GUr8TUW5BUW5TUC0TSz5GUY6

Headline:

Krisis Kesehatan Mental Tuntaskan dengan Islam Kaffah

Krisis Kesehatan Mental Tuntaskan dengan Islam Kaffah

Oleh: Rosmiyati Siregar
(Sahabat Bumi Gurindam Bersyariah) 

Tingginya isu kesehatan mental menunjukan bahwa isu ini bukan lagi masalah yang dapat di anggap remeh dan perlu mendapat perhatian yang besar. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Sumatera Utara menyelenggarakan Seminar Awam Kesehatan Jiwa di Aula RS Prof. dr. CPL USU, Medan, Selasa (22-9-2026). 

Seminar ini bertujan sebagai edukasi dan promosi kesehatan jiwa dan mengajak masyarakat memahami pentingnya kesehatan mental dalam pengasuhan, khususnya dalam menghadapi tekanan, kecemasan, dinamika digital, serta berbagai tantangan dalam hubungan orang tua dan anak. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to World Mental Health Day 2026 dengan mengangkat tema “Parenting for Mental Wellbeing”. Dan menjadi program kerja tahunan PDSKJI Cabang Sumatera Utara guna mendukung pengurangan stigma terhadap masalah kesehatan mental dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa.

Isu kesehatan mental terkususnya mental anak bukan lagi isu yang asing di telinga kita. Setiap bulannya banyak para pakar melakukan edukasi, seminar dan kegiatan serupa demi meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa. Namun banyaknya edukasi dan seminar yang diadakan setiap bulannya itu, tampaknya belum mampu mencegah kenaikan angka isu kesehatan jiwa yang terjadi tiap tahunnya.

Fakta terbaru salah satu mahasiswa universitas swasta di Kota Medan melakukan aksi bunuh diri dengan cara terjun bebas dari lantai 22 kampusnya yang diduga karna depresi. Sumatera Utara berada di peringkat ke-4 secara nasional untuk jumlah kasus gangguan mental pada penduduk usia 15 tahun ke atas dengan total sekitar 36.146 kasus, serta diperkirakan ada lebih dari 20.000 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat di wilayah provinsi. (Kemenkes 2023). 

Adanya aplikasi TrackerMood yang diperkenalkan PDSKJI dan Kolaborasi lintas sektor seperti instansi pemerintah, organisasi, pihak swasta, serta masyarakat saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. 

Kita perlu melihat akar masalah utamanya untuk kita dapat memberikan solusi yang hakiki bukan sekadar regulasi bersifat teknis administratif, tanpa menyentuh akar persoalan.

Penyebab maraknya gangguan kesehatan mental bersifat sistemis. Menurut WHO, selain faktor genetika (keturunan), gangguan kesehatan mental dan kejiwaan disebabkan oleh faktor ekonomi (masalah ekonomi), faktor fisik (trauma pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual), dan faktor sosial (lingkungan sosial yang buruk, termasuk media sosial). 

Berbagai pemicu problem kesehatan mental lekat dengan kesulitan hidup yang mencengkeram masyarakat. Bayangkan saja, Emak dipaksa jadi superwoman, yang harus keluar rumah dan ikut mencari nafkah demi perekonomian keluarga disamping perannya sebagai ibu yang harus tetap mengurus rumah ditengah penurunan daya beli akibat harga barang dan jasa yang cenderung meningkat. Sementara itu, Bapak stres mencari nafkah dari sulitnya lapangan kerja dan maraknya PHK. 

Belum lagi biaya pendidikan mahal serta akses layanan kesehatan yang terus meningkat. Di sisi lain anak menjadi korban karena hilangnya peran dan perhatian orang tua, anak mencarinya di sosial media. Saat mengakses media digital, anak berhadapan dengan gaya hidup sekuler liberal yang dipertontonkan. Misalnya, cyberbullying, FOMO, perbandingan gaya hidup di medsos, dan dorongan konsumsi konten secara terus-menerus.

Kecemasan sosial, hingga gangguan pola tidur akibat screen time pada malam hari menjadi fenomena yang memperburuk kondisi psikologis anak. Peningkatan kasus gangguan jiwa pada anak juga diperparah dengan paparan konten pornografi dan kecanduan game online. Semua ini, memperlihatkan bahwa segala sendi kehidupan berperan menciptakan tekanan pada mental masyarakat sehingga mereka mengalami gangguan. Ini menunjukkan bahwa kehancuran mental masyarakat saat ini bukan semata karena faktor individu yang “lemah”, tetapi merupakan dampak penerapan sistem.

Saat ini negara menerapkan sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini menempatkan manusia semata sebagai faktor produksi yang tenaganya terus dieksploitasi demi berjalannya roda industri dan korporasi. Masyarakat dihadapkan dengan upah yang minim jauh dari standar kelayakan hidup. Akibatnya, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan struktural kian mengakar di tengah masyarakat. 

Selain itu, negara saat ini yang sekadar berperan sebagai regulator, melahirkan aturan yang berat sebelah. Di satu sisi menguntungkan pemilik modal, di sisi lain menekan rakyat dengan berbagai tarif dan pungutan publik yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai pihak yang wajib dilindungi negara. Beban ekonomi pun bertambah, penghasilan stagnan, bahkan berkurang akibat kebijakan yang tidak pro rakyat. Selain itu, sistem pendidikan sekuler terbukti gagal membentuk karakter dan kepribadian Islam yang kuat. 

Pendidikan sekuler yang berlangsung selama puluhan tahun di negri ini, terbukti hanya menghasilkan individu sekuler, materialistis, hedonistis, rapuh secara psikis, dan jauh dari kemuliaan. Akhirnya kesehatan mental masyarakat gampang terguncang oleh berbagai persoalan hidup, baik ringan maupun berat. Karena masalah ini terintegrasi dengan sistem dan tata aturan kehidupan maka harus diselesaikan secara fundamental dan sistemik.

Sistem sekuler kapitalisme telah gagal dan terbukti tidak mampu menjaga kewarasan manusia. Selama sistem ini terus dipertahankan, seribu kali pembahasan terkait parenting, isu kesehatan mental dalam forum forum diskusi dan seminar tidak akan mampu menuntaskan masalah ini secara tuntas, mental kita akan tetap lelah diatara banyaknya pembahsan terkait isu kesehatan mental.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan secara komprehensif, baik secara personal maupun sistemis. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan, keluarga bukan hanya soal teknik parenting semata, tapi tentang suasana iman (jaww imani). Setiap anggota keluarga, baik ayah,ibu, dan anak butuh memahami hubungan mereka dengan Allah yang maha menciptakan. bukan cuma self-healing dan wellbeing ala Barat. Kesehatan mental merupakan urusan yang tidak bisa dilepaskan dari keyakinan mendasar tentang kehidupan.

Ideologi Islam memandang bahwa akidah merupakan dasar tempat masyarakat berpijak. (Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Islam, hlm. 52). Hal Ini menjadikan segala penyelesaian persoalan kehidupan manusia selalu berasas kepada akidah tersebut. Dengan akidah Islam, lahirlah individu yang bertakwa. Jiwanya kukuh, tidak mudah cemas maupun depresi. Hal ini menjadi perlindungan internal dari masalah mental.

Negara dalam sistem Islam menerapkan syariat Islam secara menyeluruh untuk mewujudkan jaminan kesehatan mental bagi seluruh masyarakat. Negara menjalankan tugasnya sebagai raa’in atau pengurus rakyat secara serius. Secara mendasar, negara akan menanamkan akidah Islam melalui sistem Pendidikan dan kurikulum yang berlandaskan akidah Islam. 

Penanaman akidah melalui proses berpikir inilah yang akan membentuk kepribadian islam dengan pola pikir dan pola jiwa yang Islami, menancapkan akidah yang kuat dalam benak dan jiwa setiap individu yang akan menjadi dasar atas semua pemikiran, perasaan, ucapan, dan tingkah laku setiap individu sehingga senantiasa tertaut pada tali agama Allah, meski sedang mengalami masalah terberat sekalipun.

Di samping itu dalam Islam, salah satu tujuan penerapan syariat adalah mewujudkan pemeliharaan atas jiwa. Jika hari ini masalah kesehatan jiwa banyak kita temui, sesungguhnya hal ini tidak lepas dari paradigma sistemis. Dalam Islam, negara berperan dalam menciptakan kondisi yang sehat bagi masyarakat. Mulai dari sistem sosial, ekonomi, politik berdasarkan kacamata syariat.

Dukungan sistem ekonomi Islam yang menjadi hal terpenting bagi sebuah keluarga, negara akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat secara optimal dengan menetapkan harga pangan murah agar seluruh rakyat mudah mengaksesnya. Negara juga berkewajiban membuka lapangan kerja seluas luasnya bagi para wali agar mampu menafkahi apa yang menjadi tanggungannya. Dengan mengoptimalkan industri berat, pengelolaan tambang, dan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara. Sementara itu, kaum ibu dapat fokus mengasuh dan mendidik anak tanpa beban ganda seperti saat ini.

Dari aspek sosial, negara sangat memahami kontribusi yang bisa diberikan keluarga bagi keberlangsungan peradaban. Sebagai institusi terkecil dalam kehidupan bernegara, keluarga berperan menjadi sekolah pertama bagi generasi. Aspek politis keluarga ini membutuhkan ilmu dan ketangguhan pasangan suami dan istri dalam mendidik anak-anak mereka. Negara juga akan menyediakan pendidikan dan layanan dasar kesehatan secara gratis dan berkualitas. Sehingga masyakat akan mudah memanfaatkannya untuk kehidupan berkualitas mereka.

Inilah mekanisme Islam dalam mewujudkan kesehatan jiwa secara komprehensif. Mekanisme tersebut tidak hanya fokus menciptakan ketenangan pada aspek individu, tetapi juga mencipatakan ketenangan secara sempurna dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Karena sejatinya menjaga kesehatan jiwa, berawal dari sistem yang sehat bukan sistem yang rusak. 

Wallahualam bissawab.
Daftar Isi

0Komentar

Follow Pasang Iklan
Follow Pasang Iklan
D

disclaimer: Bumigurindambersyariah.com memberikan ruang bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan yang khas memenangkan opini Islam serta memihak kepada kaum Muslim.

Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain.

Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Bumigurindambersyariah.com. Silakan mengirimkan tulisan Anda melalui link ini kirim Tulisan

❤ KLIK

Support Dakwah Bumigurindambersyariah.com

Donasi akan mendanai biaya perpanjangan domain dan aktivitas dakwahnya.

Formulir
Tautan berhasil disalin