidupan 'wah' nya. Masyarakat dengan mudah bisa melihat pencapaian, kekayaan, penampilan, dan kebahagiaan mereka secara terus-menerus, hingga menciptakan kondisi yang dapat memicu krisis jati diri dan membuat seseorang menjadi pribadi yang sulit memahami untuk apa tujuan hidupnya.

Inilah persoalan yang lebih mendasar. Ketika kehidupan hanya dipandang sebagai tempat mengejar kebahagiaan duniawi, maka mereka akan mudah merasa dirinya gagal tak berguna. Masalah ekonomi, keluarga, pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, maupun tekanan lainnya seolah terlihat seperti jalan buntu ketika seseorang tidak memiliki pandangan hidup yang benar.

Maka, menyelesaikan persoalan bunuh diri tidak cukup hanya dengan mengkampanyekan kesehatan mental atau menyediakan layanan konseling. Upaya tersebut tetap penting, akan tetapi ada hal krusial yang secara bersamaan harus segera diubah, yakni sistem kehidupan yang melahirkan maraknya kasus bunuh diri. Yakni sistem sekuler-kapitalisme yang menjadikan materi sebagai standar kesuksesan seorang individu hari ini.

Islam memiliki pandangan yang berbeda. Kehidupan manusia bukan sesuatu yang sia-sia. Allah Swt. menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dunia juga bukan merupakan tujuan akhir, melainkan tempat manusia menjalani ujian kehidupan sebelum kemudian mempertanggungjawabkan seluruh amal dan menuai semua hasilnya di akhirat kelak.

Dengan pandangan seperti ini, seorang Muslim memiliki alasan untuk bertahan menghadapi segala macam ujian. Segala kesulitan hidup yang didapatkan tidak otomatis dimaknai sebagai tanda bahwa hidup mereka tidak layak dijalani atau bahkan menilai hal tersebut merupakan sebuah kegagalan menjalani hidup. Dalam pandangan islam, ujian justru menjadi bagian dari kehidupan yang harus dihadapi dengan sabar, ikhtiar, tawakal, dan tetap terikat pada hukum Allah.

Islam juga memandang bunuh diri bukan sebagai jalan keluar, melainkan perbuatan yang dilarang syariat. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Larangan ini menunjukkan bahwa nyawa manusia memiliki kehormatan dan tidak boleh dihilangkan karena tekanan kehidupan.

Lebih dari itu, Islam tidak hanya membentuk ketakwaan individu. Islam memiliki aturan kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, masyarakat, hingga negara. Ketika aturan Islam diterapkan secara menyeluruh, kehidupan diarahkan agar tidak semata-mata berpusat pada materi, tetapi dibangun di atas keimanan dan keterikatan kepada syariat.

Kesehatan mental pun tidak dilepaskan dari pembentukan kepribadian Islam. Individu dibina agar memahami tujuan hidup, mampu menghadapi ujian, serta menyandarkan kebahagiaan kepada keridaan Allah, bukan semata-mata kepada pencapaian duniawi.

Karena itu, maraknya bunuh diri semestinya menjadi alarm bagi masyarakat dan negara. Agar jangan berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang salah atau apa masalah terakhir yang dialami korban. Namun lebih jauh, kita perlu bertanya mengapa semakin banyak manusia merasa kehidupan begitu berat hingga tidak menemukan jalan keluar?

Maka yang perlu diubah adalah pola pikir tentang bagaimana menghadapi ujian kehidupan yang berat sekaligus merubah sistem yang melatarbelakangi pola pikir materialistis hingga melahirkan kasus-kasus bunuh diri ini. Karena acapkali pemerintah dengan sistem sekuler-kapitalismenya hanya memberikan solusi tambal sulam tanpa memahami akar persoalannya.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

❤ KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin